Mengapa Karakter Sulit Terbentuk dari Lembaga Pendidikan

9

Oleh Prof. DR.Toto Sutarto Gani Utari, M.Pd.
Akademisi dan Pengamat Pendidikan

Mendidik berarti membangun atau membentuk tingkah laku positif. Apabila yang terbentuk prilakunya negatif, berarti tidak terjadi proses Pendidikan. Mengajar juga membangun atau membentuk prilaku, bedanya prilaku yang terbentuk tidak bisa dipisahkan antara yang negative dengan yang positif, terlalu panjang disampaikan di sini mengapa demikian.

Perilaku yang terbentuk akan menjadi permanen yang kemudian disebut karakter, sehingga mendidik atau mengajar berarti membangun atau membentuk karakter. Sering salah pelaksanaan, inginnya mendidik tetapi kenyataannya mengajar, sehingga banyak prilaku negative disebut hasil didikan, padahal gurunya tidak paham makna pendidikan.

Membangun karakter peserta didik di sekolah tidak bisa dipisahkan dengan mata pelajaran, berarti membentuk karakter harus di dalam mata pelajaran, sehingga apabila dipisah dari mata pelajaran maka akan menjadi karakter tersendiri di luar rangkaian mata pelajaran di dalam kurikulum.

Kenyataannya banyak praktek membangun karakter di luar proses pembelajaran mata pelajaran, hasilnya bisa menjadi karakter yang diharapkan, tetapi di luar karakter yang harus muncul dari pembelajaran mata pelajaran.

Kenyataan ini akhirnya sering menuduh bahwa sekolah tidak membentuk karakter siswanya karena tidak ada pembinaan ekskul (pelajaran di luar jam pembelajaran) atau lessons outside of regular lessons.

Apabila setiap guru memahami makna karakter dan mampu membangunnya dalam proses belajar mengajar, semua persoalan karakter peserta didik dan lulusannya akan menyejukan seluruh stakeholder Pendidikan.

Apakah baik program ekskul diadakan? Dengan pasti dinyatakan baik, dengan syarat harus, di bawah pengawasan langsung pimpinan sekolah, pembinanya harus dari unsur sekolah yang bersangkutan.

Apa manfaatnya ekskul? Bisa membangun soft skill peserta didik dan membangun karakter lain di luar mata pelajaran sesuai kurikulum. Apakah karakter yang dihasilkan ekskul bisa dihasikan hanya dengan pelajaran reguler saja? Sebagian besar bisa apabila guru setiap mata pelajaran paham karakter dan pembentukannya, kecuali karakter spesifik seperti jenis-jenis olahraga dan kesenian.

Beberapa ekskul membentuk karakter bekal hidup, salah satunya Pramuka. Ekskul seperti ini harus terus mengikuti perkembangan teknologi, jangan rutinitas karena akan menimbulkan kejenuhan pada peserta dan pembinanya, hal ini akan berakibat muncul prilaku-prilaku yang menyimpang dan akan memanfaatkan kegiatannya untuk melampiaskan penyimpangannya tersebut.

Perilaku menyimpang Pembina dan Peserta juga masuk ke dalam karakter atau prilakau permanen, bila ini sudah terbentuk sulit sekali untuk memperbaikinya. Untuk menanggulangi kekhawatiran hal ini terjadi maka harus dilakukan Kerjasama antara sekolah dengan organisasi yang berkaitan dengan ekskul tersebut.

Salah satu yang harus dibicarakan antara sekolah dengan organisasi tersebut adalah, harus diupayakan ekskul ini bisa masuk ke dalam pembelajaran mata pelajaran regular. Masih banyak guru mata pelajaran yang belum paham karakter dan proses pembentukannya, ini akan berakibat sulit peserta didik bisa menggunakan hasil belajarnya di kehidupan sehari harinya, sekali lagi ini tidak bisa ditanggulangi oleh program lain. Jalan keluarnya hanya dengan melakukan pembinaan tenaga pendidik agar paham karakter dan bagaimana pembentukannya.

Sulit sekali diterima seandainya ada kenyataan pembina karakter berkarakter menyimpang, berat sekali apabila kejadian seperti ini kemudian tidak mendapat perhatian.[]