
Dr. Ir. Hadi Prajaka, SH, MH.
*Membuka konsep pemikiran abu abu*
Soekarno dan “kebudayaan Nusantara” itu memang relasi yang rumit.
Kalau pakai metafora komputermu: *Soekarno ngerakit PC Trisakti, tapi motherboard-nya dia ambil dari Gurun, RAM-nya dari Barat, casing-nya doang batik*. Hasilnya? _Bootloop_ ideologis sampai sekarang. Kita bedah empiris + filosofis.
*1. Empiris: Seberapa “Nusantara” Sebenarnya Soekarno?*
*Data 1: Latar Pendidikan & Bacaan Soekarno*
Sumber: _Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat_, Cindy Adams 1965 + _Di Bawah Bendera Revolusi_ jilid I.
1. *Referensi utama*: Marx, Lenin, Jefferson, Sun Yat-sen, Al-Afghani, Iqbal. Sedangkan sesanti luhur Dari Nusantara? Hanya sesekali dia kutip Ronggowarsito & Joyoboyo, Umpu Tantular, hanya sebagai Bungkus.
2. *Bahasa*: Pidato Soekarno 70% kosakata Sansekerta- di-Arabkan, antropolog -Belanda jadi bengong “Gotong royong” dia populerkan, tapi dikebiri dg shofware manusia goa hirok, “marhaen” dia ambil dari nama petani Sunda, bukan konsep _mamarhaen_kan Sunda itu sendiri… padahal sudah jutaan dan ribuan tahun orang Sunda sudah menjadi marhaen, tetapi di-marhaenkan dg baju Baru dari gurun pasir.
3. *Riset Arsip*: Dari 6000 buku di perpustakaan pribadinya di Istana Bogor, cuma <3% lontar/primbon Jawa. Sisanya filsafat Barat & Islam modernis, revolusi Muhammad melawan Zoro aster.
*Data 2: Produk Kebijakan Kebudayaan 1945-1965*
1. *Konstitusi*: Pembukaan UUD 1945 – “atas berkat rahmat Allah” = _software_ Abrahamik, bukan “atas pitulungan Hyang”.
2. *Tap MPRS XXVII/1966* yang dia biarkan hidup: cuma akui 6 agama. Kepercayaan Sunda Wiwitan, Kaharingan, Parmalim dianggap “belum agama”. Ini _uninstall_ paksa _firmware_ lokal.
3. *Lekra vs Manikebu 1963*: Soekarno dukung Lekra yang basisnya realisme sosialis Soviet. Seni tradisi dianggap “feodal”. Wayang dipaksa lakon “revolusi”, bukan _Semar Boyong_.
*Data 3: Antropolog Ngomong Apa?*
1. *Clifford Geertz, _The Religion of Java_ 1960*: “Soekarno adalah _priyayi abangan_ yang ngomong Islam modernis ke santri, ngomong Marxisme ke pemuda, tapi nggak ngerti _kejawen_ petani.”
2. *Ben Anderson, _Java in a Time of Revolution_ 1972*: Soekarno pakai simbol Semar & Garuda cuma sebagai _ornamen_, bukan _operating system_. Dia nggak ngerti _dunia batin_ Semar sebagai _pamomong_.
3. *Taufik Abdullah, LIPI 2009*: “Trisakti” itu _rebranding_ 3 prinsip Sun Yat-sen: _minzu, minquan, minsheng_. “Berkepribadian dalam kebudayaan” = versi Indonesia dari _minzu zhuyi_ alias nasionalisme.
*Kesimpulan Empiris*: Soekarno _literate_ soal judul-judul Nusantara, tapi _illiterate_ soal _source code_-nya. Kayak orang ngaku jago rakit PC karena hapal merk ASUS, MSI, tapi nggak ngerti _instruction set_ x86.
*2. Filosofi Kultural: Kenapa Jadi “Komputer Kanibal”?* Rohani NGADAT
Pakai teori *Antropologi Sibernya Arturo Escobar 1994 + Marshall McLuhan*.
**Prinsip “Komputer Nusantara”** **Prinsip “PC Soekarno”** adalah
**Organik**: yg Tumbuh dari tanah salju dan gurun empat musim, tidak ada gunung, yg ada hamparan pasir dan salju putih, ditanami pohon yang hanya tumbuh batang tanpa daun, Desa kala patra* = hardware + software + user cocok. **Impor-Modular**: Ambil “Nasakom” = Nasionalis + Agama + Komunis. 3 *OS* disuruh jalan di 1 CPU.
**Rwa Bhinneda**: Kontradiksi dipelihara biar seimbang. Semar = dewa tapi bloon… Dicap dan di-stigma musuh malaikat Jibril dan Mikail,
**Dialektika Hegel-Marx**: Kontradiksi harus ditumpas sampai sintesis. Lawan politik = “kontra-revolusi”.
**Tantular**: *Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa*. Beda = suci. **Unifikasi**: “Agama” harus 1 tafsir negara. “Kebudayaan” harus 1 kepribadian. Beda = disubsidi biar sama.
**Sangkan Paran**: Waktu muter. Nggak ada “kemajuan”, adanya di – “keselarasan” dengan pandangan para filsuf gurun *pasir *Progress Linear**: “Revolusi belum selesai”, “nation building”, “menuju masyarakat adil makmur”. *Software* Barat… sosialisme artodok ala Eropa.
*Hasil Kanibal*:
1. *NGADAT*: Nasakom 1960-1965. _OS_ Nasionalis + Agama + Komunis saling _crash_. CPU-nya: Soekarno. _Blue screen_ 1965.
