Ba’alawidan Cacat Logika (1)

 

Oleh : KRAT. FAQIH WIRAHADININGRAT.

DEFINISI LOGICAL FALLACY
Kesalahan dalam cara berpikir dan menyusun argumen yang menyebabkan kesimpulan yang salah dan tidak masuk akal.

BENTUKNYA
* Logika yang keliru.
* Bahasa yang menyesatkan.
* Emosi yang tidak tepat.

ASAL KATA
Istilah fallacy diambil dari bahasa Latin, yaitu fallacia yang berarti deception. Deception dalam bahasa Indonesia artinya tipu muslihat atau penipuan. Dengan kata lain, argumen yang dilontarkan oleh seseorang yang tidak terbukti kebenarannya dan berpotensi menipu orang lain.

IDENTIFIKASI
* terdapat kesalahan dalam logika berpikir
* biasanya diterapkan dalam argumen
* ada indikasi kesan menipu kepada orang lain

JENIS DAN CONTOH
Ada 24 jenis cacat logika dimana Ba’alwi dan Muhibbinnya seolah keranjingan menggunakannya. Hal itu mereka lakukan entah karena DISENGAJA sebagai upaya dari penyesatan sistematis, atau memang TIDAK SENGAJA sebagai bentuk kebodohan semata. Hanya Allah dan mereka sendiri yang tahu motif dan tujuannya. Yang jelas hal ini harus dibongkar demi membebaskan umat dari perbudakan spiritual yang mereka lakukan.

Berikut ini Logical Fallacy tersebut berdasarkan contohnya :

1. AD HOMINEM
Merupakan sesat pikir dimana saat kedua pihak melontarkan argumen, satu pihak malah membahas kepribadian pihak lainnya. Biasanya mereka yang kalah argumen akan mencoba membunuh karakter kepribadian dari lawan argumennya. Contoh ketika sedang meluruskan nasab Ba’alwi, lalu pihak mereka melakukan penghinaan pribadi kepada yang meluruskan.

2. HASTI GENERALIZATION
Bisa jadi ada pihak yang meluruskan nasab Habaib memang memiliki kelemahan secara pribadi atau metodologi. Dan hal ini segera digeneralisasi atau dipukul rata kepada semua pihak yang ikut meluruskannya.

3. STRAWMAN
Biasanya ini metode penyesatan yang memakai penggembira atau supporter. Ketika terjadi adu argumen, ada pihak lain yang menyimpulkan dengan cara yang salah dan digunakan sebagai senjata oleh pihak rekannya.

4. POST HOC
Sebuah argumen dimana suatu pihak terlalu melebih-lebihkan sesuatu dan terlalu mempercayai suatu hal. Tidak cukup itu saja, lawan bicaranya juga ditekan agar ikut mempercayainya.
Misal ketika Ba’alawi menyampaikan bahwa datuknya ada yang Mi’raj ke langit 70x dalam semalam, atau bentuk cerita karomah bombastis lainnya. Dan apabila sampai tidak percaya digeneralisasi seperti orang yang tidak percaya kepada mukjizat Nabi, yaitu orang yang tidak beriman dan tidak berhak dapat syafaat Nabi.

5. CIRCULAR REASONING
Argumen yang terus diulang-ulang tanpa bukti yang kuat. Misal berargumen bahwa Habaib itu nasabnya asli dzurriyah Nabi karena sudah disahkan oleh Lembaga Pencatat Nasab mereka yaitu MDRA. Ketika ditanya apa buktinya? Jawabannya kembali lagi ya karena sudah disahkan oleh RA, dan RA itu lembaga paling shohih sebagai pencatat keturunan Nabi.