
Reog (Réyog) adalah tarian tradisional dalam arena terbuka yang berfungsi sebagai hiburan rakyat, mengandaung unsur magis, penari utama adalah orang berkepala harimau dengan hiasan bulu merak yang tengah mengembang, dengan gerakan berputar putar juga di kibas kibaskan ke depan ke belakang berat topeng beserta dadak meraknya mencapai 50-60 kg bahkan bisa lebih. Berikut ini laporan Mamak Sewulan :
Ditambah beberapa penari bertopeng pujangganong, penari kelana suwanda dan berkuda lumping ( jathil ) yang menggambarkan prajurit yang sedang berperang, serta penabuh alat alat gamelan Reog.
Di bagian depan biasanya berjalan para warok laknana para pemimpin dengan pakaian khas hitam dengan celana slabruk, dengan aksesoris kolor besar sabuk, udeng serta aksesoris khas warok. Reog merupakan salah satu seni budaya yang berasal dari Jawa Timur, Ponorogo tepatnya dan dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Reog merupakan bentuk kesenian yang tumbuh sudah berabad abad yang lalu. Reog mungkin simbol dari kata ” angreyog” yang berkaitan dengan dorongan spirit prajurit dalam berlatih perang perangan, dan tercatat dalam Negarakertagama yang ditulis Empu Prapanca, begitu pul jug tertulis dalam Serat Cabolang yang ditulis sekitar abad 19 di Surakarta.
Bila kita akan masuk ke wilayah Ponorogo dari arah Madiun maka disitu kita akan menjumpai Gerbang Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat Reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.
Alhamdulilah dalam perjalanan waktu Reog Ponorogo telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Indonesia dengan nomor 210300028 pada tahun 2013.
*Reog Singo Joyo Sewulan*
Di masa sebelum reformasi tepatnya sekitar tahun 1980-an REOG dari Sewulan Singo Joyo di bawah pimpinan Kang Sutrisno pernah menjuarai Festival Seni Reog Tingkat Nasional di Ponorogo Juara I kategori Kucingan.
Para Boreg / Pimpinan Reog dari Ponorogo dimasa lalu saat akan mengisikan khadam Barongan/ Kepala Barongan atau Reog sering kali di bawa ke Dusun Bulusari Sewulan dimintakan tuah mistis pada tokoh Reog yang masih simbahnya Kang Sutrisno.
Kang Sutrisno yang asli putra daerah Sewulan namanya pernah menasional dimana pada saat itu beliau sering melatih dan mengembangkan seni reog ala Sewulan tidak hanya di wilayah Madiun saja namun juga sampai di Sumatera dan Kalimantan. Di masa jayanya Singo Jaya Sewulan sering mendapatkan undangan ke berbagai daerah untuk tampil reogan di mana pada pagi harinya ditampilkan arak-arakan reogan, kemudian sore harinya menampilkan tari kucingan atau penekan yang menggunakan media bambu dan ladrang atau tali besar.
Kemudian pada malam harinya menampilkan sandiwara yang mengangkat cerita *Ande-ande lumut* itulah seni tradisi Sewulan yang mungkin saat ini belum atau perlu mendapat perhatian dari pemangku kebijakan ditingkat kabupaten. Dan di saat usia senjanya, Kang Sutrisno masih tetap konsisten melestarikan, mengembangkan seni tradisional reog ala Sewulan – Madiun, selain itu beliau juga menekuni dunia kerajinan seni sebagai pengrajin peralatan Reog Ponorogo lengkap dadak merak, pakaian jathil dan lain sebagainya, juga membuat perlengkapan peralatan dongkrek khas Madiun, membuat peralatan untuk seni budaya Islami Sholawat khataman nabi.
