
“Karena itu yang memberikan dukacita kepada Buya Syafii ketika wafat, bukan hanya warga Muhammadiyah. Bahkan yang berduka untuk Buya Syafii di kalangan NU tidak kalah dengan Muhammadiyah, karena Buya Syafii adalah tokoh yang dimiliki oleh semua,” katanya.
Gus Ulil menyebut bahwa bangsa Indonesia merasa sangat bersyukur memiliki tokoh seperti Buya Syafii dan Gus Dur. Ketokohan dari kedua orang ini tidak terbatas pada organisasi tempat asalnya tetapi mampu melintasi batas.
“Mari kita sebagai warga NU yang menahlilkan Buya Syafii mewariskan keteladanan beliau. Dari Buya Syafii kita belajar untuk menjadi tokoh yang melintasi batas,” imbuh Pengampu Ngaji Ihya Virtual itu.
Acara tahlil tersebut berjalan lancar. Dimana pembacaan yasin dipimpin DKM Masjid An-Nahdlah H Syatiri Ahmad. Lalu pembacaan tahlil diimami oleh Ketua PCNU Karawang KH Ahmad Ruhyat Hasbi.
Kemudian dilanjutkan dengan rangkaian testimoni-testimoni terhadap Buya Syafii dan Kiai Abbas Muin oleh Ahmad Suaedy, Amsar A Dulmanan, Rumadi Ahmad, dan Yahyaeh Ma’shum.