Kehilangan Ingatan Jati Diri

Oleh : Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH, MH Ketum PP HPK

Kita bila bisa para Bumi putra diminta menyembah seharusnya menyembah leluhurnya sendiri kaum Bumi putra bukan menyembah bangsa asing seperti bule, arab, India apalagi China, bisa rontok jati diri bangsa Indonesia, dan terus terjajah.

*Sciencifik*

Dari perspektif ilmiah, identitas budaya dan spiritual bangsa Indonesia tersesat karena pemahaman yang salah membuat kesimpulan yang salah bahwasanya Indonesia dipahami sebagai hasil dari proses sejarah dan evolusi budaya yang panjang, tanpa melihat asal dan awal Bangsa Indonesia memiliki akar budaya yang kaya dan beragam, dengan pengaruh dari berbagai suku dan agama, Indonesia hari ini kehilangan akar budaya nya yg murni.

Namun, dengan adanya kolonialisme dan globalisasi, bangsa Indonesia telah mengalami proses akulturasi dan asimilasi budaya yang kuat, sehingga banyak nilai-nilai budaya asli yang telah hilang atau tergerus.

*Filosofis Spiritual*

Dari perspektif filosofis spiritual, identitas budaya dan spiritual bangsa Indonesia dapat dipahami sebagai hasil dari hubungan antara manusia dan alam semesta. Bangsa Indonesia memiliki kepercayaan bahwa alam semesta memiliki jiwa dan kekuatan spiritual yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia.

Dengan demikian, menyembah leluhur dan alam semesta bukanlah suatu tindakan yang tidak rasional, melainkan suatu cara untuk menghormati dan menjaga keseimbangan alam semesta.

*Mengapa harus menyembah bangsa asing, mengagungkan Bangsa lain*

Menyembah bangsa asing seperti bule, arab, India, atau China dapat dilihat sebagai suatu bentuk kehilangan identitas budaya dan spiritual. Hal ini dapat menyebabkan bangsa Indonesia kehilangan arah dan tujuan hidup, serta kehilangan kepercayaan diri dan harga diri, kehilangan martabat manusia, tidak percaya diri dengan jati diri bangsa Bumi putra.

*Mengapa menyembah leluhur, mengagungkan kakek nenek moyang sendiri*

Menyembah leluhur dapat dilihat sebagai suatu cara untuk menghormati dan menjaga warisan budaya dan spiritual bangsa Indonesia. Hal ini dapat membantu bangsa Indonesia untuk memahami identitas budaya dan spiritual mereka sendiri, serta menjaga keseimbangan alam semesta.

*Solusi*

Untuk mengatasi masalah ini, kita perlu melakukan koreksi dan perubahan dalam berbagai aspek, termasuk:

1. _Pendidikan_: Meningkatkan kesadaran akan identitas budaya dan nilai-nilai lokal.
2. _Kebijakan_: Membuat kebijakan yang lebih adil dan memperhatikan kepentingan masyarakat luas.
3. _Partisipasi Masyarakat_: Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.
4. _Pengembangan Ekonomi_: Meningkatkan pengembangan ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.

Dengan demikian, kita dapat menjaga identitas budaya dan spiritual bangsa Indonesia, serta membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.

 

Dari perspektif sosiologis, identitas budaya dan spiritual bangsa Indonesia dapat dipahami sebagai hasil dari proses sosial dan budaya yang panjang (Geertz, 1973). Bangsa Indonesia memiliki struktur sosial yang kompleks, dengan berbagai suku, agama, dan kelompok etnis (Koentjaraningrat, 1985).

Namun, dengan adanya kolonialisme menggunakan agama untuk menghancurkan adat Budaya bangsa dan globalisasi, akibatnya bangsa Indonesia telah mengalami proses perubahan sosial yang kuat, dan keropos moralitas, sehingga banyak nilai-nilai budaya asli yang telah hilang dan musnah atau tergerus tinggal serpihan serpihan kecil yg tanpa makna (Bourdieu, 1986).

 

Dari perspektif politik, identitas budaya dan spiritual bangsa Indonesia dapat dipahami sebagai hasil dari proses politik yang panjang (Anderson, 1983). Bangsa Indonesia memiliki sejarah politik yang kompleks, dengan berbagai rezim dan kebijakan yang telah mempengaruhi identitas budaya dan spiritual bangsa (Linz & Stepan, 1996).

Namun, dengan adanya kebijakan politik yang ngawur , tidak adil dan tidak memperhatikan kepentingan masyarakat luas, bangsa Indonesia telah mengalami proses kehilangan identitas budaya dan spiritual, akibat dari tekanan para politikus yg menyembah agama agama asing (Habermas, 1992).

 

Dari perspektif ilmiah detail, identitas budaya dan spiritual bangsa Indonesia dapat dipahami sebagai hasil dari proses evolusi budaya yang panjang (Cavalli-Sforza & Feldman, 1981). Bangsa Indonesia memiliki akar budaya yang kaya dan beragam, dengan pengaruh dari berbagai suku bangsa
Tetapi agama import telah merusak sejarah perjalanan bangsa Indonesia. (Koentjaraningrat, 1985).

Namun, dengan adanya kolonialisme dan globalisasi, bangsa Indonesia telah mengalami proses akulturasi , benturan budaya dan asimilasi budaya yang kuat, sehingga kehilangan identitas sebagai bangsa, banyak nilai-nilai budaya asli yang telah hilang atau tergerus , kolonialisme membawa dan menggunakan agama untuk menghancurkan adat, tradisi, adat istiadat, sopan santun, Budi pekerti luhur dg cara politik aduk menstimulasi, merobek indigenous people (Bourdieu, 1986).

*Rancangan Falsafah Hidup Bangsa Indonesia*

Rancangan falsafah hidup bangsa Indonesia dapat dipahami sebagai suatu konsep yang berpusat pada nilai-nilai budaya dan spiritual bangsa (Pancasila, 1945), memudar, akibatnya Bangsa Indonesia memiliki falsafah hidup yang berpusat pada konsep “Pancasila”, dan berbagai filosofi para pujangga Nusantara, mulai dipertanyakan yaitu:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Dengan demikian, bangsa Indonesia dapat membangun identitas masyarakat yang lebih adil dan sejahtera, serta menjaga identitas bangsa , budaya dan spiritual bangsa, agar tidak musnah (Habermas, 1992).

Referensi:

– Anderson, B. (1983). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.
– Bourdieu, P. (1986). The Forms of Capital. In J. G. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education (pp. 241-258). New York: Greenwood Press.
– Cavalli-Sforza, L. L., & Feldman, M. W. (1981). Cultural Transmission and Evolution: A Quantitative Approach. Princeton: Princeton University Press.
– Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures: Selected Essays. New York: Basic Books.
– Habermas, J. (1992). The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society. Cambridge: Polity Press.
– Koentjaraningrat. (1985). Javanese Culture. Singapore: Oxford University Press.
– Linz, J. J., & Stepan, A. (1996). Problems of Democratic Transition and Consolidation: Southern Europe, South America, and Post-Communist Europe. Baltimore: Johns Hopkins University Press.

Dr.Ir Hadi Prajaka SH MH