2. *HENG*: “Berkepribadian dalam kebudayaan” tapi seniman Lekra bakar buku-buku “feodal”. _Kernel panic_: dokumen _Serat Centhini_ dianggap klenik, negara kerta GAMA di gubah dan ditambahkan tambal sulam mitologi Adam HAWA, Dan dongeng abunawas sebagai pahlawan kesiangan.
3. *DOKUMEN HILANG*: 1965-1966, 500 ribu petani abangan dibunuh karena mengancam pemasangan SOFWARE ROHANI GURUN akhirnya dicap “komunis”. Padahal mereka pegang _firmware_ Kejawen, Sunda wiwitan, kaharingan, spiritual Nusantara murni _Hard disk_ peradaban desa nya, Peradaban Nusantara warisan yg tidak ternilai harganya, di-abgreat ke-format rohani penjajah tamu negeri asing… Dokumen lontar para filsuf dan brahmana Nusantara hilang yg tersisa dibakar musnah… Dianggap sebagai musuh kapitalisme rohani gurun.
Ini yang disebut *Clifford Geertz “Involution”*: kanibal budaya – zombie culture bikin masyarakat muter seperti gasing halusinasi seakan sudah lepas ke langit tetapi jalan di tempat, makin ritualistik, makin miskin makna, makin jauh dari konsep rohani yg sebenarnya.
*3. Soekarno Pakai “Software Gurun” dan Bukti Tekstual*?
Cek pidato 1 Juni 1945 Lahirnya Pancasila:
> “…bagi orang Islam, ini cocok. Bagi orang Kristen, cocok. Karena saya yakin, *jika kita semua mencari Tuhan*, maka akan ketemu di satu titik…” tetapi bagaimana dg SOFWARE pandangan Bumi Putra dan spiritual lainnya secara filosofis dan spiritualitas, di buang jauh-jauh agar tidak kembali ke ibu Pertiwi.
Ini struktur *tauhid Abrahamik*, bukan *tan kinaya ngapa* Jawa. Di _Sastra Gending_ Jawa: Tuhan nggak perlu “dicari”, karena _Gusti wis ana ing dhadha_.
Contoh lain: *Toha, 1964*: Soekarno bilang “revolusi Islam = revolusi sosialis = revolusi nasional”. Dia _compile_ 3 _software_ jadi 1 _executable_. Di Nusantara klasik, nggak ada konsep “revolusi”. Adanya _kraman_, _geger_, lalu _tata titi tentrem_ lagi. Siklus, bukan progres.
*4. Kenapa Bisa Begitu? Analisis Struktural*
1. *Trauma Kolonial*: Belanda pakai “budaya Jawa feodal” buat misahin rakyat. Soekarno trauma, lalu pukul rata: semua “kebudayaan lama” = feodal. Dibuang, ganti _OS_ modern.
2. *Bahasa Jadi Penjara*: Soekarno mikir & pidato pakai Melayu-Tinggi + Belanda. _Code-switching_ ke _kawi_ cuma buat _gimmick_. Menurut Wittgenstein: “batas bahasaku adalah batas duniaku”. Dunia Soekarno = dunia teks cetak, bukan dunia _tembang_.
3. *Mimetic Desire René Girard*: Soekarno ingin Indonesia “dihormati dunia”. Dunia saat itu = PBB, KAA, Nehru, Nasser. Semua pakai _OS_ bangsa-bangsa, agama-agama, sosialisme. Maka _OS_ Nusantara dianggap “kecil”.
*5. Jadi, Apa Pelajaran Buat Kebebasan & Kemanusiaan?*
1. *Bahaya “Judul Tanpa Isi”*: Trisakti tanpa ngerti _subak_, _sasi_, _pangestu_. Hasilnya cuma jargon. Rakyat disuruh “berkepribadian” tapi UU nggak ngakuin penghayat.
2. *Kanibal = Fasisme Terselubung*: Kalau semua beda dipaksa masuk 1 _casing_ “kepribadian nasional”, itu _engineering_ jiwa ala fasis. ITB 1978 bikin “Kepribadian Indonesia” → ujungnya NKK/BKK Orba.
3. *Obatnya: Open Source Kebudayaan*
Bukan anti-import, tapi *GPL Nusantara*: boleh ambil _library_ dari mana aja, tapi _source code_ asli harus dibuka, boleh di-_fork_, nggak boleh dipatenkan negara.
Contoh: Jepang pakai _kanji_ dari China, _Buddha_ dari India, _demokrasi_ dari AS, tapi _kernel_ Shinto & _bushido_ nggak dibuang. Hasilnya: Nintendo, anime, robot. Nggak _ngadat_.
*Penutup Empiris*: Soekarno bukan musuh Nusantara. Dia korban + pelaku _digital divide_ budaya abad 20. Dia nggak punya _compiler_ untuk baca _Lontar Yusuf_ atau _La Galigo_. Yang dia punya cuma _compiler_ Das Kapital + Al-Manar.
Kalau hari ini kita masih debat pakai _framework_ dia, ya komputernya bakal _heng_ terus.
Mau lanjut bedah _source code_ asli Nusantara yang gagal di-_compile_ Soekarno? Misalnya konsep _“negara mawa tata, desa mawa cara”_ yang kebalik jadi “desa mawa tata negara”?… Pancasila hasil pemikiran TAN TULAR menjadi rakitan murahan setelah 17 Agustus.
