Oleh : Firman Syah Ali
Fenomena “mendadak NU” terjadi sejak Orde Baru tumbang dan warga NU mulai menduduki jabatan strategis baik di pemerintahan pusat maupun daerah. Wabah “mendadak NU” tersebut menjalar dengan sangat cepat ke se-antero Indonesia, terutama di pulau Jawa dan Madura yang NU-nya sangat gemuk.
Pelaku “mendadak NU” mayoritas politisi dan birokrat, wabilkhusus Kandidat Kepala Daerah atau Caleg atau Kepala Dinas di beberapa Pemerintahan Daerah yang warga NU-nya sedang berkuasa. Ironisnya kelakuan “mendadak NU” tersebut sebagian memang diback -up oleh internal Pengurus NU dengan 1001 alasan.
Apalagi jaman sekarang untuk bisa diakui sebagai kader NU cukup mengikuti proses kaderisasi instan yang kalau proses seleksinya tidak ketat alias tidak sesuai aturan, maka akan mengangkut banyak keturunan anti NU masuk ke dalam NU untuk kemudian ngaku-ngaku NU, bahkan tampil lebih NU daripada NU asli.
Teman saya bercerita bahwa ada seorang Kepala Dinas di sebuah Provinsi di Indonesia, saking ingin diakuinya sebagai NU sampai rajin memberikan salam khas NU dalam sambutan-sambutan resminya, namun pengucapannya salah, “Wallahul Muwwafiq illa Aqwamith-thariq” dibaca “Wallahul laihit thariq”, untung yang mendengarkan sambutan itu hanya sesama PNS, maka manggut-manggut saja dengan khusyu’, namun salah satu stafnya kebetulan kader NU tulen, dia menceritakan itu pada saya sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Tokoh-tokoh yang muncul sebagai “mendadak NU” biasanya terdiri dari :
1. Asli warga NU tapi selama Orde Baru tiarap, bahkan menolak keras disebut NU, tapi begitu Orde Baru bubar, beliau langsung unjuk identitas sebagai Warga NU;
2. Asli warga NU yang selama ini tidak peduli terhadap NU namun mendadak peduli NU sejak warga NU memegang kekuasaan tertinggi di Kementerian atau Daerahnya. Ini berlaku di era pasca Orde Baru;
3. Bukan Warga NU yang mengambil kesempatan longgarnya kriteria kader dan warga di tubuh NU dengan cara langsung ngaku-ngaku NU, kalau perlu menyusup ke dalam organ-organ NU dan mengikuti proses kaderisasi NU.
Sejauh pengamatan saya, orang-orang mendadak NU bisa dengan mudah masuk ke NU melalui jalur :
1. Banom dan Lembaga NU yang tidak punya proses kaderisasi sistematis, misalnya ISNU dll;
2. Lembaga-lembaga pendidikan NU sejak dari lembaga pendidikan Dasar hingga Perguruan Tinggi, mereka direkrut sebagai tenaga pengajar kemudian ngaku-ngaku NU;
3. Rumah Sakit NU biasanya merekrut banyak dokter dari kalangan non NU yang apabila ada momen politik para dokter tersebut bisa ngaku-ngaku NU;
4. Tetangga Tokoh NU. Bukan NU bahkan keturunan kaum anti NU, tapi karena bertetangga dengan tokoh NU akhirnya mulus ngaku-ngaku NU dalam sebuah kontestasi politik atau perebutan jabatan birokrasi.
Sisi positifnya memang jumlah warga NU dari kaum menengah ke atas semakin meningkat, tapi sisi negatifnya jauh lebih besar.
Keturunan anti NU yang berinfiltrasi ke dalam NU kemudian ngaku-ngaku NU akan membahayakan NU dalam jangka panjang, ibarat bom waktu yang sedang ditanam secara masif di dalam kompleks bangunan besar bernama NU.
Selain itu, kader asli NU, warga asli NU, keturunan asli NU, kader asli NU yang berjuang untuk NU sejak dari IPNU hingga PMII akan kurang teraktualisasikan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka yang berjiwa dan berdarah asli NU hanya akan menjadi penonton sejarah di sebuah negara atau daerah yang sedang dipimpin oleh orang NU.
Demikian kura-kura.
*)Penulis adalah Penasehat GMNU Jatim/Bendum IKA PMII Jatim
