
JAKARTA– Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta bersama tim survei Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melakukan peninjauan intensif guna memastikan kesiapan Pondok Pesantren Al-Hamid Cilangkap sebagai lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
Kunjungan survei tersebut menandai langkah penting dalam persiapan agenda terbesar NU yang akan digelar di Jakarta, ibu kota negara yang berperan strategis. Wakil Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta, KH Ahmad Zahari, menegaskan kesiapan penuh dari pihaknya, yang mencakup kelengkapan fasilitas mulai dari akomodasi peserta hingga ruang sidang dan transportasi. Ia menyebut pesantren sebagai lokasi yang ideal karena menggabungkan tradisi pesantren dengan kemudahan akses kota metropolitan.
Selaras dengan itu, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU, H Sulaiman, menyoroti infrastrukur Jakarta yang memadai untuk menyambut ribuan peserta muktamar. Pilihan lokasi pembukaan acara pun sudah dipersiapkan dengan matang, termasuk venue seperti Gelora Bung Karno dan Jakarta Convention Center.
Persiapan yang telah berlangsung sejak 2023 ini menunjukkan komitmen jangka panjang PWNU dan PBNU untuk menyelenggarakan muktamar dengan lancar, sekaligus mengukuhkan posisi NU sebagai organisasi besar yang menjaga nilai keagamaan dan kebangsaan secara seimbang.
Tim survei dari PBNU, termasuk Ketua PBNU KH Fahmi Akbar Idris dan Wakil Sekretaris Jenderal HM Silahudin, didampingi para pimpinan PWNU Jakarta, memastikan bahwa semua aspek teknis dan nonteknis sudah terakomodasi dengan baik. Dukungan akses tol, bandara, serta fasilitas transportasi massal seperti KRL dan LRT Jabodebek menjadi nilai tambah lokasi ini.
Kapasitas akomodasi di sekitar pondok pesantren yang dapat menampung puluhan ribu peserta juga menjadi faktor kunci keberhasilan pelaksanaan muktamar yang diperkirakan menghadirkan peserta dalam jumlah besar.
Dengan persiapan yang matang dan dukungan lengkap, Pondok Pesantren Al-Hamid siap menjadi pusat berkumpulnya para kader NU untuk memantapkan visi dan misi organisasi dalam Muktamar ke-35.
Momentum ini sekaligus menjadi bukti sinergi kuat antara tradisi pesantren dan perkembangan urban dalam menjaga eksistensi NU bagi masa depan Indonesia.*Imam Kusnin Ahmad*
