“Santri Tak Pernah Berhenti Belajar” – Fosal Blitar Raya Gelar Silaturahmi dan Ngaji Islami di Bulan Ramadhan.

BLITAR –Bulan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah dan ampunan menjadi momentum emas bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah dan pemahaman agama.

Di daerah kelahiran Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Forum Silaturrahmi Ansor dan Banser Lawas (Fosal) Blitar Raya menggelar kegiatan silaturrahmi dan ngaji bersama yang diiringi buka puasa, jamaah salat Magrib,Isyak dan tarwih di Masjid H. Kholid Musthafa , pemilik Tempat Wisata Kampung Coklat Wonorejo Kademangan Blitar.

Kegiatan yang diikuti hampir seratus mantan aktivis Ansor dan Banser dari berbagai profesi – mulai dari pedagang, politisi, pengusaha, petani, hingga pengasuh pesantren, rektor, dosen dan jurnalis – mengusung semangat bahwa setiap anggota Ansor dan Banser pada hakikatnya adalah santri yang wajib tetap mengaji dan mengikuti jejak para kiai.

Acara yang dipusatkan pada pembahasan dua kitab klasik Islam ini dimulai dengan sambutan dari Ketua Fosal H. M. Khoiruddin SH, yang kemudian pembahasan tentang Risalah Aswaja dengan fokus pada pentingnya bermazhab dan berthariqah.

Risalah Aswaja mengemukakan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah sekaligus menghargai peran Imam Ali bin Abi Thalib dan keluarga Nabi Muhammad SAW (Ahlul Bait). Dalam pembahasannya, H. M. Khoiruddin menjelaskan bahwa mazhab adalah aliran pemikiran fiqih yang dibangun oleh para Imam Fiqih berkompeten seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Mazhab berperan sebagai panduan jelas dalam mengamalkan ajaran Islam, menghindarkan umat dari kesesatan akibat pemahaman keliru tentang hukum syariat yang tidak semua orang mampu mengkaji secara langsung dari Al-Qur’an dan Hadis.

Bermazhab dengan landasan Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga membantu menjaga persatuan umat, karena para Imam Mazhab memiliki dasar pemikiran yang sama yaitu mengikuti jejak Nabi SAW dan para sahabatnya.

Dikutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran [3]: 103:

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً
“Dan tetaplah kamu menyatukan diri pada tali (agama) Allah semuanya dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu adalah musuh-musuh, lalu Allah menjadikan hati kalian bersatu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara.” sitir Mas Heru panggilan akrabnya.

Sementara itu, tariqah adalah jalan spiritual yang mengajarkan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui amalan khusus, bimbingan syekh, dan pengendalian diri. Manfaat berthariqah antara lain mendidik jiwa dan hati agar ibadah tidak hanya sebatas lahiriah tetapi juga menyentuh dimensi batin.

Risalah Aswaja menekankan bahwa mazhab dan tariqah bukanlah hal yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi – mazhab sebagai dasar amalan lahiriah yang sesuai syariat, dan tariqah sebagai penguat dimensi batin agar ibadah menjadi lebih khusyuk.

Dikutip sabda Nabi Muhammad SAW dari Hadis Riwayat Muslim:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya Allah akan memberikan pemahaman kepadanya dalam agama,” tambahnya.

Selanjutnya, pembahasan dilanjutkan oleh Drs H. Arif Fuadi MM, mantan Wakil Bupati Blitar dan Pembina Fosal, yang membawakan isi kitab Adabul Alim wal Muta’alim karya KH. Hasyim Asy’ari – pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Kitab yang diselesaikan pada 1925 M ini merupakan karya pedagogik Islam yang fokus pada etika dan perilaku bagi orang yang berilmu (alim) dan pencari ilmu (muta’alim).

Dalam penjelasannya, H. Arif Fuadi menyoroti Bab Kelima berjudul Adabul Alim fi Haqqi Nafsih (Etika Seorang Alim Terhadap Dirinya Sendiri). Khususnya pada bagian ke-15: “Menjaga Diri dari Sikap Sombong dan Angkuh”, KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa ilmu adalah karunia Allah SWT, bukan hasil usaha sendiri semata. Oleh karena itu, seorang alim harus selalu rendah hati. Dalil yang dikutip adalah Al-Qur’an Surat An-Nisa’ [4]: 58:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّواْ الأَمَانَاتِ إِلَىَّ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُواْ بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu memutuskan perkara di antara manusia, hendaklah kamu memutuskan dengan adil.”

Juga menyitir dalil lainnya :
لاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَكَبَّرُواْ وَاسْتَكْبَرُواْ فِي الأَرْضِ… إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَاضِعِينَ
“Janganlah kamu seperti orang-orang yang sombong dan angkuh di muka bumi… Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang rendah hati.”

Lalu pada bagian ke-16: “Senantiasa Meningkatkan Ilmu dan Tidak Berhenti Belajar”, kitab ini mengingatkan bahwa ilmu tidak pernah ada ujungnya. Meskipun telah dianggap alim, seorang ulama tidak boleh berhenti belajar. Sabda Nabi Muhammad SAW dari Hadis Riwayat Thabrani:

تَعَلَّمُواْ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَىَ الْقَبْرِ
“Belajarlah ilmu dari taman kanak-kanak hingga ke liang lahat.”

Dikutip juga firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Az-Zumar [39]: 9:

أَمَّنْ هُوَ أَحَقُّ أَن يَتَّخِذَهُ قَلْبٌ أَوْ أَمَّنْ هُوَ أَشَدُّ قُوَّةً وَهُوَ يَتَّقُ اللَّهَ… إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ataukah siapakah yang lebih pantas agar hati tunduk kepada (ajaran) Allah, atau siapakah yang lebih kuat (agama) dan bertakwa kepada Allah… Sesungguhnya hanya orang-orang yang memiliki akal yang dapat mengambil pelajaran.”

*Inovasi, Motivasi, dan Panggilan untuk Istiqomah*

Untuk menjaga semangat belajar dan kebersamaan, perlu adanya inovasi dalam kegiatan ngaji dan silaturrahmi. Di masa depan, dapat dipertimbangkan untuk mengintegrasikan pembelajaran dengan teknologi digital, seperti pembuatan konten kajian dalam bentuk video singkat atau podcast, serta mengadakan kunjungan studi ke berbagai pesantren. Membentuk kelompok kajian kecil berdasarkan minat anggota juga dapat membuat pembelajaran menjadi lebih fokus.

Bagi seluruh anggota Fosal, mari kita jaga semangat “nderek Kiai” yang telah menjadi identitas Ansor dan Banser. Istiqomah dalam mengaji bukan hanya tentang menghafal ilmu, tetapi juga mengamalkannya dalam setiap langkah hidup.

Kita adalah generasi yang telah menerima warisan nilai-nilai keislaman dari para pendahulu, dan tugas kita adalah meneruskannya kepada generasi mendatang. Semoga bulan Ramadhan ini menjadi momentum untuk memperkuat keimanan dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.*Imam Kusnin Ahmad*