Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Khutbah Idul Adha Ketua MUI Jatim Abdul Halim Soebahar: Kebajikan dan Keikhlasan sebagai Pilar Iman.

SURABAYA — Pada khutbah Idul Adha di Masjid Al Akbar, Rabu, 27 Mei 2026, Prof. Dr. KH Abdul Halim Soebahar, Ketua PW MUI Jawa Timur, menekankan nilai-nilai spiritual yang dapat dipetik dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail.
Menurutnya, ketaatan Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan anak sendiri demi perintah Allah SWT merupakan puncak kesabaran dan pengorbanan yang patut menjadi teladan setiap hamba.

“Kesabaran paling tinggi itu diteladankan Nabi Ibrahim saat harus patuh menyembelih Nabi Ismail,” ungkapnya di hadapan lebih dari 40.000 jamaah yang memadati Masjid Al Akbar Surabaya pagi itu.

Halim Soebahar mengingatkan bahwa Idul Adha bukan sekadar hari raya biasa, melainkan simbol kesempurnaan agama Islam.
Ia mengutip firman Allah dalam QS Al Maidah [5]:3 yang turun pada tanggal 9 Dzulhijjah:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
Ayat ini menghubungkan makna kesempurnaan agama dengan sejarah keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail adalah kisah keimanan, ketundukan, dan pengorbanan yang luar biasa.
Nabi Ibrahim tidak hanya taat sebagai hamba Allah, tetapi menunjukkan ketegaran sebagai ayah yang mampu melepas rasa kecintaannya saat diperintah menyembelih anaknya demi ridha Ilahi.
Sementara Nabi Ismail menunjukkan keteguhan hati, pasrah dan ridha menerima perintah Allah—sebuah contoh ketaatan yang menyentuh hakekat jiwa.

“Hikmah besar yang dapat kita petik adalah bahwa pengorbanan Ibrahim dan Ismail bukan sekadar hubungan ayah-anak. Mereka adalah manusia pilihan yang berbeda dari kebanyakan manusia biasa,” jelasnya.

Keteladanan ini bukan ajakan agar orang tua menuntut sepenuhnya kepada anak tanpa pertimbangan, atau agar anak tunduk tanpa rasa pikir.
Pelajaran utama adalah keimanan yang kuat terhadap perintah Allah yang jelas dan pengorbanan ego pribadi demi kebenaran dan ketundukan hati.

Dalam momen puncak pengorbanan tersebut, ketika Nabi Ibrahim menghunuskan pisau dan Nabi Ismail sudah pasrah, datanglah wahyu bahwa itu hanyalah ujian dan nyawa Ismail tidak akan diambil.
“Inilah ruh ‘ibrah Idul Adha: ketundukan, kepatuhan, dan penerimaan atas ketetapan Allah karena Dia Maha Mengetahui yang terbaik,” tegasnya.

Pelajaran keteladanan ini menegaskan pentingnya menerima takdir dengan ikhlas, tanpa keluhan, marah, atau perlawanan, meyakini bahwa semuanya adalah yang terbaik bagi kita.

Lebih jauh, Prof. Halim Soebahar mengajak generasi sekarang untuk meneladani Nabi Ismail sebagai sosok ideal generasi unggul:
Pertama, generasi yang beriman, memiliki ketangguhan dan kepasrahan menghadapi ujian hidup.
Kedua, generasi berilmu dan berakhlaqul-karimah, manifestasi dari keimanannya.
“Ini sesuai cita-cita Ibu Gubernur Jawa Timur menjadikan generasi emas unggul berkarakter menuju Indonesia Emas 2025,” katanya.

Ia juga memaparkan keberhasilan program beasiswa di Jawa Timur sejak 2019 hingga 2026 dengan ribuan penerima manfaat, termasuk sarjana, magister, dan doktor, yang diharapkan mampu mendukung pengembangan generasi unggul ini.

Usai khutbah, penyembelihan hewan kurban dilakukan dengan jumlah 72 ekor hewan hingga Rabu dini hari, terdiri dari 49 kambing, 17 sapi, dan 6 sapi hasil patungan.
Hewan kurban ini berasal dari berbagai donatur, termasuk Presiden RI, Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Sekda, Forkopimda, dan Kapolri.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, turut mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang berkurban dan mendoakan para jamaah haji agar lancar dan mendapatkan haji mabrur.

Khutbah Idul Adha oleh Ketua MUI Jatim Abdul Halim Soebahar mengingatkan umat akan nilai luhur keikhlasan, sabar, dan ketundukan total kepada Allah SWT sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim dan Ismail.

Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi spiritual yang memperkuat keimanan dan membina generasi masa depan yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Pengorbanan dan keteladanan yang diajarkan adalah sumber kebajikan yang mengantarkan kita pada kesuksesan dunia dan akhirat.*Imam Kusnin Ahmad*