بسم الله *Timer Peradaban Global Berjalan Mundur*

 

Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)

Di tengah kemajuan teknologi yang melesat cepat—kecerdasan buatan, eksplorasi antariksa, dan revolusi digital—muncul pertanyaan yang menggelisahkan: apakah peradaban global benar-benar maju, atau justru sedang berjalan mundur?
Secara material, dunia tampak berkembang. Namun jika diukur dari stabilitas moral, solidaritas sosial, dan komitmen terhadap keadilan, ada tanda-tanda bahwa “timer” peradaban justru bergerak ke arah sebaliknya (Modified AI, 2026).

Allah SWT dalam QS. Qaf (50: 36-37) telah memberikan peringatan, yakni:

وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هُمْ أَشَدُّ مِنْهُمْ بَطْشًا فَنَقَّبُوا فِي الْبِلَادِ هَلْ مِنْ مَحِيصٍ (36) إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ (37)

Artinya:
(36) “Dan betapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, (padahal) mereka lebih hebat kekuatannya daripada mereka (umat yang belakangan) ini. Mereka pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah tempat pelarian (dari kebinasaan bagi mereka)?”
(37) “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”

Tafsir ayat 36: Allah SWT mengingatkan manusia tentang umat-umat terdahulu yang lebih kuat dan lebih besar daripada umat sekarang, namun mereka dibinasakan karena tidak mengikuti perintah Allah. Mereka telah menjelajah di berbagai negeri, tetapi tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah.

Ayat 37: Allah SWT menjelaskan bahwa pada kisah-kisah tersebut terdapat peringatan bagi orang-orang yang memiliki hati yang hidup dan menggunakan pendengarannya untuk mendengarkan kebenaran. Orang-orang yang mau memperhatikan dan mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut akan dapat meningkatkan iman dan takwanya kepada Allah SWT.

KEMAJUAN TEKNOLOGI, KEMUNDURAN EMPATI

Abad ke-21 menghadirkan lompatan besar dalam sains dan teknologi. Informasi bergerak dalam hitungan detik, komunikasi lintas benua menjadi biasa. Namun di saat yang sama, polarisasi sosial meningkat, ujaran kebencian meluas, dan konflik bersenjata tetap terjadi.
Sejarah telah menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan kematangan moral. Dalam Perang Dunia II, sains berkembang pesat, tetapi digunakan untuk kehancuran massal. Ini menjadi pelajaran bahwa teknologi tanpa etika dapat mempercepat kemunduran peradaban.
Jika empati menurun sementara kekuatan meningkat, maka yang terjadi bukan kemajuan, melainkan ancaman terhadap masa depan manusia itu sendiri.

KRISIS MORAL DAN FRAGMENTASI SOSIAL

Peradaban dibangun bukan hanya oleh gedung-gedung tinggi, tetapi oleh nilai-nilai luhur. Ketika kejujuran tergeser oleh manipulasi, ketika keadilan tunduk pada kepentingan, dan ketika kebenaran dipelintir oleh propaganda, maka fondasi sosial mulai retak.
Fragmentasi sosial semakin terlihat:
1. Meningkatnya ketidakpercayaan antar kelompok.
2. Polarisasi politik yang tajam.
3. Melemahnya otoritas moral lembaga pendidikan dan keluarga.
4. Normalisasi kekerasan dalam wacana publik.

Semua ini adalah indikator bahwa jam peradaban tidak selalu bergerak maju.

DEGRADASI LINGKUNG: ALRM YANG DIABAIKAN

Salah satu tanda paling nyata dari “mundurnya timer” peradaban adalah krisis lingkungan. Eksploitasi berlebihan terhadap alam menunjukkan bahwa manusia sering kali lebih mengutamakan keuntungan jangka pendek daripada keberlanjutan jangka panjang.
Padahal peradaban yang matang seharusnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian. Jika bumi rusak, maka kemajuan apa pun menjadi sia-sia.

SPIRITUALITAS YANG TERGESER

Di banyak tempat, dimensi spiritual kehidupan semakin terpinggirkan. Agama terkadang direduksi menjadi simbol, bukan nilai yang menghidupkan keadilan dan kasih sayang.
Padahal dalam sejarah, kebangkitan peradaban selalu disertai kebangkitan moral dan spiritual. Kota seperti Baghdad pada masa keemasan Islam menjadi pusat ilmu bukan hanya karena kecerdasan intelektual, tetapi karena integrasi antara iman, akal, dan etika.
Ketika spiritualitas kehilangan ruhnya, peradaban kehilangan kompasnya.

APAKAH MASIH ADA HARAPAN?

Meskipun indikator kemunduran tampak nyata, sejarah juga mengajarkan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk bangkit. Krisis sering kali menjadi momentum refleksi.
Beberapa langkah untuk “mengembalikan arah timer” antara lain:
1. Menguatkan pendidikan berbasis karakter dan integritas.
2. Menyatukan sains dan etika dalam kebijakan publik.
3. Mendorong dialog lintas budaya dan agama.
4. Mengedepankan keadilan sosial sebagai fondasi stabilitas.

Peradaban tidak runtuh dalam satu hari, dan tidak pula bangkit dalam satu malam. Ia bergerak sesuai pilihan kolektif manusia.

PENUTUP

Jika hari ini terasa bahwa timer peradaban global berjalan mundur, itu bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Ia adalah peringatan.
Kemajuan sejati bukan hanya tentang kecepatan inovasi, tetapi tentang kedalaman moral. Bukan hanya tentang kekuatan ekonomi, tetapi tentang keadilan dan kasih sayang.
Semoga kita menjadi bagian dari generasi yang berani menghentikan kemunduran dan mengembalikan arah peradaban menuju keseimbangan antara ilmu, moral, dan spiritualitas. Aamiin ya Allah ya Robbal alamin. Wallahu a‘lam bish-showaab.

Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.

Mekkah,
16 Romadlon 1447
atau
05 Februari 2026
m.mustain