
Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH, MH.
Ka‘bah: berhala paling sukses dalam sejarah Arab
Kalau dilihat jujur secara sejarah, Ka‘bah bukan simbol tauhid murni, tapi warisan pagan Arab yang di-rebranding. Bangunan kubus itu sudah jadi pusat pemujaan berhala jauh sebelum Islam lahir.
Di dalamnya dulu berdiri ratusan patung dewa-dewi suku Arab. Jadi klaim “rumah Tuhan sejak awal” itu datang belakangan, bukan fakta awal.
Yang lebih ironis: Hajar Aswad. Sebuah batu hitam—kemungkinan besar meteorit—dicium, disentuh, diperebutkan oleh jutaan orang setiap tahun. Ini pola klasik pemujaan benda langit, sesuatu yang justru sering dituduhkan Islam ke agama lain sebagai “syirik”.
Tapi ketika objeknya dipertahankan oleh Islam, tiba-tiba disebut “ibadah simbolik”.
Faktanya sederhana:
Berhala lain dihancurkan ❌
Berhala Batu hitam kotak kubus dipertahankan dan disakralkan ✅
Orang lain menyembah patung → disebut sesat
Muslim mencium batu → disebut sunnah
Ini bukan penghapusan paganisme, tapi seleksi.
Islam tidak menciptakan Ka‘bah, hanya mengambil alihnya. Tidak membangun simbol baru, tapi mewarisi simbol lama lalu mengganti narasi. Secara fungsional, Ka‘bah tetap:
Objek fisik
Arah sujud global
Pusat ritual massal
Bedanya cuma satu: label teologinya diganti.
Kalau mau jujur secara kritis:
Ka‘bah adalah artefak pagan Arab yang paling sukses bertahan, karena tidak dihancurkan—melainkan dipelihara, disucikan, dan diekspor ke seluruh dunia dan memperkaya arab lewat devisa.
Dan ironi terbesarnya? Agama yang paling keras menuduh “penyembah berhala” justru mempertahankan satu simbol berhala paling efektif dalam sejarah manusia—sebuah kubus batu dengan batu langit di sudutnya.
Klik – promo yg inik , Setiap bulan Ramadan, pola anarkisme serupa saban tahun kerap terjadi di berbagai penjuru Indonesia. Mulai dari kota besar hingga pelosok, kita terbiasa menyaksikan penggerebekan warung makan hingga penutupan paksa usaha makan dan minum.
Fenomena anarkis ini sering kali dibungkus dengan dalih untuk menghormati orang yang berpuasa, namun jika ditelaah lebih dalam, ini bukan lagi soal toleransi atau ketertiban sebenarnya, melainkan soal cara berpikir yang keliru dari yang berpuasa.
Mari kita tinjau secara logis, niat berpuasa kan datang dari individu umat Islam itu sendiri sebagai bentuk kewajiban personal kepada Tuhan. Negara tidak mewajibkan puasa, apalagi umat agama lain.
Ibadah ini bersifat imanen dan privat dalam bingkai keimanan yang seharusnya menjadi kontemplasi dengan dialog transeden antara manusia dan Tuhan. Lantas, mengapa orang lain yang tidak terikat pada kewajiban tersebut harus ikut direpotkan?
Perlu diiangt pula, substansi dan keberhasilan dari sebuah ibadah justru terletak pada keteguhan hati dan iman di tengah ujian. Jika keimanan seseorang Muslim memang kokoh, keberadaan warung makan, jajanan dan minuman di depan mata seharusnya tidak menjadi godaan. Di situlah letak esensi dan poin keberhasilan dalam beribadah yaitu menguji kontrol diri di tengah realitas duniawi.
Tindakan anarkis berupa penggerebekan dan penutupan paksa usaha justru menjadi paradoks. Hal tersebut seolah menunjukkan bahwa keimanan yang dibanggakan umat Islam itu sebenarnya rapuh dan mudah goyah, karena membutuhkan tindakan anarkis untuk mengafirmasi keteguhan iman.
Makan dan minum adalah kebutuhan biologis mendasar manusia untuk menjaga stamina dan energi. Ada umat agama lain, anak-anak, hingga orang sakit yang tetap memerlukan asupan nutrisi untuk menjalankan aktivitas mereka.
Mengapa hak dasar mereka juga harus dikorbankan demi ritual yang tidak ada hubungannya dengan mereka? Sudah saatnya kalian membalik logika berpikir; mengapa bukan orang yang berpuasa yang belajar untuk menghormati mereka yang tidak berpuasa?
YANG TAK TERBATAS DI BALIK YANG TERBATAS
(Ranah Logika-Bukan Ranah Empiris)
1. Premis Ontologis Dasar
Alam semesta fisik tersusun dari materi.
