
*بسم الله الرحمن الرحيم*
*Keputusan Sembrono Menutup Program Studi Kependidikan: Ancaman Nyata Degradasi Kualitas Siswa*
Prof. Mahmud Mustain, Modified AI, 2026
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
*Pendahuluan*
Dalam dinamika kebijakan pendidikan, seringkali muncul keputusan yang diambil secara tergesa-gesa tanpa pertimbangan mendalam terhadap dampak jangka panjang. Salah satu isu yang patut mendapat perhatian serius adalah wacana atau praktik penutupan program studi (prodi) kependidikan. Sekilas, keputusan ini mungkin tampak sebagai langkah efisiensi atau penyesuaian terhadap kebutuhan pasar. Namun, jika dilakukan secara sembrono, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan degradasi kualitas siswa secara sistemik.
Peran Strategis Prodi Kependidikan
Program studi kependidikan bukan sekadar institusi akademik biasa. Ia adalah “pabrik peradaban” yang mencetak calon guru—aktor utama dalam membentuk karakter, kecerdasan, dan masa depan generasi bangsa. Di dalamnya, mahasiswa tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan, tetapi juga pedagogi, psikologi pendidikan, etika profesi, serta nilai-nilai kemanusiaan.
Guru yang lahir dari prodi kependidikan idealnya memiliki:
1. Kompetensi akademik yang memadai
2. Keterampilan mengajar yang efektif
3. Sensitivitas terhadap perkembangan peserta didik
4. Integritas moral dan tanggung jawab sosial
Jika sumber pembentukan guru ini dilemahkan atau bahkan dihilangkan, maka fondasi pendidikan nasional ikut terguncang.
Bahaya Keputusan Sembrono
Keputusan menutup prodi kependidikan tanpa kajian komprehensif dapat disebut sebagai kebijakan sembrono karena beberapa alasan:
1. Mengabaikan Kebutuhan Jangka Panjang
Kebutuhan guru bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk puluhan tahun ke depan. Penutupan prodi berarti memutus rantai regenerasi tenaga pendidik.
2. Reduksi Kualitas Calon Guru
Jika prodi kependidikan berkurang, maka suplai calon guru profesional akan menurun. Akibatnya, sekolah bisa kekurangan tenaga pendidik berkualitas dan terpaksa merekrut tenaga yang tidak memiliki latar belakang pedagogis.
3. Komersialisasi Pendidikan
Tanpa prodi kependidikan yang kuat, pendidikan berisiko bergeser menjadi sekadar transfer ilmu tanpa pembentukan karakter. Guru bukan lagi pendidik, melainkan hanya penyampai materi.
*Dampak Langsung terhadap Siswa*
Degradasi kualitas guru akan berdampak langsung pada siswa. Beberapa implikasi yang mungkin terjadi:
1. Penurunan Kualitas Pembelajaran
Guru yang tidak terlatih secara pedagogis cenderung mengajar secara monoton, tidak adaptif, dan kurang memahami kebutuhan siswa.
2. Krisis Karakter
Guru adalah teladan. Ketika kualitas guru menurun, pembentukan karakter siswa juga ikut terpengaruh. Nilai-nilai seperti disiplin, empati, dan integritas bisa terabaikan.
3. Menurunnya Motivasi Belajar
Interaksi guru-siswa yang tidak efektif akan membuat siswa kehilangan minat belajar, yang pada akhirnya berdampak pada prestasi akademik.
*Efek Domino dalam Sistem Pendidikan*
Degradasi siswa bukanlah dampak akhir, melainkan awal dari krisis yang lebih besar:
* Lulusan yang kurang kompeten
* Menurunnya kualitas tenaga kerja
* Lemahnya daya saing bangsa
* Potensi meningkatnya masalah sosial
Dengan kata lain, keputusan kecil di level kebijakan pendidikan dapat memicu efek domino yang luas dan kompleks.
*Perlunya Kebijakan Berbasis Hikmah*
Dalam perspektif yang lebih bijak, kebijakan pendidikan seharusnya tidak hanya berbasis data kuantitatif, tetapi juga mempertimbangkan nilai, visi jangka panjang, dan tanggung jawab peradaban. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan:
1. Evaluasi prodi kependidikan secara objektif, bukan sekadar menutup
2. Peningkatan kualitas kurikulum dan tenaga pengajar
3. Integrasi teknologi tanpa menghilangkan esensi pedagogi
4. Penguatan sinergi antara sains, pendidikan, dan nilai-nilai moral
*Penutup*
Menutup prodi kependidikan secara sembrono bukanlah solusi, melainkan potensi masalah besar yang akan dirasakan dalam jangka panjang. Pendidikan adalah investasi peradaban, dan guru adalah ujung tombaknya. Ketika sumber pembentukan guru dilemahkan, maka degradasi siswa menjadi konsekuensi yang hampir tak terhindarkan.
Oleh karena itu, setiap keputusan dalam dunia pendidikan harus dilandasi kehati-hatian, kebijaksanaan, dan visi besar untuk masa depan umat manusia. Karena sejatinya, kualitas generasi mendatang ditentukan oleh kualitas guru hari ini.
Semoga kita semua semakin mengerti dan semakin sadar dengan pentingnya program studi kependidikan. Hal ini utamanya dalam kerangka hidup bersama yang nyaman beretika santun bermartabat damai sejahtera aamiin.
Wa Allahu a’lam bish -showaab.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Surabaya,
14 Dzul-Qo’dah 1447
atau
03 Mei 2026
m.mustain
