
Oleh: Rahardi Teguh LMND Jember.
Dewasa ini, stigma buruk mengenai ideologi marxis terutama komunisme begitu melekat dibenak bangsa Indonesia. Pandangan bahwa seorang marxis cenderung bersikap anti Tuhan dan benci agama tidak bisa dihilangkan. Sumbangsih besar dalam pengaminan terhadap stigma negatif ini tidak dapat dipisahkan dari peran Orde Baru dalam membumihanguskan ajaran kiri di Indonesia. Berbagai cara dilakukan agar ajaran kiri semakin dijauhi oleh masyarakat Indonesia. Regulasi yang ketat dilakukan salah satunya pembatasan bacaan yang berbau marxis, leninis, dan sejenisnya. Penayangan film besutan G30S/PKI yang dilakukan setiap tahun secara rutin. Tentu saja mensukseskan indoktrinasi yang ditanaman oleh rezim Orde Baru.
Apakah benar stigma negatif yang selama ini tertanam dalam masyarakat?
Lantas, benarkah bahwa Islam dan Marxisme suatu kutub yang bersebrangan?
Tentu untuk menjawab pertanyaan tersebut diperlukan pendekatan yang logis untuk menemukan titik terangnya.
Kemiskinan yang dialami oleh masyarakat saat ini tentu saja disebabkan oleh suatu sistem yang gagal. Kapitalisme adalah sistem yang menjadi sebab rusaknya tatanan yang ada dalam masyarakat. Sosialisme tentu saja memberikan solusi guna mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sistem eksploitasi yang dilakukan para kapitalis tentu saja menyita hak yang dimiliki oleh kaum kelas bawah.
Lalu, bagaimana pandangan Islam mengenai permasalahan tersebut?
Islam sebagai agama yang kompleks dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan manusia. Tentu saja tidak jauh beda dalam memandang keadilan sosial. Islam dalam hal ini memposisikan diri sebagai pihak yang tidak menyukai segala bentuk penindasan. Konsep “Jihad Nahi Mungkar” mentasbihkan bahwa ketidakadilan harus diperjuangkam agar kebathilan itu musnah. Sosialisme tentu saja seiringan dengan perjuangan tersebut. Kapitalisasi yang dilakukan oleh segelintir elite tentu saja hanya menyengsarakan kaum kelas bawah atau sering dikenal dengan Dhua’afa. Seringkali kaum Dhua’fa termaginalkan dalam masyarakat dan dianggap hanya bagian bawah dalam tatanan sosial.
Kesenjangan yang terjadi tentu saja bukan suatu hal yang begitu saja terjadi. Kesadaran ini dibentuk oleh para kapitalis yang memegang alat produksi sehingga kaum proletar tidak bisa apa-apa. Anggapan bahwa para kaum proletar bergantung terhadap para borjuis tentu saja sering kita dengar. Diperlukan sebuah wadah yang tentu saja dapat menjadi alat untuk melakukan revolusi. Pembentukan serikat buruh yang beranggotakan kaum proletar menjadi kunci tercapainya revolusi. Sebagai seorang Muslim tentu saja tidak dapat meningggalkan pedoman agama yang kita ajarkan. Ternyata para pendahulu sudah memiliki konsep penyatuan konsep Sosialisme yang tentu saja tidak melenceng dari Agama Islam. Sinkretisasi ini oleh para pendahulu diistilahkan sebagai Komunisme Islam atau Komunis Putih.
Istilah Komunisme Islam yang pernah dipopulerkan oleh Haji Misbach atau Haji Merah tentu saja mampu merangkul kedua golongan ini. Kutipan kalimat menarik yang digaungkan oleh Haji Misbach yang terekam dalam surat kabar Medan Moeslim salah satunya:
“Dari itoe hareplah kawan-lawan kita teroetama pembatja M.M. mendjadikan tahoe sesoenggoehnja karangan saja hal lslamisme dan Kommunisme itoe adalah penting bagi orang jang dirinja mengakoe Islam dan communist sedjati, ja’ni soeka mendjalankan apa jang telah diwadjibkan kepada mereka olih agama Islam dan communist.”
Mengenai istilah Komunisme yang digunakan untuk menggambarkan pergerakan yang dilakukan belum sesuai. Pasalnya Marx sendiri mengatakan bahwa terbentuknya Comunist Society baru dapat terbentuk apabila negara dan kasta sosial sudah tidak ada (Soviet). Penggunaan istilah Sosialisme tentu saja lebih pas karena masih dalam proses membentuk suatu tatanan masyarakat Komunis yang disebut Soviet.
Suksesnya pergerakan yang dilakukan oleh Haji Misbach di Surakarta seharusnya dapat menjadi inspirasi. Bahwa perlawanan terhadap sikap borjuasi yang dilakukan oleh sistem yang dewasa ini terjadi perlu digaungkan kembali. Walaupun kondisi yang dialami pada saat itu dan sekarang tentulah berbeda. Sebagai pemuda Muslim yang memiliki semangat Sosialis dapat mengaktulalisasikan perjuangan dalam bidang yang lain. Salah satunya pendidikan, jurang yang dalam sering terlihat antara kaum borjuis dan proletar. Sehingga pengentasan pendidikan diperlukan agar perbedaan dapat dikurangi. Apabila pengetahuan yang dimiliki sudah mulai baik tentu saja kaum proletar dapat memperjuangkan hak-haknya dengan baik.
