NU dan Penjaringan Pilpres 2024

 

Jakarta-menaramadinah.com-Berdasarkan hasil survei berbagai lembaga, seperti SMRC (Saeful Mujani), Indikator Politik (Burhanuddin Muhtadi), Alvara ( Hasanudin Ali) populasi warga NU mencapai 45% – 50% lebih dari total umat Islam di Indonesia.

 

“Tentu ini kabar yang menggembirakan, jika kita punya mimpi dan harapan besar terhadap eksistensi serta kader NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ke depan,” ujar Ucok Sky Khadafi, Anggota Tim Sembilan Konvensi Capres NU 2024 kepada pers, kemarin.

Dari potensi populasi tersebut, ditengarai belum bisa memberikan peran optimal karena berbagai kran politik yang sejatinya bisa iadi outlet aspirasi warga NU dianggap masih banyak sumbatan. Atas dasar itulah, kemudian berbagai ikhtiar dilakukan agar kran politik warga NU yang selama ini telah dibuka lebar oleh Reformasi bisa dipergunakan secara optimal dan demokratis.

Dari berbagai forum diskusi informal, kemudian muncul gagasan untuk mewujudkan mimpi tersebut dengan cara-cara yang demokratis dan objektif. Salah satu tahapan yang disepakati adalah melakukan penjaringan sejumlah nama tokoh NU yang dianggap patut dimunculkan. Meski pemunculan nama-nama tersebut masih bersifat terbuka terhadap berbagai masukan dan usulan.

Diantara nama-nama yang dimunculkan saat ini, antara lain Ketua Umum PBNU ( Said Agil Siraj), Ketua Umum PP Muslimat (Khofifah Indar Parawangsa), Menkopolhukam (Mahfud MD), mantan Waketum PBNU (KH As’ad Said Ali), Ketum PP GP Ansor (Yaqut Kholil Qoumas), Putri Gus Dur (Yeni Wahid), Ketum PP ISNU (Ali Masykur Musa), Imam Besar Masjid Istiqlal (Nasaruddin Umar), Khatib Aam PBNU (Yahya Staquf), Ketum PKB ((Muhaimin Iskandar), mantan Ketum Fatayat (Ida Fauziyah), mantan Satkornas Banser (Andi Jamaro Dulung), anggota Hakim MK (Wahiduddin Adams), Ketum IK PMII (Akhmad Muqowam), Tim MKNU (Endin AJ Sofihara), Aktivis NU berlatar militer (Johansyah).

Kendati demikian, tidak nama-nama tersebut bisa menampung semua aspirasi publik. “Oleh karena itu dalam formulir pilihan dalam polling online ini juga dicantumkan kolom terbuka untuk memasukkan nama-nama baru yang dianggap layak ikut penjaringan. Kenapa begitu? Karena kita ingin menghasilkan pilihan itu yang benar-benar aspiratif dan berdasarkan pilihan mayoritas warga, bukan keputusan sepihak elit politik semata,” tambahnya.

Mengenai pro-kontra terhadap Tim Sembilan, menurut Ucok, hal itu sangat wajar dan perbedaan kepentingan semata. Namun, dari sekian yang kontra, “Ternyata lebih banyak yang memberikan dukungan, baik secara terbuka maupun tertutup. Dan bagi kami, niat baik dan cita-cita yang besar itu akan selalu menunai pro-kontra. Tidak ada perjuangan yang tanpa rintangan,” tegasnya.

Lebih jauh dijelaskan bahwa tahap penjaringan ini akan dilakukan secara online dengan harapan bisa diikuti semua kalangan, khususnya warga Nahdliyyin. Kendati demikian, keterlibatan warga non NU pun tidak bisa ditolak karena proses penjaringan ini juga untuk kepentingan bersama, lintas etnis, lintas agama dan lintas daerah. “Tahap penjaringan awal dilalukan selama sebulan, dan akan dievaluasi secara berkala,” pungkasnya.

Ditambahkan Muchlas Syarkun, anggota Tim Sembilan bahwa konvensi tersebut mendorong agar PBNU tetap istiqamah dalam khittah dan urusan politik biar diurus warga NU sebagaimana amanah 9 pedoman berpolitik bagi warga NU yang ditetapkan muktamar Lirboyo Kediri.

(Kontak media; 0813-8038-5549)