Mimbar Halu: Ketika Panggung Dakwah Isinya Dongeng, Bukan Dalil

Oleh: Sayyid Diar Mandala.

Surabaya, 3 Mei 2026 – Panggung dakwah seharusnya jadi menara ilmu. Tapi belakangan, banyak mimbar berubah fungsi jadi panggung teater. Isinya bukan Quran dan Hadis sahih, melainkan dongeng karomah, cerita mimpi, dan drama artefak yang diklaim peninggalan Nabi Muhammad SAW. Jamaah dibuat terbang, tapi bukan ke langit ilmu. Melainkan ke awan halusinasi.

Mimbar Tanpa Sanad, Jamaah Tanpa Nalar

Dalam tradisi Islam, mimbar adalah tempat menyampaikan burhan. Setiap klaim wajib punya sanad dan matan. Masalahnya, oknum pendakwah panggung hari ini lebih suka cerita. Ada yang ngaku dapat bisikan gaib soal kuburan keramat. Ada yang bawa kotak kaca isi rambut, katanya milik Nabi, tapi tidak pernah ada uji laboratorium.

Publik berhak bertanya: ini warisan kenabian yang terverifikasi sanadnya, atau sekadar benda yang asal-usul historisnya belum teruji? Begitu artefak keluar, akal jamaah mendadak logout. Kritik dibilang suul adab. Padahal Nabi SAW diutus dengan hujjah, bukan dengan pamer koleksi museum. Kalau klaim artefak dipakai untuk menarik dana, secara hukum berpotensi masuk Pasal 378 KUHP. Kalau disebar melalui media elektronik, dapat dijerat Pasal 28 Undang Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang ITE. Jadi mimbarnya bukan lagi menebar hidayah, tapi berpotensi menebar delik.

Muhibbin: Wajib Tabayun, Jangan Mau Dibohongi

Yang lebih mengkhawatirkan adalah sikap sebagian muhibbin dan masyarakat. Disodori ayat Quran, mengantuk. Dikasih Hadis sahih, bosan. Diajak berpikir kritis, pusing. Tapi begitu oknum pendakwah panggung bilang mimpi ketemu Nabi disuruh gali sumur, langsung takbir sampai menangis.

Fenomena di lapangan makin problematik. Usai ceramah, jamaah berebut air sisa minum penceramah. Ada yang antre minta diludahi agar berkah. Ada yang mencium kaki sambil menangis. Ditanya dalilnya mana, jawabnya ringan: pokoknya percaya saja.

Wahai muhibbin, wahai masyarakat: Islam memerintahkan tabayun. Jangan percaya pada pendakwah yang menyebar khurafat tanpa dalil. Cek dulu: ada di Quran tidak? Ada di Hadis sahih tidak? Kalau tidak ada, tinggalkan. Kalian bukan anak kecil yang harus dihibur dongeng sebelum tidur.

Ini namanya mimbar halu. Jamaah bukan dicerdaskan, tapi dihipnotis. Bukan diajak ke surga dengan ilmu, tapi diajak berhalusinasi dengan dongeng. Kalau zaman Nabi Ibrahim alaihissalam manusia sujud ke patung, sekarang ada yang sujud ke manusia dan kotak kaca. Beda bahan, pola kultusnya serupa.

Dampak: Aqidah Rusak, Kantong Terkuras

Secara aqidah, ini mengaburkan tauhid dan membuka pintu ghuluw. Secara sosial, lahir jamaah yang candu cerita gaib tapi alergi dalil. Secara ekonomi, agama berubah jadi industri. Sakralitas dijual eceran.

Secara hukum, jika ada unsur turut serta menyebarkan informasi yang patut diduga bohong, Pasal 55 KUHP dapat diterapkan. Dari kacamata maqashid syariah, ini jelas merusak hifzh al aql dan hifzh al din. Akal dibunuh, agama dikorupsi.

Kembalikan Mimbar ke Quran dan Sunnah

Wahai oknum di atas mimbar: Nabi SAW tidak mewariskan etalase. Beliau mewariskan wahyu dan sunnah. Hentikan menjadikan panggung sebagai tempat jualan dongeng dan artefak tanpa sanad.

Wahai muhibbin dan masyarakat: Kembalikan semua kepada ajaran Islam yang benar. Patokannya jelas: Al-Quran dan Hadis sahih. Kalau cerita tidak ada di dua sumber itu, buang. Isi kepala kalian mahal harganya. Jangan diisi halusinasi gratisan.

Mahabbah kepada Nabi itu ittiba, bukan ikut-ikutan menangis mendengar dongeng. Kyai sejati itu yang berani berkata ini tidak berdasar meski yang menyampaikan bergelar mulia. Karena ilmu tidak mengenal kasta, dan kebenaran tidak takut kualat.

Mimbar harus kembali jadi mercusuar ilmu, bukan jadi panggung ludruk. Bongkar mimbar halu sebelum anak cucu kita mengira agama ini isinya cuma cerita sebelum tidur.