Oleh :Musthofa Zuhri
Hujan hujan begini. sy jadi teringat rumah yang di Besuki situbondo, rumah yang tepat disamping rumah mertua, maka liburan 15 hari aku harus berkunjung ke rumah yang lama tak kusinggahi.
Tahukah anda, rumah itu masih utuh dan kalau ada yang bocor genteng nya, langsung segera dicarikan tukang untuk di perbaiki.
Kondisi ini membuat saya terharu, iseng iseng ku tanyakan pada adik ipar dan mertuaku. Kenapa harus diperbaiki dan harus dibersihkan , pada hal penghuninya lama gak pulang kampung.
Luar biasa jawaban beliau, setiap hari selalu aku cek, aku bersihkan dan sdh tentu aku rawat persis rumah sendiri. karna rumah itu adalah rumah mu dan juga anaku. Rumah yang kalian bangun dengan bekerja keras. Yang pada akhirnya menjadi Rumah untuk para cucu dan pewaris generasi selanjutnya. Bisa dikatakan itu adalah rumah kita yang harus kurawat dan ku jaga, meski penghuninya tak ada dirumah” jawabnya.
Kalaian memang tak ada disini, namun kalian ada di memori kami, pergi bukan berrarti tak ada jejak. Maka kalau ada yg bocor ya kutambal kucarikan tukang. Jawab beliau cepat dan sigap. Dan itu diamini oleh adik istriku.
Luar biasa memang!!
Kemudian aku merenung, mencoba telp temanku, ttg rumah yg dibuat kos didekat kampus dikota lain yang dekat dg situbondo. Bagaimana rumah yg dikos oleh orang yang Ngekos di musim hujan begini? tanyaku pada penjaga rumah.
Aduh mas…piye toh orang yg kos itu, rumah pean gak terawat, banyak debunya, genteng bocor gak sgera ditambal ahirnya banyak yg rusak..”jlentrehnya.
Dan akupun diam membisu.
Disaat aku diam, ada telp masuk, di kejauhan sana ada suara..dan sy kenal dengan suaranya.
“Pak maaf, kapan bapak pulang?, karena saya mau pergi keluar kota bersama suami. Maaf rumah jnengan, kuncinya saya titipkan pada tetangga” ujar sang penelpon dan ku tahu kalau dia adalah ” penghuni rumah sementara ” selama saya dan keluarga berlibur”.
Hemmm…suasana di tiga tempat, yang sama sama berkisah tentang Rumah. Dengan ragam cerita penuh warna. Yang pertama, penuh kasih, ada rasa tanggung jawab , dengan merawat dan kesigapan. Yang ke dua dan yang ketiga, melakukan pembiaran, bahkan se enaknya memperlakukan sebuah Rumah. Tak punya rasa self of belonging, tak ada rasa pemilikan.
Akupun diam termenung lebih dalam.
Saudara..!!
Begitulah suasana rumah kita. Indonesia. Rumah yang berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia ini berasal dari sebuah perjuangan. Ia di rebut oleh para pejuang dengn darah syuhada’ ulama, kiai, pendeta, padende, Islam, kristen, hindu, budha, TNI _Polri. Semua berkumandang dengan ragam perbedaan yg terbungkus rasa pemilikan terhadap ndonesia. Sehingga ketika, ada kerusakan sedikit saja atas NKRI kitalah yg bertanggung jawab dan berkewajiban menajaga dan merawatnya. Karena ini adalah rumah kita. Bukan hasil menyewa, atau meminta bahkan bukan pula pemberian penjajah. Rumah NKRI adalah murni perjuangan yg berdarah darah dengan cucuran air mata.
Berbeda, dengan penghuni dan penyewa kayak organisasi KOS kosan, partai politik impor yang mencoba merancukan dan mengaburkan suasana kebangsaan kita. Yang ingin mengatur republik ini, pada hal berjuang saja gak pernah. Mereka tak kan paham dengan perawatan ukhuwah bashariyah, hubungan kemanusiaan kita atas sesama saudara sebangsa dan setanah air. Mereka tak kan paham makna rasa persaudaraan antar sebangsa dan se tanah air. Yang mereka pahami bahwa bumi ini milik Allah, given tak ada nilai perjuangan. Mereka nggak paham makna ukhuwah wathoniyah, karena mereka tak punya Negara. Mereka tak paham tentang hubbul wathan minal iman. Sebuah kecintaan dan rasa memiliki dengan heroisme perjuangan akan sebuah Negara yang merembes pada keyakinan dengan sepenuh hati. Hati yang cinta Negeri. Cinta pada Rumah NKRI. Hati yang penuh rasa memiliki di Bumi pertiwi.
Bagi kelompok ini, para pejuang kemerdekaan. Nasionalisme dianggap nothing, simbol simbol kesatuan RI seperti bendera merah putih, pancasila hrs diganti dengan simbol simbol lain.
Mereka tak kan mau peduli, apakah rumah NKRI ini bocor, kacau balau, atau bahkan hancur perkeping keping. Baginya, yang penting berkuasa. Liatlah syuriah, lihatkah Iraq, lihatlah libiya, liatlah afganistan dan negara timur tengah yg porak poranda gara gara para penghuni kos kosan ISIS ? Penyelundup HT yng berteriak khilafah. Semua kacau, Hancur lebur!!!
Apa yang terjadi setelah para penghuni kos kosan datang dengan menyelinap masuk disebuah negara dengan berkedok Jihad? Semakin makmurkah negara tersebut? Atau justru semakon rata dengan tanah? Hancur lebur tak bertuan?
Ya. Para orang orang yang Ndekos disebuah negara, bisa nya hanya berteriak, menghancurkan, merusak tatanan yang damai, namun tak bertanggung jawab ketika kerusakan disebuah Negara itu terjadi. Justru menyalahkan tuan rumah. Palestina adalah kisah nyata. Dimana penghuni asli tergeser oleh para orang orang Ndekos.
Maka, sekali lagi, anak anak kos kosan ini, haruslah diingatkan, kalau perlu kikis habis…jika tidak, mereka akan menggeser pemilik yang syah republik ini. Dan diganti oleh kelompok kos kosan.
Kelompok kecil yang merasa besar ini, selalu bikin gaduh ditengah rasa aman dan nyaman NKRI. Sedikit sedikit kafir. Ini islami yang itu tidak. Patokan hukum hanya haram-halal. Sebuah kesimpulan yang tergesa gesa. Mereka melihat hanya dua kutub Hitam dan putih, kawan dan lawan.
Lalu apakah kalian wahai penerus NKRI haruskah kalian berdiam diri, ketika rumahmu dihujani pertikaian yang diluncurkan para penghuni kos kosan? Ini rumah kita, bukan rumah para penghuni kos kosan “pengacau” NKRI !!
Akhiron, ijinkan saya menutup tulisan ini dengan “Musuh utama umat islam adalah orang yg mengaku alim tapi bodoh, dan tak merasa kalau dia bodoh. Kebodohan difungsikan untuk menyampaikan hal yang tak patut disampaikan, yang se akan akan mengandung kebenaran” Dan sekarang hal ini telah berseliweran di tengah tengah kita!!!
Anak kos kosan mau geser tuam rumah, apa kata dunia?
Sekian..dan
Selamat pagi…
