Mantan Presiden Iran : Teladan Kesederhanaan dan Pengabdian yang Tak Lekang oleh Waktu .

Oleh : Imam Kusnin Ahmad SH. Jurnalis Senior dan PW ISNU Jawa Timur.

MANTAN Presiden Iran,Mahmoud Ahmadinejad lahir pada 28 Oktober 1956 di Garmsār, Iran. Ia adalah putra dari seorang pandai besi yang tumbuh besar dengan nilai-nilai kesederhanaan. Ia menempuh pendidikan Teknik Sipil dan meraih gelar doktor di bidang Perencanaan Transportasi di Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST).

Perjalanan politiknya dimulai sejak masa revolusi sebagai aktivis mahasiswa, kemudian bergabung dengan Garda Revolusi saat Perang Iran-Irak. Kariernya menanjak menjadi Gubernur Ardabil, Walikota Teheran, hingga akhirnya terpilih menjadi Presiden Iran selama dua periode (2005–2013).

Selama memimpin, ia dikenal sebagai sosok populis yang berani, tegas membela program nuklir negaranya, dan memiliki gaya diplomasi yang kontroversial namun penuh prinsip di mata pendukungnya.

*Teladan Kesederhanaan yang Menggetarkan Dunia*

Sama-sama menjabat Presiden, namun Ahmadinejad menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok. Jika di banyak negara jabatan sering identik dengan kekayaan berlimpah yang mampu membiayai tim pengacara ratusan orang, fasilitas mewah, dan gaya hidup elitistis, ia justru memilih jalan hidup yang sangat sederhana.

*Fakta Kejujuran dan Kesederhanaannya*:

– Kekayaan Minim: Saat dilantik, ia hanya melaporkan aset berupa mobil tua Peugeot 504 dan rumah warisan sederhana, tanpa harta kekayaan berlebih.

– Menolak Gaji Negara: Selama 8 tahun memimpin, ia tidak mengambil sepeser pun gaji presiden dari kas negara. Satu-satunya sumber penghidupannya hanyalah gaji sebagai dosen.

– Tidak Mengambil Hak Istimewa: Ia tidak pernah membuat undang-undang khusus demi mendapatkan pensiun tinggi pasca-jabatan, serta melarang keluarganya menggunakan fasilitas negara.

– Gaya Hidup Bersahaja: Ia menyederhanakan protokoler istana, menyumbangkan barang-barang mewah, hingga sering membawa bekal sendiri.

*Kembali Mengabdi sebagai Rakyat Biasa*

Setelah purna tugas pada tahun 2013, Ahmadinejad kembali ke profesi awalnya sebagai dosen. Meskipun masih duduk di badan penasihat tinggi negara, ia memilih hidup tenang.

Yang paling menginspirasi, ia tetap hidup seperti warga biasa: pergi mengajar ke kampus menggunakan transportasi umum (bus). Foto beliau berdiri atau duduk di dalam bus bersama masyarakat biasa menjadi bukti nyata bahwa jabatan dan kekuasaan tidak pernah merubah jiwa kesederhanaannya.

*Pesan untuk Para Pemimpin Dunia*

Kisah Mahmoud Ahmadinejad bukan hanya tentang hemat, tetapi tentang prinsip yang teguh: Bahwa pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan tuan yang harus dilayani.

Ia adalah cermin nyata bahwa seseorang bisa memimpin negara besar selama 8 tahun, namun tetap pulang dengan sahaja dan hati yang bersih. Semoga ini menjadi pengingat keras bagi semua pemimpin: Jabatan adalah amanah untuk mengabdi, bukan sarana memperkaya diri. Kesederhanaan dan integritas adalah warisan terindah yang akan selalu diingat sejarah.*Wallahu A’lam Bisshawab*