In Memoriam Ika Parwati Ganthari Alumni FKIP UJ 86

 

Innalilahiwainailaihi rojiun. Telah meninggal dunia sahabat kita Ika Parwati, alumni FKIP Unej angkatan 86, Istri dari teman kita Hari Cucun Ganthari, alumn Fisip Unej 86, pemilik ayam Bakar Ganthari Bulungan Blok M, tadi sore menjelanng mahrib di RSP Pertamina. Kena serangan jantung. Ikut berduka cita yang mendalam. Semoga chusnul khotima. Berikut ini laporan Singgih Sutoyo:

Ika Parwati, satu kampung dengan saya asal Desa Buluagung Kec Siliragung Kab Banyuwangi. Kakaknya Marheni satu kelas dengan saya. Sedangkan Ika beda kelas jauh, dia kelas satu saya sudahkelas 6. Ayahnya pak Saijan.
Saat kuliah di Unej Jember, saya masuk FKIP angkatan 80. Sedangkan Ika masuk FKIP angkatan 86. Saya lulus kuliah, Ika baru masuk.

Tapi saat dia kuliah masih sering ketemu dia main ke rumah saya di selatan Gladak Kembar Jember.
Setelah Ika lulus kuliah menikah dengan Hari Cuncun alumni Fisip Unej angkatan 86. Terus hijrah ke Jakarta membuka usaha ayam bakar Ganthari di Blok M.
Adalah Ika, alumni Jurusan Prodi Ekonomi FKIP Unej angkatan 86 sukses mengelola usaha rumah makan Ayam Bakar Ganthari. Dia merintis awal berdirinya Ayam Bakar Ganthari pada tahun 1995 silam.

Tadinya ke Jakarta mengikuti suaminya Hari, juga alumni Fisip Unej angkatan 1986, kebetulan mendapat pekerjaan di Jakarta. Padahal saat tinggal di Malang, Ika sudah merintis usaha home industry produksi tas. Saat pindah ke Jakarta itulah, dia tiba-tiba ada niat untuk membuka warung kuliner ayam bakar.

Saat itu Ika langsung menelpon Heny kakaknya yang di Surabaya menanyakan resep membuat ayam bakar. “Saya itu gak bisa masak dan tidak tahu bagaimana memasak ayam bakar”, ujarnya.

Tidak menyangka bila Ayam Bakar Ganthari yang awalnya hanya warung sederhana di pojok Bulungan Blok M, kini berkembang sedemikian rupa. Nama Ayam Bakar Ganthari sudah sangat dikenal di kalangan pecinta kuliner Jakarta. Tempatnya kini lebih nyaman dan luas, berderet meja yang selalu dipenuhi pelanggan.

Ada juga ruangan beberapa meja untuk lesehan, selain meja-meja yang tumpah sampai trotoar. Ruangan diluar terdapat payung tenda yang artistic mengesankan lebih santai bagi pelanggannya.

Resep dari Hany kakaknya itulah yang awalnya dijadikan patokan. Hari pertama jualan sebanyak 7 ekor ayam, ternyata dagangannya sangat laris. Menempati petak bangunan non permanen ukuran 3X 4 dari hari kehari dagangannya laris terus. Dari bahan 7 ekor juga terus bertambah. Dagangan tidak pernah sepi. Jualan hanya pada malam hari saja. Ditangani sendiri dibantu suaminya sepulang kerja kantoran.

Ika merasa selama jualan tidak pernah merasakan susah, selalu laris dan menyenangkan. Kalau ada yang menanyakan apa suka duka berjualan ayam bakar, saya menjawab tidak pernah marasa duka, tapi sebaliknya merasa senang terus”, ujarnya.

Untuk mendapatkan rasa ayam bakar yang enak dan lezat memang tidak mudah. Apalagi Ika belum memiliki pengalaman berjualan ayam bakar. Tak heran bila hari-hari awal berjualan masih berantakan, baik rasa maupun bentuknya. Ayam bakarnya hancur dan rasa sambalnya selalu berubah-ubah karena uji coba dan uji rasa terus, sampai akhirnya menemukan formula lezat yang sekarang ini,

Sampai beberapa bulan kemudian anak pertamanya lahir yang diberi nama Ganthari. Sejak saat itulah nama itu menjadi nama usaha Ayam Bakar Ganthari. Nama Ayam Bakar Ganthari saat ini sudah memiliki branded yang terkenal di Jakarta.

Nama Gantha artinya yang diharapkan atau yang diinginkan. Sejak menggunakan nama Ganthari usaha ayam bakarnya berkembang sangat pesat, omzetnya juga kian meningkat. Sekitar tahunn 2000 an mengalami booming, Ganthari di Bulungan Blok M setiap harinya sangat berjubel dan antrian panjang. Bahkan nama Ganthari juga diartikan ganti antrian.

Usaha Ayam Bakar Ganthari juga mengalami pasang surut. Saat booming diantara tahun 2000 sampai 2008 mengalami puncaknya. Perhari bisa memotong 800 hingga 900 ekor ayam. Dari sisi jumlah bahan ayam saat ini bisa dibilang turun sampai 500 ekor perhari.

Diakui Ika, sekarang ini makin banyak tumbuh menjamur usaha kuliner di setiap pojok kota dan kampung di Jakarta.

Namun Ika membuat solusi untuk mendongkrak omset penjualan dengan menambah varian menu makanan dan minuman, tidak hanya terbatas ayam bakar tapi juga menambah varian seperti sop ayam, sop buntut, bebek bakar, pecel, dimsun, aneka minuman jus dan es doger. Disamping dimunculkan menu warung ndeso Ganthari, menu seperti Warteg. Demikian kalau awalnya buka sore hingga malam hari, maka kini Ayam Bakar Ganthari buka dari pagi jam 10.00 hingga malam hari.

Bahkan di beberapa kawasan Jakarta juga berdiri cabang Ayam Bakar Ganthari, setidaknya sampai saat ini yang masih bertahan ada 8 cabang di Jakarta dan 1 cabang bekasi yakni Ayam Bakar Ganthari.

Summarecon Mall Bekasi Lantai Dasar, Bekasi Food City Unit BFC – IC – 15, Jl. Bilevar Ahmad Yani Blok M, Bekasi Barat. Ayam Bakar Ganthari Cawang Ruko Dewi Sartika, Jl. Dewi Sartika No. 294 Cawang – Jakarta Timur . Ayam Bakar Ganthari Cilandak Cahaya Swalayan, Jl. Cilandak KKO No. 112Cilandak – Jakarta Selatan.

Ayam Bakar Ganthari Fatmawati ITC Fatmawati Unit 20, Komplek Niaga Duta Mas,Jl. RS. Fatmawati Fatmawati – Jakarta Selatan Ayam Bakar Ganthari Gandaria Jl. Gandaria Tengah VII No. 1Kebayoran Baru – Jakarta Selatan. Ayam Bakar Ganthari Kebayoran Baru Cikajang/Santa Ayam Bakar Ganthari Kelapa Gading Gading Food City UNit C #101, Jl. Bulevar Kelapa Gading Blok M.

Kepergin Ika yang tiba-tiba dan sangat mendadak, sungguh sngat mengejutkan. Kami teman-teman Ika merasa sangat kaget dan sangat kehilangan. Semoga almarhumah mendapat tempat yang layak disisi Allah SWT, smg husnul hotimah….aamin Rob alamin