Menyulam Kepemimpinan Masa Depan: Gus Yahya dan Misi Regenerasi Banser di Abad Kedua NU .

 

Oleh : Imam Kusnin Ahmad SH.Jurnalis Senior dan Eks Kepala Corps Provost Banser ( CPB ) Nasional Masa Khidmat 2018-2024.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, memberikan arahan strategis dalam pelaksanaan Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) Angkatan VIII tahun 2026, yang diselenggarakan di Pusdik Binmas Lemdiklat Polri, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam membangun kualitas kader Banser serta memperkuat proses kaderisasi di tubuh NU secara menyeluruh.

Dalam arahan beliau, Gus Yahya pernah menegaskan, “Pengabdian tidak hanya soal niat tulus, tetapi juga harus dibarengi ilmu dan integritas yang kuat,” ujar
Gus Yahya.

Pernyataan tersebut menjadi pijakan bagi pembentukan kader Banser yang tidak hanya memiliki semangat pengabdian tinggi, tetapi juga didukung oleh intelektualitas dan integritas yang kokoh.

Gus Yahya menjelaskan bahwa sistem kaderisasi berjenjang yang diterapkan di Gerakan Pemuda Ansor dan Banser—dari PKD, PKL di Ansor, hingga Diklatsar, Susbalan, dan Susbanpim di Banser—telah diadaptasi oleh PBNU melalui PKPNU, PMKNU, dan AKNU.

Sistem ini bertujuan membangun postur jam’iyah yang tangguh dan siap menghadapi tantangan abad kedua NU dengan kepemimpinan yang matang dan adaptif terhadap dinamika sosial, keagamaan, dan kebangsaan.

Perlu diketahui, pada Susbanpim Perdana yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, di era Ketua PP Ansor H. Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Gus Yahya belum memberikan materi dan pengarahan. Hal ini menunjukkan perkembangan keterlibatan beliau yang kemudian dimulai secara aktif sejak Susbanpim I di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, pada masa kepemimpinan Nusron Wahid.

Gus Yahya menegaskan bahwa Ansor dan Banser merupakan elemen kinetik NU, yakni motor penggerak pelopor keberlangsungan jam’iyah. “Kader NU harus menjadi motor perubahan yang bergerak dalam satu irama, dengan visi dan integritas yang sama agar bisa menghadapi tantangan masa depan secara efektif,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan pentingnya soliditas dan kesatuan visi untuk menggerakkan organisasi secara responsif dan terarah.

Terkait sejarah penyelenggaraan Susbanpim, meski Gus Yahya konsisten memberikan pembekalan sejak era berikutnya, pada Susbanpim II di Yogyakarta tahun 2004 terdapat dinamika pelaksanaan yang belum memenuhi standar pelatihan kepemimpinan dan akibatnya acara tersebut dianggap tidak valid. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga dalam pengembangan dan perbaikan proses kaderisasi kedepan.

Melihat tantangan zaman, Gus Yahya mengajak agar pengembangan kader Banser diiringi dengan inovasi, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan metode pembelajaran interaktif. Pendidikan kader perlu memperkuat kemampuan kepemimpinan, pemahaman sosial, dan wawasan kebangsaan guna menghasilkan pemimpin yang siap menghadapi era modern.

Susbanpim Angkatan VIII di Banyubiru menjadi bukti komitmen PBNU, PP GP Ansor, dan Satkornas Banser dalam menyiapkan generasi pemimpin Banser yang berwawasan luas dan inovatif. Sinergi antara intelektualitas, spiritualitas, tradisi, dan inovasi menjadi kunci agar Banser tetap menjadi ujung tombak dan kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan gerakan NU di Indonesia.

Kita semua diharapkan untuk mendukung dan mengawal proses kaderisasi ini sebagai tonggak kemajuan NU demi masa depan yang lebih cerah, berdaya saing, dan penuh harapan.*Wallahu A’lam Bisshawab*