
*Oleh: Diar Mandala*
_Kolumnis, Banten_
*BANTEN* – Saya menulis ini bukan sebagai musuh. Saya menulis sebagai anak yang lahir dari rahim pesantren, disusui kitab kuning, dan dibesarkan oleh tahlil-tahlil orang kampung. Saya NU. Sampai kapanpun.
Justru karena cinta, saya memberanikan diri bicara. Karena diam melihat rumah sendiri berantakan itu bukan akhlak. Itu pengkhianatan.
*Tiga Kegelisahan Warga Nahdliyin Hari Ini*
*Pertama, NU terlalu sibuk di panggung, lupa di langgar.*
Kita gagah bicara soal tambang, soal Istana, soal geopolitik. Tapi coba tanya ke bawah: berapa langgar yang khataman Qur’annya berhenti? Berapa anak muda kampung yang tidak kenal lagi siapa itu Mbah Hasyim? Berapa pesantren kecil yang mati pelan-pelan karena tidak ada santri? Panggung itu penting. Tapi NU lahir dari langgar. Kalau langgarnya sepi, panggungnya mau diisi siapa?
*Kedua, ukhuwah kita digerogoti algoritma.*
Dulu beda pendapat di NU diselesaikan di Bahtsul Masail. Hujjah lawan hujjah, kitab lawan kitab. Selesai, salaman, ngopi bareng. Sekarang? Beda pendapat diselesaikan di kolom komentar. Sebutan “ente wahabi”, “ente kuburiyun”, “ente agen” lebih cepat keluar daripada “tafadhdhal, Yai”. Kita lebih galak ke saudara sendiri daripada ke musuh yang nyata. Kita lupa dawuh Mbah Hasyim: “Yang penting rukun, jangan bertengkar”.
*Ketiga, NU kehilangan murabbi, kebanyakan politisi.*
NU ini jam’iyyah ulama. Ruh-nya ada di kiai. Di sosok yang kalau dawuh, semua diam. Yang kalau jalan, santri nunduk. Sekarang kiai-kiai sepuh satu per satu dipanggil Gusti Allah. Yang tersisa banyak yang ditarik ke politik praktis. Akibatnya, warga NU kehilangan tempat bertanya soal agama. Akhirnya tanya ke Google, tanya ke TikTok. Lalu bingung, lalu berantem.
*Lalu Harus Bagaimana?*
Saya tidak punya kuasa mengubah PBNU. Saya cuma kolumnis kampung. Tapi saya punya tiga usul kecil dari bawah, untuk kita semua.
*Pertama, balik ke langgar.*
Sesibuk apapun, seminggu sekali ikut tahlilan RT. Ajak anak kita. Biar mereka tahu NU itu bukan cuma di berita, tapi ada di hidup mereka.
*Kedua, puasa komentar 40 hari.*
Kalau lihat sesama warga NU beda pendapat di medsos, tahan jempol. Doakan saja. Debat tidak bikin kenyang.
*Ketiga, cari kiai kampung.*
Ngaji lagi. Kitab tipis-tipis juga tidak apa. Yang penting ada sanad, ada barokah, ada yang mengingatkan kalau kita kebablasan.
NU ini rumah besar. Rumah kalau berantakan, yang membenahi ya yang tinggal di dalamnya. Bukan tetangga. Bukan musuh.
Saya masih percaya, awan mendung ini hanya sebentar. Setelahnya hujan barokah. Asal kita mau menyapu rumah bareng-bareng.
_Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq._
