
Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH.Jurnalis Senior Jawa Timur.
Piala AFF U-19 merupakan salah satu ajang sepak bola usia muda paling prestisius di kawasan Asia Tenggara yang telah mengukir sejarah panjang sejak edisi pertamanya pada tahun 2002.
Turnamen ini yang diselenggarakan secara rutin hingga telah mencapai 20 edisi, tidak hanya melibatkan negara-negara anggota ASEAN, tapi juga mengundang beberapa tim dari luar kawasan sebagai peserta undangan.
Tujuan utama dari kompetisi ini adalah memfasilitasi pengembangan dan pembinaan pemain muda berbakat yang kelak menjadi tulang punggung tim nasional senior di level regional maupun dunia internasional.
Dalam perjalanan kompetisi selama lebih dari dua dekade, Australia muncul sebagai kekuatan dominan dengan koleksi enam gelar juara, diraih pada tahun 2006, 2008, 2010, 2016, 2019, dan yang terbaru pada 2026.
Keberhasilan tersebut menunjukkan konsistensi dan kualitas luar biasa dalam membina talenta muda mereka. Posisi kedua dihuni oleh Thailand yang juga memiliki catatan impresif yakni lima kali meraih piala pada 2002, 2009, 2011, 2015, dan 2017.
Sementara itu Indonesia secara bertahap menorehkan prestasi gemilang dengan dua kali keluar sebagai juara, yakni pada 2013 setelah menaklukkan Vietnam melalui adu penalti, dan kemudian pada 2024 dengan kemenangan 1–0 melawan Thailand.
Selain itu, negara-negara ASEAN lain juga turut mencicipi gelar juara. Myanmar berhasil menjadi juara dua kali pada tahun 2003 dan 2005, disusul Malaysia yang meraih dua gelar pada tahun 2018 dan 2022. Vietnam juga tidak kalah sukses dengan sekali menjuarai kompetisi pada 2007.
Keunikan turnamen ini adalah keterlibatan tim undangan dari luar ASEAN yang pernah meraih gelar, seperti Iran pada 2012 dan Jepang pada 2014, menambah warna persaingan dan meningkatkan kualitas kompetisi.
Dalam hal rekor penampilan di final, Thailand memegang catatan tertinggi dengan sembilan kali mencapai partai puncak, meraih lima juara dan empat kali menjadi runner-up. Salah satu momen paling mencolok adalah kemenangan terbesar di final yang dicatat Thailand saat menundukkan Vietnam dengan skor telak 6–0 pada tahun 2015.
Sorotan lain yang menarik adalah rekor gol individu dalam satu edisi turnamen yang masih dipegang oleh dua pemain bintang. Egy Maulana Vikri dari Indonesia pada 2017 dan Nguyễn Xuân Nam dari Vietnam pada 2011 masing-masing mencetak delapan gol, menunjukkan tajamnya ketajaman lini depan mereka di usia muda.
Perjalanan Indonesia dalam turnamen ini juga patut diapresiasi melalui empat kali menempati posisi juara ketiga pada 2005, 2017, 2018, dan 2026. Hal ini sejajar dengan prestasi Vietnam dan Thailand yang juga empat kali meraih podium ketiga, menegaskan konsistensi ketiga negara sebagai kekuatan utama sepak bola usia muda di kawasan.
Dari sisi statistik pertandingan, Piala AFF U-19 memiliki rata-rata gol per pertandingan sekitar 3,2, menandakan daya saing dan kualitas serangan para peserta yang menghibur. Salah satu pertandingan dengan skor tertinggi terjadi di final 2018 antara Malaysia dan Myanmar yang berakhir dramatis 4–3 untuk kemenangan Malaysia.
Secara keseluruhan, kisah perjalanan Piala AFF U-19 tidak hanya menjadi catatan kompetisi sepak bola semata, tetapi juga cerminan pengembangan talenta masa depan sepak bola ASEAN yang terus berupaya meraih kejayaan di kancah regional dan internasional.
Dengan sejarah yang kaya dan prestasi yang terus bertambah, Piala AFF U-19 tetap menjadi panggung utama yang menginspirasi generasi muda untuk mengejar mimpi dan mengukir nama bagi negara mereka.
