
Oleh : Atok Witono.
Jejak-jejak Sunan Giri memang banyak bertebaran di Kota Santri Gresik. Wali Allah SWT tersebut meninggalkan beberapa situs peninggalan antara lain, bangunan fenomenal berupa Giri Kedaton. Di atas bukit itulah, lelaki berjuluk Joko Samudro tersebut memimpin Kesultanan Giri dengan gelar Prabu Satmata.
Ada pula bangunan masjid Kedaton di Desa Sekarkurung, Kebomas. Masjid yang berdiri pada ketinggian 200 meter di atas permukaan air laut itu dibangun pada 1485. Bukit kapur menopangnya. Jamaah bisa melihat secara jelas hamparan laut luas dari bukit dengan kemiringan 45 derajat.
Peninggalan lainnya adalah Sumur Gemuling di Desa Gulomantung, Kecamatan Kebomas.
Konon menurut cerita turun temurun dari sesepuh mengatakan bahwa Sumur Gemuling itu sebenarnya bukan buatan Sunan Giri. ”Sumur tersebut sudah ada sebelum Sunan Giri.
Namun, awalnya posisi sumur tersebut vertikal, seperti sumur-sumur lain. Yaitu, memanjang ke bawah dengan sumber di dasar. Nah, pada suatu hari, Sunan Giri sedang berdakwa di Desa Gulomantung dan sudah masuk waktu salat fardu, Sunan Giri bergegas mengambil air wudu di sumur tersebut. Tapi, beliau tidak menemukan timba di sekitar sumur. Lalu, dia meminjam kepada masyarakat setempat. Mendatangi satu per satu rumah penduduk agar bisa mengambil air wudu di sumur yang dalam.
Banyak rumah yang didatangi. Namun, tidak ada masyarakat yang meminjamkan timba. Padahal, waktu salat sudah mepet. ”Sunan Giri lalu menggulingkan sumur tersebut”
Sumur yang semula memanjang lurus ke bawah berubah menjadi miring. Dengan mudah, Sunan Giri akhirnya bisa mengambil air untuk berwudu, kemudian menjalankan shalat. Setelah itu Sunan Giri berdoa agar masyarakat setempat bisa memanfaatkan sumur tersebut untuk diambil airnya.
Sumur Gemuling alias sumur miring itu sampai sekarang masih bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar. Lokasinya berada di area makam sesepuh desa yang sering diziarahi
