Penghargaan Kepada Tokoh Pelestari Candi Lwang Wentar diacara Pra Bedah Buku Candi Lwang Wentar dan Perjalanan Prabu Hayam Wuruk di Balai Desa Sawentar Kanigoro Blitar

Blitar-acata Pra bedah buku Candi Lwang Wentar dan Perjalanan Prabu Hayam Wuruk Raja Kerajaan Majapahit yang diadakan Minggu, 25 Agustus 2019 cukup menarik dan berjalan sukses. Berikut ini;

Tepat pukul 10.00 wib acara Pra Bedah Buku dimulai. Seluruh peserta yang terdiri tokoh budaya, pejabat desa, akademisi, babinsa, katang taruna, Babinsa, pelajar, pembicara dan moderator memasuki ruangan.

Acara diawali dengan pembacaan doa dan berlanjut menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian Ki Djaelani selaku ketua panitia dan ketua lembaga adat menyampaikan ssmbutanya, bahwa buku tersebut jika sudah tercetak akan diwariskan kepada generasi mendatang. Sehinga akan tahu budaya keluhurnya. Melalui kisah yang dikisahkan didakam buku itu. Juga kita menggali budaya leluhur lebih dalam.

Sambutan selanjutnya adalah dari H.Sunoto selaku kepala desa Sawentar Kec. Kanigoro Kab Blitar menyatakan, bahwa setuju digelarnya pra bedah buku. Karena akan menuliskan kisah leluhur yang baik Sehingga nantinya akan diketahui generasi yang akan datang.

Oleh karena itu saya mendirikan lembaga adat untuk mengurusi candi Lwang Wentar yang berada di desa Sawentar. Untuk itu saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh pengurus lembaga adat yang meneruskan dan melestarikan budaya keluhur.

Setelah acara sambutan dua tokoh penting di Desa Sawentar dilanjutkan dengan pemberian penghargaam kepada Tokoj Pelestari Candi Lwang Wentar. Diantaranya H. Sunoto Kepada Desa, Ki Djaelani Ketua Lembaga Adat, Ki Jontor Soswanto Budayawan, Drs. Haryadi Pegiat Cagar Budaya Tulungagung, Agus Sulus Tyo dari Perhutani, Hartono Kasi Disbudpar Kab Blitar.

 

Sedangkan Bagus Putu Parto pengusaha Kue Kalimasada dan Moch Agus Slamet, SE, MM penasehat  Obyek Wisata Water Park tidak bisa datang untuk menerima penghargaan. Karena ada kegiatan bisnis. Nanti akan diserahkan saat lainching dan telah tercetak 1000 buah buku.

Satu persatu mereka menerima penghargaan dari Drs. Husnu Mufid, MPdI selaku Owner Penerbitt Menara Madinah. Rasa bahagia dan bangga terlihat diraut wajah mereka. Mengucapkan terimakasih. Kemudian istirahat minum kopi dan teh serta makanan khas desa Sawentar.

Setelah acara istirahat selesai dilanjutkan acara inti yaitu bedah buku. Pembicara pertama adalah Husnu Mufid selaku penulis menyatakan. Bahwa Candi Lwamg Wentar kondisinya masih utuh 80 persen masih asli. Dulunya tempat singgahnya Raja Hayam Wuruk.

 

“Saya berharap juga sebagai tempat singgahnya para wisatawan. Kedepannya jadi obyek wisata seperti Borobudur. Buku tersebut nantinya sebagai souvenir bagi wisatawan,”ujar Husnu Mufid.

Pembicara sekanjutnya adalah Drs. Haryadi pegiat Cagar Budaya dari Tulungagung. Ia mengatakan, berdasarkan UU tahun 2010 masyarakat bisa memfungsikan dan memanfaatkannya. Untuk dananya bisa minta ke pemerintah. Di Tulungagung sudah bisa cair. Untuk digunakan kepentingan pelestarian budaya. Disini pemerintah bukan BPCB. Tapi  Kementrian Dikbud.

Kemudian dikanjutkan Ki Jontor selaku penulis mengawalinya dengan baca puisi. Tujuannya agar suasana tetap bergairah dan bersemangat serta tidak ngantuk. Mengingat hari sudah siang.

Dalam pembicaraannya mengatakan, kegiatan budaya di Candi Sawentar tetap ramai. Grebeg Sawentar kemarin pesertanya 12 ribu orang. Ini dukungan yang luar biasa dari masyarakat.

Kini Candi Lwang Wentar merupakan tujuan wisatawan. Candi Lwamg Wentar adalah dalam tafsir budaya. Disini  budaya nasionalis. Budaya adalah gerak nyata jiwa. Saya menafsirkan Candi Lwang Wentar dari segi budaya.

ö

Usai penjelasan dari tiga narasumber dilanjutkan pertanyaan dan masukan dari undangan yang hadir. Yang pertama memberi masukan adalah Ki Sukarjo selaku ketua 2 lembaga adat desa Sawentar. Ia nembang macopat Jawa untuk menetralisir suasana agar tidak tegang. Suasanapun jadi cair.

Selanjutnya, ia mengatakan, bahwa Grebeg Sawentar itu diawali dengan pembicaraan warga pada bulan Sakban. Setelah sepakat akan mengadakan acara Grebeg Lwang Wentar melakukan nyekar ke makan leluhur dan pembabat cikal bakal desa serta kepala desa pertama.

Kemudian nyekar dan berziarah ke sejumlah makam keramat. Seperti makan Mbah Melati. Setelah itu mengunjungi Candi Lwang Wentar yang merupakan cungkup desa. Kita ambil bulan Jawa. Tidak pakai bulan masehi. Biar tidak berbenturan dengan bulan puasa.

Masukan selanjutnya dari Ki Raban Yuwono dari Serang mengatakan, bahwa dulu pantai Lodoyo itu gung liwang liwung. Kini namanya jadi pantai Serut. Disini Raja Hayam Wuruk naik perahu lewat sungai Klatak hingga sungai serut. Beliau berhenti di sungai tempuran yaitun pertemuan antara air sungai dan laut untuk melakukan ritual. Kemudian menuju Samudra Serang.

Sedangkan Hartono Kasi Disbudpar Kab Blitar menyatakan, pengembangan Candi Lwang Wentar dilakukan masyarakat dan Pemkab Blitar.

Sementara Ki Maryani seniman Kab Blitar menyoroti nama Grebeg. Ia usul diganti dengan nama Garebeg Sawentar. Karena kata Grebeg dengan Garebeg memiliki nama lain.

Untuk Ketua Karang Taruna Adi Susilo,menyampaikan, bahwa Grebeg Sawentar merupakan ide kecil dari Karang Taruna. Awal mulanya untuk memamerkan batik Sawentar dengan mengadakan pawai menuju Candi Lwang Wentar. Tapi dalam prakteknya menjadi Grebeg Lwang Wentar,

Sekretaris Karang Taruna Moch Sofyan Jauhari menambahkan, bahwa Grebeg Lwang Wentar harus didukung masyarakat sekitar. Kemudian acara diakhiri pemberian souvenir kepada para oenannya. Berlanjut foto bersama seluruh peserta. Suasanapun bahagia kembali muncul dan puncaknya makan bersama aka Desa Sawentar.

Husnu Mufid

Jurnalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *