Kepedulian Ulama Datangi Undangan Presiden daripada Rakyat

 

By Drs. Husnu Mufid, M.PdI Pemred menaramadinah.com.

Ada perberdaan antara rakyat kecil dan ulama dari zaman dahulu hingga sekarang mengalami pasang surut. Dimana ada ulama yang membela penguasa dan membela rakyat kecil.

Saat ini  rakyat yang susah cari nafkah, lemah, dan tak berdaya tidak pernah dipedulikan oleh pemuka agama? Kenapa ? Para ulama lebih bangga mendatangi undangan presiden di Istana Negara sementara yang tidak diundang merasa tersinggung.

Seharusnya kaum duafa  yang didatangi. Karena saat ini ulama sedang dibutuhkan kehadirannya. Mengingat   presiden itu full power. Beda jauh dengan para duafa.

Apalagi dalam sistem presidensial. Mulai Paspamres yang menjaga full 24 jam, rumah yang dijaga sangat ketat, polisi, tentara, menteri, kepala badan, semuanya dia tinggal perintah sampai bisa mengeluarkan Perpres, Kepres dan Perppu saking berkuasanya.

Mungkin pemuka agama ini tidak belajar ilmu tata negara. Yang dipelajari hanya ilmu abad pertengahan. Dimana diabadikan tersebut para pemuka agama jauh dari rakyat. Lebih suka kepada penguasa yang zalim. Sehingga terkenal dengan Abad Kegelapan.

Padahal Nilai tertinggi manusia itu adalah membela yang lemah. Istilahnya kaum duafa sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah.

Oleh karena itu, para tokoh tokoh PWI LS patut berbangga tidak diundang ke Istana Merdeka. Sehingga nama baiknya tetap Agung dan tegak lurus melawan Yahudi Azkenazi.

Hal ini keberadaan PWI LS sama dengan NU diawalnya berdirinya. Tidak diundang Belanda. Yang waktu itu sedang Jaya Jayanya menguasai Indonesia.

Belanda hanya mengundang Rabitah Alawiyah dan Sarekat Islam dalam setiap acara kenegaraan. Dimana dua organisasi ini pengurusnya banyak Habib Baalawinya.

Setelah Indonesia Merdeka 1945 dua organisasi tersebut surut sebagaimana surutnya penjajah Belanda dan kembali ke kampung halamannya Nederland ,