
Oleh: Diar Mandala
Menaramadinah.com | Selasa, 21 April 2026
Setiap 21 April, bangsa ini mengenang Raden Ajeng Kartini. Namun, memaknai Kartini tidak cukup dengan kebaya dan sanggul semata.
Pada dasarnya, perjuangan Kartini adalah melawan “kegelapan” berupa kebodohan dan taqlid buta. Semangat inilah yang relevan untuk kita hidupkan kembali hari ini.
*1. Kartini Melawan Taqlid Buta dengan “Iqra’”*
Kartini hidup di zaman ketika perempuan dijauhkan dari ilmu. Lebih parah lagi, sebagian pemahaman agama kala itu dibungkus doktrin: “Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi”, “Cukup manut saja”. Padahal doktrin semacam itu bukan dari Allah Ta’ala.
Karena itu, Kartini memilih membaca. Beliau belajar Al-Qur’an, menulis surat, dan berdiskusi. Inilah wujud “iqra’” yang sesungguhnya. Allah SWT berfirman: “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” QS Az-Zumar: 9.
Dengan demikian, Kartini sejatinya sedang hijrah. Dari gelapnya taqlid buta, menuju terangnya ilmu yang bersumber dari wahyu.
*2. Kritik untuk Kita: Jangan Warisi Doktrin, Warisi Ilmu*
Hari ini, jebakan itu masih ada. Bentuknya baru: “Pokoknya ikut guru”, “Jangan banyak tanya”, “Nanti kualat”. Ini bukan mahabbah. Ini doktrin yang dibungkus agama, padahal tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an dan Hadis.
Oleh sebab itu, pesan Kartini untuk kita jelas: jangan halu. Jangan merasa sudah mulia hanya karena mengaku pengikut tokoh, padahal kosong ilmu. Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Barangsiapa menghendaki dunia maka dengan ilmu, barangsiapa menghendaki akhirat maka dengan ilmu”.
Maka, kembalilah. Hijrahlah ke jalan Allah dan Agama Islam yang benar. Ukurannya bukan kata manusia, tetapi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
*3. Kartini Ingin Perempuan Berdaya Karena Allah*
Kartini tidak menuntut perempuan melawan kodrat. Beliau menulis: “Kami mohon diusahakan pendidikan anak perempuan, bukan untuk menyaingi laki-laki, tetapi karena yakin akan pengaruhnya yang besar”.
Artinya, Kartini ingin perempuan berilmu agar mampu menjadi “ummu wa rabbatul bait” yang cerdas. Mendidik anak dengan tauhid, bukan dengan doktrin. Menjadi istri yang menenangkan, bukan yang memprovokasi.
Jadi, niatnya harus lurus: karena Allah Ta’ala. Bukan karena ingin viral, bukan karena takut tokoh, bukan karena doktrin kelompok.
*4. Warisan Kartini: Tinggalkan Halu, Pegang Wahyu*
Untuk menjadi “Kartini Masa Kini”, rumusnya sederhana:
Warisan Kartini Wujud Hijrah Hari Ini
“Semangat Belajar” Tinggalkan taqlid buta, kembali baca Al-Qur’an & Hadis dengan bimbingan ulama
“Keberanian Menulis” Dakwah dengan ilmu, bukan dengan emosi dan doktrin
“Cinta Keluarga” Didik anak dengan tauhid, bukan dengan takut kualat kepada manusia
Penutup: Habis Gelap Terbitlah Terang
Oleh karena itu, “Habis Gelap Terbitlah Terang” versi Muslimah hari ini adalah: habis gelapnya doktrin, terbitlah terangnya wahyu. Habis gelapnya taqlid buta, terbitlah terangnya ilmu.
Maka, mari kita jadikan Hari Kartini sebagai momentum hijrah. Kembali kepada Allah, kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Jangan halu merasa selamat hanya karena ikut barisan, padahal niatnya bukan karena Allah.
Sebab hanya dengan ilmu dan tauhid, perempuan Nusantara akan benar-benar merdeka.
“Wallahu a’lam bishawab”.
