Banyuwangi Menuju Wilayah Ramah Lansia Yang Tingkatkan Usia Harapan Hidup Yang Sejahtera Nan Bahagia

BANYUWANGI: MenaraMadinah. Com. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang mempunyai 17 persen Lansia ikhtiar meningkatkan usia harapan hidup menjadi 75 tahun yang mandiri, sejahtera nan bahagia. Juga agendakan tahun depan ada jambore Lansia mengenang Lansia persami kemah pramuka.

Pemikiran itu mengemuka dalam Rembuk Lansia 2026 yang digelar Bappeda Banyuwangi di De’ Gentong Guesthouse & Resto, Bakungan, Glagah, Rabu (3/6/26).

Sekretaris Daerah Banyuwangi, Dr. H. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si yang baru sehari dilantik Bupati di Pendopo hadir langsung dan berdialog dengan komunitas lansia seperti PWRI, Gerontologi. LVRI,DHC’45, Pepabri, Senam LTK,Kosti, JRKBB, Panti Sahabat Jompo dan Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima. Juga ada lembaga Baznas, Lazismu, dan Lazisnu serta OPD terkait yang hadir seperti kemenag, dinas pendidikan, DPMD, Dinas Kesehatan, Bagian Kesra, Disnakertransperin, dan Dinas PUCKPP.

Dalam sambutannya ia menegaskan fase lanjut usia sebagai masa depan semua orang. Sebuah keniscayaan.

“Kebijakan itu seperti lukisan. Ia indah jika semua orang yang memandangnya merasa nyaman. Jika belum nyaman, berarti lukisannya belum selesai,” ujar Yayan-demikian panggilan akrabnya yang sudah 1.500 kali jadi narasumber termasuk di depan pimpinan polri dan daerah.

Rembuk melahirkan sejumlah usulan konkret. Mulai Jambore Lansia, revitalisasi Gedung Juang’45 agar ramah lansia, penguatan Posyandu dan terapi kesehatan.

Yayan juga mendorong pengembangan wisata ramah lansia. Ia menyebut ada investor luar daerah yang berminat membangun wisata khusus lansia di Banyuwangi. Potensi wisata jalan kaki 100 km dari pantai ke Ijen dengan menginap di rumah warga disebut sudah laku Rp2,5 juta paket 3 hari 2 malam.

Sekda menegaskan Gedung Juang boleh dipakai komunitas lansia untuk kegiatan sosial secara gratis. Namun untuk kegiatan komersial tetap dikenai biaya demi peningkatan PAD.

Data yang dipaparkan menyebut angka harapan hidup Banyuwangi 74 tahun akan ditingkatkan setahun dan lebih tinggi dari Yogyakarta yang baru mencapai 70 tahun. Populasi lansia mencapai 17 persen dari total penduduk, di atas rata-rata nasional.

Forum juga menyoroti tumpang tindih bantuan. Bappeda diminta melakukan inventarisasi dan validasi ulang data di tingkat RT agar bantuan tepat sasaran. Konsep “Lansia Peduli” disepakati, dengan lansia aktif melaporkan tetangga yang membutuhkan bantuan secara berjenjang.Bila APBD dan APBDes tak memungkinkan ada sinergi dengan lembaga amil zakat.
“Kami ada program dari provinsi dan inovasi kabupaten. Tentunya tak sekedar menyalurkan distribusi bantuan, bagaimana sekda optimalkan pemasukan lewat ASN dan CSR! ” tutur komisioner Baznas Nanang Khairurrozik, S.HI.
Dr. H. Soekarjo ungkapkan hendaknya tak sekedar untuk anggota organisasi, tapi forum melahirkan kebijakan untuk semua lansia. Sementara itu Bung Aguk dari Perkumpulan Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima mendesak Bupati segera pemberdayaan Komda Lansia melalui SK, fasilitasi sekretariat bersama hingga aktivitas seperti Hari Lanjut Usia Nasional maupun festival tempo doeloe juga digodok di rumah Komda ini yang ada regulasi nasionalnya. “Lembaga kami juga berkenan advokasi hukum yang ramah lansia serta mendampingi lansia bermedia sosial guna terhindar share hoax ataupun penipuan online! ”

Di akhir acara, peserta belajar membuat batik ecoprint dan lepet. Mereka juga menikmati Nasi Tempong, Pelasan, dan sayur kelor khas Banyuwangi.

Panitia yang dikoordinasi Kabid Lusi Herawati didampingi mantan Kadinsos Peni Handayani dan tim ahli dengan koordinator Dr. Nur Anim Jauhariyah, S.Pd., M.Si bertekad Pemerintah berkomitmen melaksanakan aspirasi yang jadi rekomendasi rembuk. “Kami buatkan notulensi dan juga kuisoner digital untuk kajian ilmiah yang menjadi pertimbangan bahan musrenbang dan kebijakan sesuai aspirasi yang berkembang! ” ungkap Anim yang dosen Umsyiah dan sekretaris Forum Banyuwangi Sehat ini.
(Aguk Wahyu Nuryadi)