Hadapi Lahan Sempit dan Biaya Tinggi, Pemkot Blitar Dorong Petani “Bersahabat” dengan Teknologi dan Anak Muda.

BLITAR–Masalah penyusutan lahan, kenaikan harga pupuk, hingga fluktuasi harga hasil panen menjadi tantangan nyata yang dihadapi petani Kota Blitar saat ini. Menjawab hal tersebut, Pemerintah Kota Blitar merangkumkan strategi utama dalam kegiatan Panen Raya Padi 2026: mempercepat penggunaan alat mesin pertanian untuk efisiensi biaya, serta mengajak generasi muda terlibat melalui pengembangan tanaman bernilai ekonomi tinggi.

Wali Kota Blitar, H. Syauqul Muhibbin (Mas Ibin),
menekankan bahwa dukungan pemerintah tidak hanya berhenti pada bantuan sarana, tetapi juga memastikan hasil panen terserap pasar demi kesejahteraan petani yang berkelanjutan.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 250 undangan ini turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, perangkat daerah terkait, perwakilan Bulog, Badan Pusat Statistik, hingga perwakilan kelompok tani se-Kota Blitar. Di tengah hamparan padi yang menguning, suasana berlangsung penuh semangat dan harapan. Momen paling menarik terjadi ketika Wali Kota Mas Ibin turut mencoba langsung mesin pemanen modern bantuan Kementerian Pertanian, yang menjadi simbol nyata perubahan wajah pertanian di Kota Blitar.

Dalam sambutannya, Mas Ibin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para petani yang tetap konsisten menggeluti sektor pertanian meski menghadapi berbagai kendala. “Pilihan menjadi petani adalah pilihan yang sangat mulia. Kalian adalah tonggak utama pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.

Ia mengakui, tantangan yang dihadapi petani saat ini tidaklah ringan. Selain lahan pertanian yang semakin menyempit seiring berjalannya waktu, petani juga dibebani masalah mahalnya harga pupuk, ancaman serangan hama, hingga fluktuasi harga gabah yang sering kali merugikan saat masa panen tiba.

Karena itu, Pemkot Blitar mendorong perubahan pola pikir dan cara bertani. “Petani masa kini harus bersahabat dengan teknologi. Ini kunci agar produktivitas tetap tinggi meski lahan terbatas, serta biaya produksi menjadi lebih efisien,” tegasnya.

Penggunaan alat mesin pertanian menjadi fokus utama dukungan pemerintah. Mas Ibin mencontohkan perbedaan yang sangat signifikan antara cara panen manual dengan teknologi modern. “Kalau panen manual, lima orang butuh waktu satu minggu atau lebih untuk menyelesaikan satu hektar lahan. Tapi dengan mesin pemanen modern, satu hektar bisa selesai hanya dalam 3 hingga 4 jam saja,” jelasnya.

Keunggulan teknologi tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga penghematan tenaga dan biaya. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan bersih yang diterima petani. Pemerintah pun berkomitmen memfasilitasi seluruh mata rantai pertanian, mulai dari penyediaan benih, pengolahan lahan, pemeliharaan, hingga pascapanen. Bahkan dalam kegiatan ini, Bulog juga hadir dan siap menyerap gabah petani agar hasil panen terserap pasar dengan harga yang layak.

“Dukungan tidak boleh berhenti pada alat atau benih saja. Kita harus pastikan hasil panen memiliki pasar yang jelas dan menguntungkan, agar petani kita semakin makmur dan pendapatannya meningkat,” tambah Mas Ibin.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar, drh. Dewi Masitoh, melaporkan bahwa panen raya kali ini dilakukan di lahan seluas 35,71 hektar milik Kelompok Tani Rumpun Tani 4. Berdasarkan hasil pengukuran Badan Pusat Statistik, produktivitas padi varietas Sri Dewi yang dipanen mencapai angka luar biasa, yakni 8,5 ton per hektar.

Angka ini membuktikan bahwa meskipun berada di wilayah perkotaan dengan lahan terbatas, pertanian di Blitar tetap mampu bersaing dan menghasilkan panen melimpah. “Ini capaian yang membanggakan dan bukti nyata dukungan pemerintah serta kerja keras petani berbuah manis,” ujar Dewi.

Selain penyediaan alat, DKPP juga terus memperbaiki akses irigasi dan mendistribusikan benih unggulan guna memastikan proses pertanian berjalan lancar dan biaya tetap terjangkau bagi petani.

Regenerasi & Pertanian Bernilai Ekonomi Tinggi

Mas Ibin juga menyoroti pentingnya melibatkan generasi muda dalam sektor pertanian. Menurutnya, anak muda memiliki keunggulan dalam hal kreativitas dan adaptasi terhadap teknologi, yang sangat dibutuhkan untuk memajukan sektor ini. Namun, rendahnya minat anak muda disebabkan oleh nilai ekonomi pertanian konvensional yang dirasa kurang menjanjikan.

Untuk mengatasi hal ini, Mas Ibin mendorong pengembangan jenis tanaman bernilai ekonomi tinggi. “Kita harus mengubah pola lama. Ajak anak muda berkreasi, kembangkan tanaman yang harganya menjanjikan, agar pertanian menjadi sektor yang menarik dan membanggakan bagi mereka,” katanya.*Imam Kusnin Ahmad*