Radhar Panca Dahana Dalam Kenangan Hadi Winarto

 

Radhar Panca Dahana tokoh Pejuang Kebudayaan Indonesia Baru baru saja meninggal dunia. Beliau ini dikenang oleh Hadi Winarto alumni Sastra Unej  yang kini bekerja di Metro TV Jakarta. Berikut ini kenangannya yang tak terlupakan.

Radhar Panca Dahana (lahir di Jakarta, 26 Maret 1965; umur 56 tahun) adalah sastrawan dan budayawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya dalam bentuk esei sastra, cerita pendek, dan puisi yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar Indonesia.

Ia menyelesaikan Program S1 Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (1993) dan studi Sosiologi di École des Hautes Études en Science Sociales, Paris, Prancis (2001). Radhar merupakan pendiri dari Perhimpunan Pengarang Indonesia dan presiden Federasi Teater Indonesia yang masih menjabat sampai saat ini.

Tahun 2019, Radhar dipercaya oleh Komisi Pemilihan Umum untuk menjadi salah satu panel Debat Cawapres ke tiga, bersama Rektor Universitas Syiah Kuala, Samsul Riza, Rektor Universitas Hasanuddin, Dwia Aries Tina Pulubuhu, dan Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah.

Jadi teringat lagi saat memproduksi Metro Files episode “Ketika Bahasa Mengukir Bangsa” … Mas Radhar jadi salah satu narsum di episode itu.
Kesempatan kedua kerja produksi yang melibatkan Mas Radhar adalah saat saya bikin Oasis tentang Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di TIM. Oasis episode ini judulnya “Warisan H.B. Jassin” …

Terus terang, rada susah menemukan pemikir budaya sekaliber Mas Radhar hari ini. Ia mirip Alexander Solzhenitsyn di Rusia.

Bukan saja kualitas pikiran, renungan dan tulisannya saja yang dahsyat, tapi kisah hidupnya sendiri, peruangannya bertahan hidup dengan prinsip-prinsip yang dijunjungnya, membuat dirinya memiliki wibawa dan integritas yang luar biasa.