Amnesia disorder cultural

Oleh : Dr. Ir. Hadi Prajoko. SH, MH.

_*HILANG NYA MEMORI CULTURE DAN MENJADI AMNESIA*_

Baik, kita bedah “Malam Satu Suro versi Kejawen asli” pakai sudut sosiologis &historis SERTA dampak spiritual-filosofis. Tampa marah’ marah tetap bahagia selalu, tampilkan senyuman

Marilah Fokuskan pada kemurnian dalam kerangka Bumi Putra, kalender, dan memori budaya Jawa.

1. Sejarah Malam Satu Suro Versi Kejawen Asli

*A. Asal-usul Kalender Jawa*
Kalender Jawa asli itu sistem filosofis _Saka dan Pranatamangsa , wuku serta Weton_. Merupakan Cakra Manggilingan Bukan kalender garis lurus Masehi, Hijriyah apalagi model kalender timur tengah dari gurun pasir, yg punya historis konflik.

1. *Saka*: Dimulai tahun 78 M. Tahun baru Jawa = 1 Sura/Suro, ini problem awal, karena kesepakatan orientalis Barat untuk dipaksa agar menyerah pada *saka India* dengan _konsensus Delhi 1951_ di India, akhirnya Indonesia harus terpaksa mengikuti saka India, dan tidak punya pilihan serta kreativitas NALAR mati dari sinilah kita kehilangann memory culture and akar kebudayaan Kita sebagai bangsa, hilang sirna, kita tidak sadar telah memusnahkan sejarah peradaban 2000 tahun dari leluhur sendiri yg telah menandai & dibangun seribu tahun sebelum Masehi dan Hijriyah.

2. *Pranatamangsa*: Kalender pertanian 12 mangsa. Fungsinya ngatur tanam, panen, mengatur kelahiran anak, mengatur hubungan spiritual dgn Tuhan dan semesta, kapan saatnya ritus dan ritual kepercayaan untuk upakara mengharmoniskan micro dan Macro cosmik, mengatur musim hujan-kemarau. Ini “kalender kerja” petani, tetapi juga sebagai penanda dari kelahiran peradaban Nusantara dari sisi spiritual dan budaya, sebagai filosofis dasar ilmu TITEN.
3. *Weton*: Siklus 5 hari Pasaran + 7 hari Saptawara adalah 36 hari. Dipakai ngukur watak, hari baik-buruk untuk ruah desa’, nyadran, dan ritual kepercayaan lainnya

*B. Makna Malam 1 Suro Asli*
Akhirnya terjadi HIBRIDA jalan tengah kompromi politik karena terpaksa menyerah maka Malam 1 Suro awalnya malam pergantian tahun Saka, pergantian pranata mangsane dan waruga serat sasi. Sebagai penanda kaum – Bangsa kalah yg maknanya bukan “keramat/angker”, tetapi diambil sebagai jalan tengah untuk peristiwa peradapan baru lahir, tetapi mengisi makna Jawa-sunda Bali, Madura dst nya dengan pandangan pada 3 hal:
1. *Tapa Ngelmu*: “Suro” dari kata _Asuro_ artinya berpuasa, Poso (ngepasno roso) bertapa. Raja-raja dahulu Mataram Kuna dan diteruskan sampai Mataram Islam pakai malam ini untuk tujuan _tirakat_ artinya berserah diri kepada Tuhan, Kesadaran, menyepi, introspeksi diri , mohon wangsit, mohon petunjuk alam biar tahun depan lebih baik, misalnya dapat pemimpin adil, rejeki melimpah, jauh’ dari mara bahaya, tidak ada begebluk , Ini model laku _Rasa Tunggal_ harmoni semesta nyambung ke Gusti.( Tuhan Maha Esa)
2. *Cakra Manggilingan*: Konsep waktu Jawa itu melingkar. Bukan garis lurus seperti Hijriyah dan Masehi, 1 Suro mula mula adalah titik balik roda. Zaman tua “sirna”, zaman baru “ngrembaka”. New Era Makanya ada laku “padusan” ritual mandi suci di sumber mata’ air bagi anak cucunya dan masyarakat, dengan Simbol: membuang “cala” tahun lama, tumbuh lahir batin baru, nalar intuitif semakin tajam dan Landep. Penginderaan hidup.
3. *Tata Titi Sasi*: Ini merupakan “rapat kerja” alam dan manusia. Pranatamangsa ganti mangsa. Petani menghindari paceklik cek: sudah waktunya nyebar benih atau belum. Nelayan apa sudah waktunya menyebarkan jala, dan penguasa Raja cek: pajak rakyat, dengan menjamin keamanan, irigasi siap atau belum.

