
Oleh Sayyid Diar Mandala
Saudara-saudaraku sekalian,
Saya sampaikan ini untuk mengajak kita semua lebih solid dan berani berdiri di atas fakta.
Mari kita bersikap Netral Sejati.
Artinya, kita hanya menerima dan membela klaim sejarah jika ada bukti primer yang bisa diverifikasi secara ilmiah. Ini bukan sikap pasif, tapi sikap kritis yang bertanggung jawab.
Terkait narasi Klan Ba’alwi, saya menilai konstruksinya belum memiliki dasar data primer yang memadai.
Lebih dari itu, belakangan ini mereka sudah keterlaluan. Berani melecehkan Pemimpin negara ini dan para jenderal yang sudah berjuang untuk negara.
Karena itu, saya mengajak kita bersama untuk tidak berhenti pada narasi yang beredar, tapi terus menuntut data, menelaah sumber, dan menjaga integritas sejarah Walisongo.
Banyak warga Pandeglang sudah mulai mempertanyakan dasar narasi ini.
Ini momentum bagi kita di PWI LS untuk hadir sebagai jurnalis warga yang gencar mengedukasi, meluruskan, dan menyebarkan informasi berbasis data.
Kita berdiri bersama ulama pribumi dan mendukung langkah KH. Imaduddin Ustman al-Bantani dan tokoh PWI LS lainnya
dalam menuntut pertanggungjawaban akademik. Itu jalur yang konstruktif dan terhormat.
Kita saat ini menunggu arahan para Tokoh PWI LS Banten.
Sambil menunggu, mari kita mulai lebih aktif di masyarakat. Sampaikan fakta dengan tenang, tegas, dan beretika. Jaga marwah organisasi dan patuhi hukum.
Sejarah Walisongo adalah warisan umat Nusantara.
Tugas kita menjaga agar warisan ini tidak kabur karena klaim tanpa bukti. Jika ada data valid, kita terima. Jika tidak ada, kita luruskan bersama.
Mari kita gencarkan kerja intelektual ini. Perkuat argumen, perkuat data, perkuat persatuan.
Kita bukan hanya menjaga nama organisasi, tapi menjaga kebenaran sejarah untuk generasi berikutnya.
_Diar Mandala_
Pembina PWI LS Pandeglang 🇮🇩🇮🇩
