
Lamongan, Menaramadinah.com. – Sore itu, di desa Balun, Kecamatan Turi, Kab. Lamongan yang dikenal sebagai Desa Pancasila dipenuhi ribuan warga di beberapa titik, yakni pura, alun-alun desa dan di sepanjang jalan utama desa.
Meski dalam kondisi berpuasa, namun ribuan masyarakat ini tetap antusias untuk menyaksikan pawai ogoh-ogoh, Rabu (18/3/2026) sore. Pawai ogoh-ogoh itu diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 ini.
Dari pantauan media ini, ada 8 Ogoh-ogoh yang diarak dari Pura Sweta Maha Suci berkeliling desa Balun. Hingga sore hari menjelang magrib, Ogoh-ogoh yang disimbolkan makhluk seram dan dimusnahkan, dibakar atau yang disebut Ritual Pengerupukan, setelah selesai pawai, melambangkan setiap diri individu di alam semesta yang selain punya sifat baik, juga punya sifat buruk.
Dihadiri beberapa tokoh dari jajaran Forkopimda dan Forkopimca, pawai Ogoh-ogoh itu tetap meriah. Warga berkumpul di alun-alun desa, setia menantikan momen pembakaran Ogoh-ogoh yang selesai dikirab tersebut.
Kades Balun Khusairi, menuturkan meski acara dilakukan tidaklah bergaung akbar, dan jumlah patung Bhuta kala itu yang lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya, karena dalam suasana Ramadhan, namun warga tetap antusias melihat moment arak-arakan patung raksasa yang berwajah menyeramkan itu.
Khusairi juga menegaskan, kegiatan Nyepi tahun ini yang berpotensi berbarengan dengan Idul Fitri.
“Di saat warga Hindu sedang ritual nyepi (brata penyepian, red) sedangkan umat muslim menggelar takbiran. Maka sudah ada kesepakatan dalam musyawarah bersama, untuk tetap berjalan sebagaimana mestinya, “tegasnya.
Di pura Sweta Mahasuci, Mangku Tadi dan sejumlah tokoh adanya Hindu berkumpul. Ia menjelaskan di tahun ini ada 8 ogoh-ogoh yang diarak untuk perpawai ini bahkan tidak hanya dibuat oleh umat Hindu di Pura Sweta Mahasuci, namun juga dibuat oleh warga masyarakat Balun yang ikut membantu menyukseskan perayaan Nyepi dengan dana swadaya mereka sendiri. Ini melambangkan toleransi di desa Balun sangatlah terjaga dengan baik.
Pak Mangku Tadi juga menjelskan, tema Nyepi di tahun jni adalah Vasudhaiva Kutumbakam (Wasudewa Kutumbakam, red). Artinya Satu Bumi adalah Satu Keluarga. Frasa Sanskerta dari teks Hindu, Maha Upanishad (6.72) dan juga tercantum dalam Hitopadesa (1.3.71), yang berarti “Seluruh Dunia Adalah Satu Keluarga”.
Hakikatnya, bahwa seluruh makhluk hidup di bumi merupakan bagian dari satu kesatuan besar, mendorong kasih sayang, toleransi, solidaritas global, serta kerukunan antarmanusia tanpa memandang perbedaan.
” Tema ini jika diintegrasikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya warga Hindu, yaknibuntuk memperkuat kerukunan antarumat beragama dan membangun toleransi, ” lanjutnya.
Hal yang terlihat nyata di keseharian warga Balun yang memiliki beberapa umat beragama Islam, Nasrani dan Hundu. Mereka hidup berdampingan secara harmonis dan damai.
Tergambar dalam perayaan Nyepi yang bersamaan dengan bulan Ramadhan dan Idul Fitri, esok nanti. Dalam aktifitas persiapan Nyepi, di pura yang berdampingan dengan masjid juga dilakukan Salat Tarawih dan tadarus Alquran.
Sedangkan sebelum pawai ogoh-ogoh itu, pagi hari, umat Hindu di Desa Balun ini telah mengikuti ritual tawur agung kesanga. Dan pada hari sebelumnya umat Hindu yang ada di Desa Balun juga mengikuti upacara Melasti di Pura Jagad, Surabaya.
“Tawur agung kesanga ini tujuannya untuk menyeimbangkan alam semesta dan melasti bertujuan untuk pembersihan diri kita,” ujar Mangku Sripin.
Semakin sore, dari pantauan media ini, di alun-alun Desa Balun ini, ribuan warga Lamongan masih tetap tumplek blek untuk menyaksikan bajg ak akhir pawai ogoh-ogoh itu. Warga ini datang untuk bisa menyaksikan pawai ogoh-ogoh hingga nanti akan dibakar di lapangan desa setempat untuk kemudian umat Hindu akan melaksanakan Nyepi.
“Ingin lihat pawai ogoh-ogoh karena memang tidak setiap hari ada,” kata M. Ardhiputra dan Bagas Prasetyo, dua mahasiswa dari PTS terbama di Surabaya. Pemuda asal Babat ini sengaja datang dengan beberapa untuk melihat pawai ogoh-ogoh bersama dua teman lainnya.
“Lihat uniknya Desa Balun yang dijuluki Desa Pancasila ini, sekaligus untuk bikin konten, pak, ” ujarnya sambil tertawa.
Sebagaimana diketahui, Desa Balun di Kecamatan Turi ini dijuluki sebagai Desa Pancasila, karena kemampuan masyarakatnya dalam mengamalkan dan melestarikan nilai-nilai keberagaman yang ada. Pembuatan ogoh-ogoh pun, tidak hanya dibuat oleh umat Hindu saja, namun umat Islam dan Kristen juga turut ikut serta meramaikan arak-arakan untuk keliling desa.
Toleransi masyarakat dalam menjaga nilai-nilai kebinekaan di desa ini juga tergambar dalam rumah ibadahnya yang berdamping. Ada tiga tempat ibadah, yaitu Masjid, Gereja dan Pura yang lokasinya berdampingan dan hanya dipisahkan lapangan dan jalan desa.
*DANAR SP*