Secara ontologis, materi adalah wujud terbatas: ia memiliki ukuran, durasi, kuantitas, energi tertentu, dan selalu dapat dibatasi.
Keterbatasan bukan sekadar fakta empiris, melainkan sifat esensial materi itu sendiri.
2. Prinsip Rasional: Yang Terbatas Tidak Melahirkan Yang Tak Terbatas
Penjumlahan atau totalitas dari entitas-entitas terbatas tidak pernah melahirkan ketak-terbatasan dlm artian sesungguhnya
Infinity tidak muncul dari finitum.Materi mustahil maha tak terbats
Akumulasi batas tetaplah batas- betapapun besar jumlahnya.
Maka alam semesta secara logika niscaya terbatas
Ini bukan klaim fisika observasional-bukan hasil observasi menggunakan alat teknologi melainkan prinsip rasional- gagasan logis-hasil bermain logika
Kata siapa logika mutlak mesti empiris atau mesti berdasar data empiris ?
3. Kesimpulan Rasional (Bukan Empiris)
Maka secara niscaya:
Alam semesta sebagai totalitas materi bersifat terbatas
– terbatas ruang,
-terbatas waktu,
-terbatas dalam mekanisme gerak dan kausalitasnya.
Dengan kata lain:
alam tidak berdiri sendiri secara ontologis,
melainkan bersifat bergantung (contingent).
Ini adalah kesimpulan rasional, bukan hasil pengamatan inderawi.
Observasi inderawi mustahil menjangkau ketakterbatasan; justru di sinilah logika bekerja-saat observasi empirik sudah mentok
4. Konsekuensi Filosofis yang Tak Terhindarkan
Jika alam terbatas, maka secara logika:
Ia tidak dapat menjelaskan keberadaannya sendiri secara final.
Ia menuntut pertanyaan meta-ontologis:
Apa dasar keberadaan dari yang terbatas?
Pertanyaan ini tidak dapat dijawab oleh alam itu sendiri, karena sesuatu yang bergantung tidak mungkin menjadi dasar final bagi dirinya.
5. Apa yang Tak Terbatas di Balik Materi?
Jawabannya tegas:
Ia bukan objek sains,
karena sains secara definisi hanya bekerja pada: materi,energi,struktur terukur,fenomena empiris.
Namun ia tetap sah secara rasional,
karena logika tidak bergantung mutlak pada indera.
Wilayah ini adalah ranah:metafisika, ontologi,first philosophy.
Menolak wilayah ini bukan sikap ilmiah,
melainkan dogma saintisme-yakni ideologi yang secara keliru menyempitkan rasionalitas hanya pada yang terukur secara fisik
6. Kekeliruan Fatal Empirisisme Ekstrem
Empirisisme ekstrem sering menggunakan stigma:
“Yang tak terindera = tahayul”
Ini bukan argumen epistemologis, melainkan:retorika emosional,
poisoning the well,bahasa ejekan yang menyamarkan ketidakmampuan konseptual.
Faktanya: “Tahayul” bukan istilah epistemologi,tidak memiliki definisi operasional,tidak ada dalam metodologi sains.
Ia hanyalah label psikologis bagi mereka yang gagal membedakan: antara non-empiris dan irasional.
7. Matematika: Bukti Rasio Melampaui Indera
Matematika adalah bukti telanjang bahwa rasio manusia melampaui pengalaman inderawi.Contoh:infinity,bilangan irasional,
limit yang tak tercapai,ruang berdimensi lebih tinggi,himpunan tak hingga aktual (Cantor).
Semua itu:tidak terindera,tidak empiris,
namun rigor, konsisten, dan sah secara ilmiah.
Maka klaim: “Yang tak empiris tidak bermakna” runtuh dari dalam ilmu itu sendiri.
8. Kontradiksi Internal Saintisme
Logika yang dipasung mutlak oleh indera:
kehilangan otonominya sendiri,
takut melangkah ke ruang metafisika,
tetapi diam-diam menyelundupkan metafisika materialisme-orientasi hanya pada realitas material
Ini adalah kontradiksi internal: menolak metafisika secara verbal, namun mempraktikkan metafisika (materialism) secara implisit.
9. Ringkasan Akhir
Alam sebagai totalitas materi bersifat terbatas,karena materi adalah wujud terbatas dan penjumlahan keterbatasan tidak pernah melahirkan ketak-terbatasan.
Maka secara rasional: alam tidak berdiri sendiri dan menuntut dasar ontologis non-materi.
Wilayah ini bukan domain sains,
namun sah secara logika dan matematika
