Merah Putih Berkibar! Ki Ageng Ganjur Hanyutkan Ribuan Penonton di Bahori Festival Uzbekistan.

 

Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH Jurnalis Senior Jawa Timur.

Rasa bahagia dan bangga menyelimuti hati delegasi Indonesia. Di tengah kemegahan Bahori Festival di kota Boysun, Sukhandariya, Republik Uzbekistan, Bendera Merah Putih dengan gagah berkibar tinggi saat prosesi pembukaan.

Festival yang dibuka langsung oleh Gubernur Sukhandariya, Ulugbek Berdikobilovich Kasimov, pada 1 Mei 2026 ini diikuti oleh 39 negara dari seluruh dunia. Momen ini menjadi saksi bisu ketika seni budaya Nusantara hadir sejajar dengan kekayaan budaya dunia.

*Harmoni yang Menyatukan Dunia*

Usai upacara pembukaan, suasana menjadi sangat magis. Tanpa sekat negara dan bahasa, semua orang—seniman, penari, dan penonton—bergandengan tangan menari bersama. Batas-batas kebangsaan lebur dalam keindahan seni, menyatukan hati dalam satu irama persaudaraan.

“Allahumma berkah…”
Doa tulus terucap, semoga keindahan ini membawa berkah bagi bangsa dan dunia.

*Mengenal Ki Ageng Ganjur: Duta Damai Berwajah Santri*

Mewakili Indonesia adalah grup musik religi kontemporer asal Yogyakarta, Ki Ageng Ganjur, yang digawangi oleh budayawan Kang Zastrouw Al-Ngatawi, mantan Ketua Umum Lesbumi PBNU.

Grup unik ini berbasis instrumen gamelan dengan konsep akulturasi yang memadukan musik tradisional, Barat, dan Timur Tengah. Nama “Ki Ageng Ganjur” diambil dari tokoh murid Sunan Kalijaga atas usulan Gus Dur, dengan misi besar menjadikan musik sebagai media dakwah, perdamaian, dan toleransi lintas iman.

Memiliki rekam jejak internasional yang gemilang, mereka pernah tampil di Turki, Belanda, Aljazair, hingga Vatikan. Kini, giliran Boysun yang terpesona oleh keanggunan seni mereka.

*”Caping Gunung” dan Keajaiban Gamelan*

Pada penampilan resmi tanggal 2 Mei, Ki Ageng Ganjur tampil sebagai penampil ke-8. Dengan sangat apik, mereka memilih membawakan lagu Jawa klasik “Caping Gunung”.

Pemilihan lagu ini sangat tepat karena nuansa dan liriknya yang cocok dengan lokasi festival yang berada di kawasan pegunungan yang asri. Lagu ini dibawakan dalam dua komposisi memukau: versi Langgam yang lembut dan mistis, serta versi Sragenan yang dinamis dan bersemangat, diiringi gerakan anggun penari Eci.

Keunikan tampilan ini langsung mencuri hati ribuan penonton. Di antara alat musik tiup dan petik dari negara lain, kehadiran Gamelan terasa sangat eksotis dan unik.

Saat vocalis Chris Verani membuka dengan gaya bowo yang mendayu, seisi arena terdiam hening dan terhanyut. Ketika ritme berubah menjadi cepat dan energik, penonton langsung bersorak riuh, bertepuk tangan, dan ikut bergoyang. Transisi magis ini menjadi momen tak terlupakan.

*Dipuji Dunia, Diajak Kolaborasi*

Penampilan ini mendapatkan apresiasi luar biasa. Begitu turun panggung, rombongan diserbu ucapan selamat. Peserta dari negara lain, termasuk delegasi Yunani, begitu terkesan dan bahkan menyatakan keinginan kuat untuk berkolaborasi musik dengan Ganjur di masa depan.

Kemeriahan berlanjut saat acara makan malam. Dalam suasana santai, Ganjur membawakan lagu “Maumere” yang langsung mengajak semua tamu turun menari bersama. Suasana menjadi sangat akrab, hangat, dan penuh kekeluargaan.

Kisah ini membuktikan bahwa seni budaya Indonesia memiliki daya tarik universal yang mampu menyatukan dunia. Bangga kita bertemu di sana, Indonesia Raya.*Wallahu A’lam Bisshawab*