Jadi inti Malam 1 Suro asli adalah *”evalusi dan penyucian serta penyelarasan”* antara manusia, alam, Gusti (TUHAN ) Bukan ritual mistik horor, PESUGIHAN, tetapi ngruwat kolo ( memenage nafsu ANGKARA murka) agar Bisa dikendalikan dan diselaraskan dengan nilai luhur kebaikan.

2. Penjelasan Sosiologis: Kenapa Makna terus “Diubah-Ubah”

Ini fenomena sosiologi dan politik yang disebut HIBRIDA atau _”akulturasi dan reinterpretasi kekuasaan”_…. fakta sosial nya yg hidup Kerakusan para pengemban butho kolo, berebut kekuasaan.

*Fase 1: Mataram Kuna – Majapahit*

1 saka diganti 1 Suro Nusantara kehilangan ke murnian dahulu laku kaweruh Jawa – Kejawen: tapa, ziarah leluhur, tirakat, Poso, pensucian jiwa, Sehingga Para Raja menjadi _Ratu Adil_ yang laku nyelarasake Tri Tangtu: Ramu-Resi-Ratu.

*Fase 2: Mataram Islam abad 16-17*
Sultan Agung bikin _Kalender Jawa Islam_ tahun 1633 M. Tujuannya membuat kalender HIBRIDA untuk tujuan sosiologis: menyatukan 2 sistem biar administrasi , pajak rakyat dan perang jalan. YANG terjadi 1 Suro disamakan dengan 1 Muharram.
Dampak sosiologisnya: makna “tapa Asuro” ketiban, dan campur baur makna baru “Asyura” menjadi liar, Tradisi lama tidak dihapus, tapi ditumpangi makna baru. , akhirnya eror system’ , otak cultural sistem ngadat, Ini strategi dan tragedi , kecelakaan ekologis madsunya agar _wadah lentur, jati teguh_ biar masyarakat tidak konflik, terapi menyimpan bara api. Jejak peradaban leluhur Yg sudah juta-an tahun dimusnahkan.

*Fase 3: Kolonial Belanda + Orde Baru*

Belanda butuh arsip rapi, butuh strategi untuk Bisa menjajah Nusantara seribu tahun maka dipaksakanโ†’ _kalender Masehi jadi standar negara._ inilah yg dinamakan Makna _”jaman Brawijaya gingsir”_ dengan STIGMA *sirna ilang kertaning Bumi* menjadi Bangsa budak, bangsa kalah akhirnya tunduk sama “tahun 1478” jadi kalender India mengikuti konsensus Delhi 1951 dan dari sinilah awal Nusantara, akhirnya sejarah murni leluhurnya menjadi folklor dan mitologi fiksi, dan difilm kan dalam drama sinetron Prabu Siliwangi dikalahkan oleh Para wali dan ustadz timur tengah, dibunuh dg senjata M-16 buatan Amerika.๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜‚
Pada Orde Baru: 1 Suro dipopulerkan media sebagai “malam keramat, pantai selatan, ratu kidul” pencabut nyawa, makan tumbal, istrinya sultan agung Hamengkubuwono menjadi gugon tuhon jadi semacam rahasia Yang menakutkan misteri Mak Lampir , semestinya Fungsi aslinya sebagai “evaluasi tahun dan penanda tetesing Wiji-benih manusia Nusantara dan merupakan Sangkan Paran tetapi akhirnya Pranatamangsa” dibunuh & hilang sehingga berubah – Ganti makna jadi komoditas, wayangan ngruwat dengan bayar jutaan rupiah, jadi bisnis dagang ritual, pariwisata dengan diisi cerita mistik, menakut nakuti rakyat agar takut kembali pada sejarah budaya leluhur nya diganti dengan ajaran Baru, budaya Asing luar yg membuat orang-orang Nusantara akhirnya amnesia dan gila, Ini strategi politik cultural sosiologi: _komodifikasi budaya_. Untuk menjadi bangsa hedonis, yg bayar Ruwatan mahal dikibuli akan jadi PESUGIHAN dan kaya raya misi ketuhanan dan kemanusiaan menjadi misteri kekayaan, lupa nilai luhur , lupa sejarah dan ajaran ajaran ibu Pertiwi.

