
BLITAR–Pada Kamis 5 Maret 2026 kajian Ramadhan subuh di Masjid Al-Musthofa Bakung Udanawu Blitar, KH Saikhuddin Rohman menyampaikan tausyiyah yang mendalam tentang amalan memberi salam, menghormati tamu, dan bersilaturahmi pada Idul Fitri.
Dalam kesempatan tersebut, beliau mengajak jamaah untuk memahami bahwa amalan yang disunnahkan tersebut bukan hanya rutinitas tahunan, melainkan memiliki dasar yang kuat dari Al-Qur’an, hadits, ijma’ ulama, dan qiyas, yang semuanya bertujuan untuk memperkuat persaudaraan umat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Beliau juga menjelaskan urutan yang tepat dalam meminta maaf dan bersilaturahmi sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai hubungan manusia dalam Islam.
*Dasar Agama yang Kokoh*
KH Saikhuddin Rohman menjelaskan bahwa setiap amalan pada Idul Fitri memiliki dalil yang jelas. Dari sisi Al-Qur’an, memberi salam diperintahkan dalam Surat An-Nisa’ ayat 86 dan An-Nur ayat 27, yang mengajarkan untuk menjawab salam dengan lebih baik atau setara.
Bersilaturahmi ditegaskan dalam Surat An-Nisa’ ayat 1 dan Al-Hujurat ayat 10, sebagai bentuk pelestarian hubungan keluarga dan saudara sesama muslim.
Sementara itu, contoh menghormati tamu dapat kita teladani dari kisah Nabi Ibrahim AS dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 25.
Dalam hadits, Rasulullah SAW sendiri memberikan contoh langsung. Beliau bersabda bahwa menyebarkan salam akan membuat saling mencintai dan menjadi pintu masuk surga (HR. Muslim). Tentang silaturahmi, Rasulullah juga menyatakan bahwa barang siapa ingin rezeki dilapangkan dan umur dipanjangkan, hendaklah menjaga tali silaturahmi (HR. Bukhari dan Muslim).
“Sedangkan menghormati tamu termasuk ciri orang yang memiliki iman yang sempurna (HR. Bukhari dan Muslim),” ujar Kiai Cikut panggilan akrabnya.
Melalui ijma’ ulama, dan seluruh kaum cendekiawan Islam sepakat bahwa ketiga amalan ini adalah sunnah yang sangat dianjurkan, bahkan menjadi kewajiban dalam konteks mempererat hubungan sosial dan keimanan.
Sedangkan dari sisi qiyas, karena amalan ini membawa kebaikan pada umumnya, maka pada momen Idul Fitri—sebagai puncak kemenangan ibadah puasa—nilainya menjadi lebih besar dan berdampak lebih luas bagi keharmonisan umat.
*Makna yang Mendalam*
Beliau menegaskan bahwa memberi salam pada Idul Fitri adalah bentuk pengakuan bersama bahwa kemenangan yang diraih adalah karunia Allah SWT.
“Menghormati tamu mencerminkan sikap rendah hati dan keinginan untuk berbagi nikmat, yang juga menjadi bentuk sedekah dan ibadah,” kata Mantan Ketua MUI Blitar ini.
Sementara bersilaturahmi berfungsi untuk menyelesaikan konflik kecil, memperkuat ikatan keluarga dan komunitas, serta menguatkan rasa kebersamaan sebagai umat yang satu.
“Idul Fitri bukan hanya hari untuk merayakan dengan makanan dan liburan. Melainkan momen untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan, dan menunjukkan bahwa ibadah kita tidak hanya dilakukan secara individu, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat,” kilah Kiai Syaikuddin Rohman.
*Urutan Didahulukan untuk Minta Maaf dan Bersilaturahmi*
Pada kesempatan itu beliau juga menguraikan urutan yang disarankan agar amalan ini dapat dilaksanakan dengan penuh hikmah:
1. Orang tua dan keluarga tertinggi – Yang paling utama, sesuai dengan firman Allah dalam Surat An-Nisa’ ayat 36 tentang pentingnya berbuat baik kepada kedua orang tua, serta hadits yang menyatakan kebahagiaan dunia dan akhirat terletak pada kebaikan kepada mereka.
2. Saudara kandung, keluarga dekat dan santri.Meliputi kakak beradik, mertua, menantu, cucu, serta sesantri dan guru besar bagi mereka yang pernah tinggal di pondok pesantren.
3. Tetangga dan saudara sesama muslim – Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena seorang muslim tidak akan sempurna imannya jika tidak memperhatikan kebaikan mereka.
4. Rekan kerja, teman, dan mereka yang pernah berkonflik – Sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Hujurat ayat 10, hal ini menjadi bentuk usaha untuk menyelesaikan masalah dan memulai hubungan baru yang lebih baik.
5. Mereka yang lebih muda atau berstanding sosial lebih rendah – Mencerminkan sikap rendah hati dan kesadaran bahwa semua orang sama di hadapan Allah.
KH Saikhuddin Rohman mengakhiri tausyiyah dengan motivasi agar setiap muslim menjadikan amalan sunnah Idul Fitri sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan.
“Mari kita jadikan Idul Fitri sebagai titik awal untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis, penuh kasih sayang, dan berlandaskan nilai-nilai Islam yang luhur. Ingatlah bahwa meminta maaf bukan hanya sekadar ucapan kata, tetapi juga harus disertai dengan niat tulus untuk tidak mengulangi kesalahan. Semoga setiap langkah kita dalam menjalankan amalan ini membawa berkah bagi diri sendiri, keluarga, dan seluruh umat manusia.”
Doa dipimpin KH.Muhaimin Basrowi. Doa.
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu kepada seluruh umat Islam di dunia ini. Berikan kekuatan kepada kami untuk selalu menjalankan sunnah-sunnah-Mu, khususnya dalam memberi salam, menghormati tamu, dan bersilaturahmi pada Idul Fitri dan sehari-hari. Berikanlah kekuatan juga untuk dapat menghubungi dan meminta maaf kepada semua orang yang seharusnya kami hormati dan jaga hubungannya. Jadikan kami umat yang rukun, saling mencintai, membersihkan hati, dan selalu dalam lindungan-Mu. Aamiin ya Rabbal Aalaamiin,”.*Imam Kusnin Ahmad*.
