
Catatan Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH, MH Ketum PP HPK.
Islamisasi di Tanah Jawa tidaklah berlangsung secara linier, damai, atau total. Melainkan sebuah proses panjang dan penuh pergulatan bahkan konflik yang panjang, proses ini memunculkan bentuk perlawanan kultural terhadap ortodoksi Islam. Kaum abangan, sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kelompok masyarakat Jawa yang memeluk Islam secara kultural namun mempertahankan praktik-praktik tradisional Kejawen, telah menjadi aktor utama dalam upaya mempertahankan warisan tradisi pra-Islam dengan corak Hindu-Buddha yang kental dan telah mengakar dalam kosmologi dan kehidupan sosial mereka selama berabad-abad.
Sejak masa awal Islam di Jawa, khususnya sejak berdirinya Kesultanan Demak, Pajang, dan kemudian Mataram Islam, Islam digunakan oleh para elite kerajaan sebagai instrumen legitimasi kekuasaan. Meskipun para penguasa Jawa menyandang gelar-gelar Islam dengan atribut ke-Araban, namun pada prakteknya raja atau sultan Islam Jawa masih menyisipkan gelah tradisional seperti Panembahan, dengan praktik spiritual dan upacara keraton yang tetap sarat dengan elemen Hindu-Buddha dan animisme lokal.
Upacara seperti sekaten, grebeg, serta slametan dan penghormatan terhadap roh leluhur tidak dihapuskan, bahkan justru dilembagakan oleh istana. Sultan Agung Mataram, misalnya, menciptakan kalender Jawa yang merupakan hasil sinkretisme antara kalender Islam Hijriah dan kalender Hindu Saka, menandakan upaya untuk menjembatani Islam dengan warisan kosmologi Jawa yang lebih tua. Islam, dalam konteks ini, tidak berfungsi sebagai sistem normatif yang mendominasi, tetapi sebagai kulit simbolik bagi kekuasaan tradisional Jawa.
Didalam masyarakat, kaum abangan mempertahankan tradisi yang mencerminkan akar Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal seperti slametan (ritual komunal untuk keselamatan), maulidan (peringatan kelahiran Nabi yang bercampur dengan kesenian dan sesajen), ruwatan (ritual tolak bala), dan penghormatan terhadap leluhur. Bagi kaum abangan, praktik-praktik ini bukan bentuk pembangkangan terhadap Islam, melainkan ekspresi dari Islam mereka sendiri, yaitu Islam yang membumi dalam budaya Jawa dan tidak tunduk pada ortodoksi fiqih atau teologi Timur Tengah.
Ricklefs, dalam Islamisation and Its Opponents in Java, menunjukkan bagaimana proses Islamisasi ortodoks di Jawa justru menghadapi tembok tebal dalam bentuk kultural, alih-alih perlawanan senjata. Bahkan pada abad ke-19 dan 20, ketika gerakan pembaruan Islam seperti Muhammadiyah dan kemudian NU mulai mendominasi lanskap keagamaan Indonesia, penetrasi Islam ortodoks di wilayah pedesaan Jawa tetap tidak mutlak.
Islam yang berkembang di banyak wilayah pedalaman tetap bercorak lokal, dan kaum abangan tetap berpegang pada sistem nilai yang tidak sepenuhnya sejalan dengan syariat. Hal ini bisa dilihat di wilayah-wilayah seperti Banyumas, Gunungkidul, Blora, Ngawi, dan sebagian wilayah Mataraman di Jawa Timur. Bahkan hingga kini, dalam peta pemilihan umum atau kecenderungan politik, wilayah-wilayah tersebut masih menjadi basis kekuatan politik yang dekat dengan nasionalisme sekuler dan bukan Islam politik.
Penelitian Clifford Geertz dalam The Religion of Java membagi masyarakat Jawa ke dalam tiga tipologi, abangan, santri, dan priyayi, yang menyatakan bahwa kaum abangan adalah bentuk Islam yang tidak mementingkan ritual ibadah formal seperti salat lima waktu atau puasa Ramadan, tetapi mengedepankan harmoni sosial dan ritual kolektif. Mereka tidak menolak Islam, tetapi mengartikulasikannya dalam kerangka budaya lokal. Penelitian ini kemudian dilengkapi dan dikritisi oleh Ricklefs yang menilai bahwa ketegangan antara kaum abangan dan ortodoksi adalah proses yang dinamis dan terus berlangsung dalam sejarah Indonesia modern.
Dalam konteks modern, ketegangan ini juga tercermin dalam benturan antara nilai-nilai pluralisme budaya dan semangat purifikasi Islam. Kaum abangan, meskipun terpinggirkan secara politis dan simbolik dalam beberapa dekade terakhir akibat meningkatnya konservatisme dan dakwah transnasional, tetap eksis dan memainkan peran penting dalam mempertahankan wajah Islam Indonesia yang toleran dan akomodatif terhadap keragaman budaya.
Dengan demikian, Islamisasi Jawa bukanlah kisah sukses pemurnian ajaran Islam di tengah masyarakat yang menerima begitu saja kehadiran ortodoksi. Sebaliknya, ia adalah sebuah arena tarik-menarik antara pemurnian dan pelokalan, antara skripturalisme dan kebudayaan, antara dakwah dan perlawanan kultural. Kaum abangan adalah penjaga warisan Jawa yang diam-diam, tetapi konsisten, menolak tunduk pada tekanan ortodoksi yang berusaha menyeragamkan ekspresi keagamaan dalam masyarakat multikultural seperti Jawa.
