Bekal Sambal Pecel Dan Doa. “Keberangkatan Haji Kabupaten Kediri Penuh Kehangatan”. .

Oleh: H.Imam Kusnin Ahmad SH. Jurnalis Senior Jawa Timur.

KEDIRI-Senyum haru, air mata kebahagiaan, dan semangat spiritual membuncah di Simpang Lima Gumul. Ribuan jemaah calon haji dari Kabupaten Kediri bersiap menunaikan panggilan suci. Uniknya, di tengah persiapan yang matang, Pemerintah Kabupaten Kediri tak lupa membekali para tamunya Allah dengan sejenis “obat kangen” paling mujarab: aneka sambal khas Kediri, seperti sambal pecel dan sambal tumpang.

Bekal istimewa ini bukan sekadar oleh-oleh, melainkan simbol perhatian hangat dari pemerintah daerah, memastikan bahwa kerinduan akan cita rasa kampung halaman tetap bisa terobati di Tanah Suci.

A. *Sambal Pecel dan Tumpang: Sebagian dari Hati Kediri*

Pemandangan hangat terlihat di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri pada Selasa lalu, saat pelepasan jemaah calon haji. Wakil Bupati Kediri, Dewi Mariya Ulfa, mengungkapkan alasan di balik bekal unik ini.

“Kalau di sana pastinya kangen dengan makanan khas Kediri karena rasanya. Sama-sama soto itu (rasanya) beda. Mie di Indonesia sama di Arab Saudi sudah beda. Jadi makanya kami membawakan sambal pecel, sambal tumpang, itu pasti yang dikangeni para jamaah,” tutur Wabup Dewi dengan nada penuh perhatian.

Lebih dari sekadar bekal makanan, pemberian sambal ini adalah representasi dari kepedulian mendalam pemerintah daerah terhadap kenyamanan spiritual dan emosional warganya. Betapa tidak, di tengah perbedaan budaya dan rasa makanan yang mungkin sulit beradaptasi, hadirnya sambal khas Kediri ini bisa menjadi penawar rindu yang luar biasa. Selain sambal, tak lupa juga disediakan saus dan payung sebagai pelengkap kebutuhan selama di Tanah Suci.

B. *Kesehatan dan Kebersamaan: Kunci Ibadah Maksimal*

Wabup Dewi Mariya Ulfa juga tak henti-hentinya mengingatkan para jemaah akan pentingnya menjaga kesehatan. Ia menekankan bahwa ibadah haji adalah ibadah fisik, dan kondisi tubuh yang prima adalah kunci untuk menunaikan setiap rukun dengan sempurna.

“Mau ibadah harus butuh fisik kuat, mau jalan ke masjid butuh beberapa kilo meter kan. Jadi kesehatan itu kunci utama kalau ingin ibadah yang maksimal,” pesannya.

Selain itu, ia juga mendorong terciptanya suasana kebersamaan dan saling tolong-menolong antar jemaah. Haji adalah potret mini dari ukhuwah Islamiyah, di mana tua-muda, kuat-lemah, semuanya bahu-membahu dalam ketaatan. Pesan ini sangat relevan, mengingat sebagian jemaah adalah lansia yang membutuhkan perhatian ekstra.

C. *1.205 Jemaah Siap Berangkat: Persiapan Matang, Dukungan Penuh*

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Tipe A Kabupaten Kediri, Abdul Kholiq Nawawi, melaporkan bahwa total jemaah calon haji dari Kabupaten Kediri untuk musim haji 2026 mencapai 1.205 orang, ditambah 60 jemaah cadangan.

Sesuai jadwal, rombongan akan berangkat secara bertahap pada 19 dan 20 Mei 2026, dimulai dari halaman kantor Pemkab Kediri. Dari sana, mereka akan diantar menggunakan bus menuju Asrama Haji di Surabaya sebelum melanjutkan penerbangan ke Tanah Suci.

Abdul Kholiq memastikan bahwa seluruh persiapan keberangkatan telah berjalan dengan sangat baik dan tanpa kendala berarti. “Mudah-mudahan tidak ada kendala, semua sudah siap tinggal berangkat,” ujarnya penuh optimisme.

Ia juga menambahkan bahwa kondisi jemaah yang beragam, termasuk banyaknya lansia, telah diantisipasi dengan baik. Petugas medis dan petugas haji yang kompeten akan mendampingi dan memberikan kawalan ketat, memastikan setiap jemaah mendapatkan pelayanan terbaik.

*Analisa Nuansa Pemberangkatan*

Pemberangkatan jemaah calon haji dari Kabupaten Kediri ini menghadirkan nuansa yang sangat kental dengan kearifan lokal dan kepedulian sosial.

Nuansa Kehangatan Lokal: Hadiah sambal pecel dan tumpang adalah sentuhan personal yang sangat menyentuh. Ini menunjukkan pemerintah daerah memahami betul kerinduan akan identitas kuliner yang seringkali muncul saat seseorang berada di tanah asing. Ini adalah bentuk pelayanan yang melampaui standar administratif, menyentuh sisi emosional jemaah.

Nuansa Kekeluargaan dan Kebersamaan: Pesan Wabup tentang saling bahu-membahu menegaskan bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan individu, tetapi perjalanan kolektif yang membutuhkan solidaritas dan empati tinggi. Ini juga mencerminkan nilai-nilai gotong royong yang kuat di masyarakat Indonesia, khususnya Jawa Timur.

Nuansa Optimisme dan Profesionalisme: Kesiapan matang dari Kementerian Agama Kabupaten Kediri, mulai dari jumlah jemaah, jadwal, hingga penanganan lansia, menunjukkan profesionalisme tinggi dalam mengelola ibadah haji. Optimisme Abdul Kholiq Nawawi membangkitkan rasa percaya diri bagi seluruh jemaah dan keluarga yang ditinggalkan.

*Penutup*

Ribuan hati kini berdegup kencang, menantikan hari keberangkatan menuju Tanah Suci. Dengan bekal doa, persiapan matang, kepedulian pemerintah, dan “obat kangen” berupa sambal pecel, jemaah calon haji Kabupaten Kediri siap melangkah.

Semoga seluruh jemaah diberikan kesehatan prima, kelancaran dalam setiap prosesi ibadah, kekhusyukan dalam berzikir, dan kembali ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur. Semoga bekal sambal pecel itu tidak hanya mengobati rindu di lidah, tetapi juga mempererat kerinduan pada tanah air dan nilai-nilai luhur yang dibawa dari Kediri. Selamat menunaikan ibadah haji, para tamu Allah.*Wallahu A’lam Bisshawab*