*Akibat sosiologis*: Generasi sekarang kenal 1 Suro dari TikTok/YouTube yg diinjeksi oleh raja’ Sulaiman Turkey sebagai penerus Baginda nabi dan “tempat angker”, bukan dari “buku Pranatamangsa”. Memori internal Jawa – Sunda tumbang & putus.

3. Penjelasan Historis: “Kehilangan Memori Kalender” adalah bentuk kehilangan memori peradaban leluhurnya dan memuja muji kebudayaan Bangsa timur tengah dan Romawi, sebagai kiblat Spiritual budaya peradapan nya.

Data sejarahnya seperti ini:
1. *Prasasti hilang*: Prasasti terakhir Mataram Kuna 1433 SM. Setelah itu 100 tahun “zaman gelap” tanpa prasasti batu, tanpa Nalar Waras, bahasa simbul dan ilmu titen musnah, Catatan pindah ke _babad dan serat serta tutur lisan_. Babad Yang ditulis pada tahun 1700-an, Yg berkiblat ke Babilonia kebudayaan adam dan hawa , dan Para nabi Nabi gurun pasir akhirnya menjadi rawan “dramatisasi”. Dan jadi KULTUS spiritual masyarakat.
2. *Pergeseran pusat*: Majapahit “surup” owah gingsir dan 1450-1527. Demak naik 1475. Mataram baru berdiri 1586. Selama 150 tahun itu pusat kekuasaan sering ber- pindah-pindah. Arsip, dokumen , lontar Suci dan ahli kalender tercerai-berai, data palsu dibuat oleh penjajah orientalis Barat dan Arab untuk mengaburkan pandangan atas leluhurnya sendiri.
3. *Kolonialisasi waktu*: VOC mewajibkan semua transaksi pakai Masehi. Kantor, sekolah, gereja, masjid pakai Masehi. Kalender Saka & Pranatamangsa hanya boleh dipakai di desa. Dan dianggap sebagai ajaran sesat Lama-lama “Para Brahmana ,resi, MPU dan pujangga desa mati, dibunuh dianggap dukun santet yg muncul *ahli nujum* lmunya dari ajaran agama timur tengah, penuh ngibul dan cabul sehingga semua warisan budaya luhur disetubuhi dg budaya Asing, sehingga karya tulis yg telah ditulis seribu tahun hilang & kalau pun tersisa tidak Bisa diturunkan ke anak cucunya, bahkan sering dianggap ilmu Syirik.

Jadi “amnesia” itu bukan karena 1 orang & 1 raja. Tapi proses penjajahan berlangsung dari sejarah 400 tahun: pembunuhan kalah perang + pindah ibu kota + kolonial + negara modern, masyarakat linglung amnesia.

4. Dampak Terhadap Prinsip Spiritualitas, Teologis, Filosofis, Budaya, Kita musnah berantakan tanpa sisa

*A. Dampak Spiritualitas Teologis*
1. *Hilangnya “Rasa Tunggal”*: Aslinya 1 Suro dan tapa menyepi, mengolah rasa, Budi dalam cipta rasa karsa mencari – nggoleki, mendekat kan diri kepada Gusti (Tuhan) Sekarang jadi “ngelmu kebal + pesugihan”. Wisata kuliner, rebutan panganan yg, rebutan tumpeng seperti orang gila dari Fokus olah jiwa geser dari batin ke benda benda makanan, lucu’ dan konyol seperti ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™
2. *Ganti “Niskala” jadi “Takut”*: Aslinya “Niskala” jati diri dan alam gaib diselaraskan, bukan dilawan. Harmonisasi spiritual Sekarang 1 Suro adalah malam “paling angker, jangan keluar”, ketakutan dan tidak ada senyum bahagia, dan akhirnya Spiritualitas berubah dari “guyub” jadi “fobia”, ketakutan DOKMA DOKTRIN KULTUS.

