
Ada istilah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. pepatah itulah yang bisa mewakili cerita dari salah satu pahlawan yang jarang terekspos yang bernama DJUWARI. Berikut ini laporan Zain Anis Jurnalis Citizen.
Mungkin di pelajaran sejarah tidak ditemukan nama Djuwari sebagai tokoh pahlawan nasional karena ia merupakan tukang panggul jendral Sudirman.
Sehingga tidak banyak yang mengetahui kisah perjuangan dari Djuwari bahkan dia bak pahlawan yang terlupakan. Kisah perjuangan dan pengorbanan Djuwari sebagai pahlawan yang terlupakan ini dilansir dari laman Kompas.com.
Djuwari merupakan tukang panggul Panglima Besar Jenderal Sudirman dalam perang gerilya melawan penjajah, mengaku rela terlupakan.
“kami hanya berharap generasi muda saat ini bisa meneruskan cita-cita pahlawan untuk bisa bebas dari segala bentuk penjajahan,” katanya saat ditemui di rumahnya di Dusun Goliman, Desa Parang, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri.
Sehari-hari Dia menghabiskan waktunya di sawah dengan kondisi ekonomi yang serba pas-pasan di sebuah desa yang berada di kaki gunung Wilis.
Tak banyak yang tahu mengenai kiprah lelaki tua renta itu dalam memperjuangkan bangsa Indonesia dari kungkungan penjajah. Padahal dia salah satu tukang panggul tandu Panglima Besar Sudirman yang saat itu sedang sakit dalam memimpin perang gerilya di kawasan selatan pulau Jawa periode 1948 sampai 1949.
Djuwari menuturkan, pada suatu pagi hari di tanggal 6 Januari 1949, dia dan 3 temannya (Karso, Warto, dan Joyodari) memanggul tandu panglima perang gerilya itu menuju dusun Magersari, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk untuk menghadapi para penjajah.
Mereka berjalan kaki di sekitar 30 km dari dusun Goliman menuju Dusun Magersari dengan melintasi kawasan perbukitan gunung Wilis.
“Untuk menempuh perjalanan itu dibutuhkan waktu sehari penuh dengan beberapa kali beristirahat,” katanya.
Dalam perjalanan tersebut Panglima Sudirman dikawal Tjokro Pranolo, Supardjo Rustam, Suwondo, dan Heru Tjokro bersama pasukan bersenjata lainnya.
Djuwari ngaku bahagia, kendati dalam perjalanan melelahkan itu dia dan 3 orang rekannya hanya mendapat hadiah berupa sepotong kain panjang dari Panglima Sudirman.
“Saat itu kami merasakan ikut berjuang, meskipun tidak dengan cara memanggul senjata seperti tentara lainnya,” kata Djuwari.
Selama berada di Dusun goliman Panglima Sudirman dan beberapa anggota pasukannya menyusun strategi menghadapi penjajah.
Di dalam kamar berukuran 7×3,5 meter yang berada di rumah joglo yang kini ditempati Suwandi itu masih terdapat beberapa perabotan, diantaranya dipan beralaskan tikar, kendi, cangkir, dan tempayan dari Kuningan.
“Kamar ini sudah tidak pernah kami tempati lagi sejak dulu, karena kami anggap memiliki nilai sejarah perjuangan bangsa ini,” kata Suwandi.
Selama berada di Dusun goliman, Panglima Sudirman menyamar sebagai manteri guru untuk menghindari mata-mata penjajah yang tersebar di mana-mana.
Sayangnya bangunan bersejarah di Dusun colliman itu hingga kini tidak terawat.
Djuwari selalu bercerita kepada orang-orang bahwa memanggul tandu Pak Dirman (panggilannya kepada Jenderal Sudirman) adalah kebanggaan yang sangat luar biasa.
Kakek yang sudah mempunyai tiga cicit itu mengaku jika menjadi pemanggul tandu sang Jenderal merupakan sebuah pengabdian. Semua itu dilakukannya dengan rasa ikhlas tanpa mengharap imbalan sepeserpun.
Menjadi seorang mantan pemanggul tandu Sudirman menjadikan keluarga Djuwari beberapa kali didatangi cucu sang Panglima Besar. Pernah suatu kali dia diberi uang Rp 500.000, namun setelah itu belum ada yang datang membantunya lagi.
Pemerintahan yang cukup baik kepadanya adalah zaman mantan presiden Soeharto, sesekali dia digelontor bantuan beras.
“Dulu memanggilnya bergantian, kira-kira sekitar 7 orang,” tuturnya.
Perjalanan mengantar perang gerilya Jenderal Sudirman seingatnya dimulai pukul 8 pagi dan dikawal banyak pria berseragam. rute perjalanan yang ditempuh teramat berat karena Medan berbukit-bukit dan hutan yang teramat lebat dan gelap.
Seringkali perjalanan dihentikan untuk sekedar duduk dan beristirahat. Kalau sempat dan ada bekal makanan mereka akan makan.
“Dari Bajulan (Nganjuk) lalu kami kembali ke goliman. Waktu itu kita diberi jarit dan sarung,” jelasnya.
Djuwari menambahkan, waktu itu istrinya amat senang menerima jarit pemberian sang jendral.
Karena seringnya dipakai, Jarit pemberian itupun menjadi rusak. Kini tinggal kisahnya ikut bergerilya hal yang bisa ia kenang.
“Pak dirman pesan kalau hidup itu harus yang rukun dengan semua orang,” katanya.
Dari 4 warga Dusun goliman yang pernah memanggul tandu Panglima Besar hanya Djuwari lah yang masih hidup hingga kini.
sedangkan tandu yang dulu dipergunakan untuk memanggil Panglima Sudirman dalam perang gerilya mengusir penjajah sekarang tersimpan rapi di museum Satria Mandala. (*)
