SMPN 3 Sindang Darurat Rehab Berat 4 Ruang Kelas

 

Indramayu-menaramadinah.com-Kondisi 4 ruang kelas SMPN 3 Sindang Indramayu sangat memprihatinkan. Sebanyak 3 ruang kelas dalam kondisi yang sangat tidak layak sebagai ruang pembelajaran, karena selalu muncul rembesan air sehingga kondisinya sangat lembab dan becek. Bahkan setiap habis hujan selalu banjir. Hal tersebut diakibatkan karena posisi tanah lebih rendah dari bangunan sekelilingnya yaitu RSUD lndramayu dan sebelahnya lagi SMPN 2 Sindang yang lebih tinggi.

SMPN 3 Sindang seolah-olah menjadi pusat rembesan sekelilingnya. Sementara itu satu ruang yang difungsikan sebagai ruang laboratorium sudah hampir lima tahun sudah tidak difungsikan karena takut membahayakan peserta didik, karena kondisi plafon dan atapnyanya hampir ambruk.

Dengan demikian dalam setiap pembelajaran sudah tidak bisa lagi menggunakan laboratorium. Tragisnya dalam setiap pengajuan rehab berat SMPN 3 Sindang justru tidak mendapatkan plafon perbaikan atau rehab berat ruang kelas.

Sementara seperti sudah dimaklumi bahwa SMPN 3 Sindang sangat sulit untuk mendapat sharing dari orang tua peserta didik karena pada umumnya latar belakang orang tua rata-rata dari kalangan bawah, tidak seperti sekolah yang berada di sekelilingnya yang. bisa sharing, sehingga hampir semua sekolah di sekitarnya sudah berlantai dua bahkan tiga lantai.

Kepala SMPN 3 Sindang Tariwan, S.Pd. MM. ditemui di ruang kerjanya mengatakan sekolahnya selama ini dalam setiap pembangunan ruang kelas baik program RKB maupun Rehab hanya mengandalkan dari program pemerintah.

Sementara itu jatah pengajuannya tidak selalu mendapat jatah padahal sangat membutuhkan minimal program rehab ringan. Apalagi sejak bergulirnya isu rencana sekolah yang segera akan direlokasi ke tempat lain sehubungan dengan rencana pengembangan atau perluasan RSUD lndramayu yang gagal. Secara otomatis telah menghambat pengajuan program pembangunan sekolah .

Wakasek Sapras Hendro Sujono, S.Pd., M.Si. saat ditemui awak media di sekolahnya membenarkan bahwa sekolahnya sangat darurat membutuhkan bantuan rehab besar untuk empat ruang kelas pembelajaran .

Namun dirinya merasa sangat dilematis pengajuan program rehab tak kunjung mendapat respon positif, sementara untuk sharing dengan orang tua peserta didik sangat tidak mungkin karena umumnya mereka dari kalangan ekonomi kelas bawah, apalagi di jaman pandemi seperti saat ini.
(jaya)