*B. Dampak Filosofis*
1. *Hilangnya “Cakra Manggilingan”*: Filosofi Jawa-Sunda-Bali: runtuh akhirnya kiamat. Runtuh seharusnya muncul wiji lahirnya kesadaran baru. Karena makna 1 Suro jadi “tanggal pasti 1478”, orang Jawa lupa filosofi “sirna artinya benih baru”, HIBRIDA amnesia disorder.
2. *Hilangnya “Memetrik”*: Filosofi “alon-alon asal kelakon”. Kalender Pranatamangsa ngajarkan sabar nunggu mangsa. Setelah Ganti kalender Masehi – Hijriyah โ†’ semua harus cepat, dipaksa deadline. Watak Jawa -sunda – Bali menjadi _”grusa-grusu”, tanpa perhitungan yang matang sepertinya kesurupan massal._

*C. Dampak Budaya*
1. *Putusnya Pranatamangsa*: Petani muda tidak kenal “Mangsa Kasa, Karo, Katelu”. Akibat: gagal panen, nelayan akhirnya puasa tidak melaut seratus tahun, karena tanam tidak sesuai musim, ikan dan laut dikuras tanpa memberikan ruang hidup. Ini kerugian ekonomi nyata.
2. *Budaya jadi “kostum”*: Seren Taun, 1 Suro hanya dipakai untuk foto, pentas seni, wisata kuliner, pesta karak karakan, Makna “silih asah , silih asuh” silih asih hilang. Budaya jadi kulit tanpa isi, seni tanpa jiwa’.
3. *Amnesia identitas*: Orang Jawa lebih hafal “1 Januari resolusi” daripada “1 Suro atau 1 saka untuk tirakat”, Ngudi bathin, Identitas Nusantara khususnya “wong Jawa urip neng jaman” ganti jadi “wong Jawa urip neng kalender tanggal”. Masehi dan Hijriyah.

5. Solusi “Nalar Waras” Versi Bumi Putra

Leluhur ngajari: _”Wong Jawa urip neng jaman, dudu neng tanggal”_

*Langkah pemulihan:*
1. *Pulihkan Memori Siklis*: Baca 1 Suro/1saka sebagai “titik balik roda”, bukan “tanggal mati”. Bukan Bangsa kalah perang dan jadi budak budaya asing, seharusnya di Ajarkan anak cucunya diberikan wewarah ajaran luhur walaupun Bangsa runtuh tetapi diharapkan tumbuh wiji baru, generasi waras Nalar, sadar akan warisan budaya le-luhur
2. *Pulihkan Pranatamangsa*: Masukkan 12 mangsa ke pelajaran SD desa. Biar petani muda bisa memahami ilmu”titen” dan kembali ke alam Bumi Pertiwi lagi.
3. *Pulihkan Laku Asli*: Malam 1 Suro adalah malam evaluasi diri , keluarga + sedekah bumi, nyadran + air sumber dan padusan. Bukan berburu “pesugihan”. Memusuhi LELUHUR nya sendiri Fokus ke Sila 2 dan Sila 5 Pancasila.

*Kesimpulan*:
1 Suro asli itu “software” Jawa-Sunda-Bali dstnya untuk restart tahun. Ketika “software” dipaksa jalan di “hardware” Masehi, & Hijriyah menjadi error, ngadat , makanya Tugas kita sekarang bukan nyalahi sejarah, tapi _reinstall softwarenya_ lewat laku Jati Niscala, tumbuhkan kesadaran masyarakat bangsa tentang jati diri dan identitas budaya luhur.
_Bila ada kekurangan Bisa ditambahkan sehingga lebih mulia_
_ silakan baca pelan pelan-

TTD

Gus WARAS Nalar

_Sudah saatnya bekerja dg shofware Bumi Pertiwi bukan adopsi kebudayaan penjajah dari gurun agar waras tidak error_

_Hadi Prajoko, sang pemandu_