
Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH. Wartawan Senior dan Aktif di PW ISNU Jawa Timur.
*SYAIR INGKAR* yang diciptakan dan dibawakan oleh Haji Rhoma Irama adalah salah satu karya yang mengandung pesan moral mendalam. Liriknya mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam mengejar kejayaan dunia semata, melainkan juga harus memperhatikan ilmu agama sebagai pondasi kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Selain itu, lagu ini juga mengingatkan akan konsekuensi serius dari sikap ingkar terhadap Tuhan, yang selaras dengan ajaran agama Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an, hadits Nabi, serta pemikiran ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah seperti Imam Ghazali.
*Makna Syair Ingkar*
Syair awal lagu menyampaikan bahwa mengejar kejayaan dunia dan menuntut ilmu dunia adalah hal yang diperbolehkan bahkan dapat didorong. Namun, hal itu tidak boleh membuat manusia melupakan untuk menuntut ilmu agama. “Capailah olehmu kejayaan dunia / Tuntutlah olehmu akan ilmu dunia / Tetapi satu hal janganlah engkau lupa / Tuntutlah olehmu akan ilmu agama,” demikian liriknya yang menekankan pentingnya keseimbangan antara kedua jenis ilmu tersebut. Tujuannya adalah agar seseorang dapat meraih kebahagiaan tidak hanya di dunia saat ini, tetapi juga di alam baka kelak.
Bagian selanjutnya dari syair menggambarkan kondisi manusia yang cenderung menjadi ingkar ketika merasa telah memiliki pengetahuan atau keunggulan. Mereka bahkan menganggap agama sebagai dongeng belaka dan tidak percaya pada Tuhan. Lirik “Biasa manusia mudah menjadi ingkar / Pabila dirinya sudah merasa pintar / Katanya agama itu dongeng belaka / Kepada Tuhannya dia tidak percaya” menggambarkan sikap yang sangat dilarang dalam agama Islam. Lagu ini juga memperingatkan akan adzab Tuhan yang sangat mengerikan bagi mereka yang ingkar, serta menunjukkan bahwa ilmu manusia sangatlah kecil jika dibandingkan dengan kepandaian Tuhan.
Syair terakhir mengajak manusia untuk membuka mata dan melihat kebesaran Tuhan yang terwujud dalam ciptaannya, seperti langit yang ditinggikan, gunung yang ditegakkan, bumi yang dihamparkan, air yang diturunkan, pohon yang ditumbuhkan, dan alam yang ditundukkan.
*Dalil Al-Qur’an dan Hadits yang Mendukung*
Tentang pentingnya menuntut ilmu dunia dan agama: Al-Qur’an dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11 menyatakan, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Ini menunjukkan bahwa ilmu, baik dunia maupun agama, merupakan anugerah dari Allah yang dapat meningkatkan derajat manusia.
Hadits dari Nabi Muhammad SAW juga menyatakan, “Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina,” yang menunjukkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim tanpa memandang batasan tempat dan jenis ilmu.
Tentang larangan sikap ingkar: Firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 170 menyatakan, “Janganlah kamu berkata kepada orang yang menyapa kamu dengan salam damai: ‘Bukankah kamu seorang mukmin?'” dengan makna bahwa tidak boleh merendahkan orang yang beriman, apalagi mengingkari keberadaan Tuhan.
Hadits riwayat Abdullah bin Umar RA juga menyebutkan bahwa salah satu hal yang sangat dilarang adalah melanggar janji Allah dan Rasul-Nya, yang termasuk dalam bentuk ingkar terhadap ajaran agama.
Tentang kebesaran Tuhan: Surah Az-Zumar ayat 67 menyatakan, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
Hadits dari Ibnu Mas’ud RA juga menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW telah mengakui kebesaran Tuhan yang dapat menahan seluruh alam semesta dengan satu jari.
*Pendapat Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Imam Ghazali)*
Hujjatul Islam Syech Imam Ghazali memiliki karya monumentalnya berjudul “Ihya Ulumuddin, yang kemudian dirangkumnya dalam bahasa Persia agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat umum.
Inti ajaran dalam kitabnya adalah proses transformasi spiritual manusia—ibarat mengubah logam biasa menjadi emas—melalui empat pengetahuan utama:
Mengenal Diri Sendiri (Ma’rifatun Nafs): Memahami hakikat jiwa manusia.
Mengenal Allah (Ma’rifatullah): Mengetahui pencipta melalui tanda-tanda pada diri dan alam.
Mengenal Dunia (Ma’rifatud Dunya): Memahami bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara.
Mengenal Akhirat (Ma’rifatul Akhirah): Menyadari tujuan akhir dan kebahagiaan yang kekal.
Dalam bukunya Kimia Kebahagiaan, Syech Imam Ghazali menjelaskan bahwa salah satu penyebab kejahilan manusia adalah gagalnya menemukan keberadaan Tuhan melalui pengamatan alam dan kemudian menyimpulkan bahwa Tuhan tidak ada. Ia menyatakan bahwa orang yang berpikir demikian seperti seseorang yang melihat tulisan indah namun mengira tulisan itu muncul dengan sendirinya tanpa ada penulis.
Selain itu, beliau juga mengingatkan bahwa orang yang menganggap agama tidak penting sama seperti pasien yang mengabaikan anjuran dokter, yang akhirnya akan merusak dirinya sendiri.
Penutup
Lagu Ingkar karya Rhoma Irama bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan agama yang penting. Pesan tentang keseimbangan antara ilmu dunia dan agama, larangan sikap ingkar terhadap Tuhan, serta pengakuan akan kebesaran Tuhan sangat relevan dengan ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an, hadits, dan pemikiran Hujjatul Islam Syech Imam Ghazali.
Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari lagu ini, selalu menjaga keseimbangan dalam mengejar ilmu, serta senantiasa memperkuat iman dan takwa kepada Tuhan agar dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.*Wallahul A’lam Bisshawab*
