
Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH.Wartawan Senior dan Aktif di PW ISNU Jawa Timur.
Pada tanggal 7 hingga 8 Februari 2026, Stadion Gajayana Kota Malang menjadi tuan rumah puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah dalam acara Istighotsah Kubro yang diselenggarakan PWNU Jawa Timur.
Dengan tampilan sederhana pakaian putih dan sarungan, mereka berkumpul bukan untuk kepentingan politik, melainkan untuk bermujahadah, berdoa, menghormati para pendiri, dan memperkuat batin dalam rangka memperingati satu abad berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).
*Perjalanan Seratus Tahun NU Sebagai Rumah Besar Umumat*
Acara ini merupakan bagian penting dari peringatan satu abad NU berdasarkan kalender Masehi. Selama masa tersebut, organisasi ini telah melewati berbagai tantangan mulai dari zaman kolonialisme, revolusi kemerdekaan, pergantian rezim, era reformasi, konflik ideologi, hingga era digital. NU bukan sekadar organisasi kemasyarakatan, melainkan telah tumbuh menjadi “rumah besar” bagi umat yang diisi oleh doa-doa para kiai, kerja sunyi para santri, dan khidmah serta pengorbanan jutaan nahdliyin yang konsisten menjaga kokohnya fondasi bangsa.
Pemilihan Kota Malang sebagai episentrum peringatan tidak hanya karena skala acara yang besar, melainkan lebih utama untuk menampilkan ruh NU yang sejati – ruh yang mampu menyatukan dan memberikan kedamaian serta ketenangan bagi seluruh umat.
*Kolaborasi Lintas Elemen Masyarakat*
Acara ini mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak. Pemerintah Malang Raya berperan aktif sebagai mitra penyelenggara, sementara TNI dan Polri turut menjaga keamanan serta ketertiban. Media massa baik cetak, elektronik, maupun digital bekerja sama untuk melakukan liputan objektif, menyebarkan informasi akurat, dan mengkomunikasikan nilai-nilai persatuan serta gotong royong ke seluruh penjuru negara.
Semangat gotong royong terwujud dalam kolaborasi lintas organisasi. Muhammadiyah – yang merupakan saudara tua seperguruan dengan NU, mengingat pendirinya KH Ahmad Dahlan bersama KH Hasyim Asy’ari merupakan murid Syaikhona Cholil Bangkalan – menggelar Aksi-Mu dengan menyediakan sekolah sebagai tempat transit, masjid buka 24 jam, dapur umum, layanan kesehatan, serta dukungan pengamanan bersama.
Semangat persatuan juga terlihat dari sisi agama lain. Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dengan sukarela membuka pintu Majelis Agungnya sebagai ruang transit bagi jamaah, menunjukkan bahwa persaudaraan di tanah air tidak mengenal batasan keyakinan.
*Fasilitas dan Peran Unsur NU*
Pemerintah Malang Raya menyediakan berbagai fasilitas pendukung seperti pengaturan lalu lintas terpadu, air bersih umum, tempat ibadah sementara, dan dukungan logistik lainnya. TNI dan Polri melakukan pengaturan zona keamanan, pengawasan area sekitar lokasi, serta siap membantu evakuasi jika diperlukan.
Berbagai unsur organisasi di bawah naungan NU turut berperan aktif dalam memberikan pelayanan terbaik. Muslimat NU, Ansor, Banser, Fatayat, IPNU, IPPNU, ISNU, PMII, dan Pagar Nusa bekerja sama mendirikan puluhan posko pelayanan, menyediakan mi gelas, kopi, dan camilan sebagai bentuk khidmah.
Kegiatan pelayanan semakin diperkuat oleh Tim Kesehatan NU serta mahasiswa dan siswa dari Lembaga Pendidikan Maarif NU yang terlibat dalam pendataan jamaah, penyediaan tempat istirahat, hingga memberikan bantuan kesehatan dasar.
Selain liputan, media juga berperan sebagai pengawas masyarakat yang konstruktif dengan menyajikan berbagai sudut pandang terkait acara ini dan mengangkat narasi positif tentang kolaborasi antar elemen masyarakat sebagai contoh bagi pembangunan bangsa.
*Makna dan Pesan Penting dari Acara*
Istighotsah Kubro tidak lagi sekadar acara peringatan, melainkan menjadi cermin dari Indonesia yang kita idamkan – sebuah bangsa yang bekerja sama melalui semangat gotong royong, menyelesaikan persoalan dengan kolaborasi erat, dan menjadikan nilai-nilai iman sebagai dasar etika sosial.
NU didirikan dengan tujuan utama untuk melayani seluruh umat, menjaga keutuhan agama, bangsa, negara, dan nilai-nilai kemanusiaan – bukan untuk mendominasi atau dijadikan alat politik. Makna paling penting yang ingin disampaikan adalah bahwa mayoritas nahdliyin tetap konsisten pada “jalan sunyi” yang penuh dedikasi – lebih fokus pada siapa yang perlu dilayani ketimbang memperhatikan siapa yang berkuasa, lebih suka berbagi ketimbang terlibat perselisihan jabatan, dan lebih memilih berzikir bersama ketimbang berteriak di atas mimbar politik.
Ruh NU yang sejati hidup dan berkembang di tengah pelayanan kepada umat: di dapur umum yang disiapkan oleh Muslimat dan Fatayat, di posko pelayanan yang dikelola oleh Ansor serta IPNU-IPPNU, di pos kesehatan yang dijalankan oleh Tim Kesehatan NU, di sekolah yang dijadikan tempat istirahat oleh mahasiswa dan siswa Lembaga Pendidikan Maarif NU, serta melalui berbagai fasilitas yang disediakan oleh pemerintah, TNI, Polri, media, dan tempat ibadah yang terbuka lebar.
*Pelajaran dan Harapan Ke Depan*
Kota Malang memberikan pelajaran berharga: ketika NU kembali pada ruh dasar dan nilai-nilai landasan berdirinya, serta bekerja secara sinergis dengan negara, TNI, Polri, media, dan berbagai elemen masyarakat lainnya, yang akan muncul bukanlah konflik melainkan kepercayaan yang kuat, bukan polarisasi melainkan persaudaraan yang erat, dan bukan kegaduhan melainkan kedamaian yang mendalam.
Di usia satu abad, NU harus menjadi momentum koreksi kolektif – bahwa kekuatan sebenarnya terletak pada kedekatan dengan umat, khidmah akar rumput, kerja sama solid dengan negara dan berbagai lembaga, serta doa yang lirih namun istiqamah. Sebelum membicarakan masa depan bangsa, NU harus melakukan penyatuan diri dan pemurnian internal, meredam ketegangan, serta menjauhi godaan politik. Hanya dengan demikian, NU dapat kembali berperan sebagai penyangga moral bangsa.
Doa-doa dari Stadion Gajayana ditujukan untuk keberlanjutan NU sebagai cahaya yang tenang, keutuhan NKRI, keamanan rakyat, serta kemajuan yang merata. Semoga acara ini menjadi momentum pemurnian hati dan peningkatan kekuatan bagi seluruh umat NU, masyarakat Indonesia, pemerintah, TNI, Polri, media, dan lembaga pendidikan. Semoga kita semua mampu menjaga persatuan, bekerja secara sinergis, dan menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan bangsa.
Semoga TNI dan Polri diberi kekuatan, media menjalankan peran dengan tanggung jawab, dan Lembaga Pendidikan Maarif mencetak generasi berkualitas. Doa kami untuk seluruh umat manusia semoga selalu terlindungi, sehat, dan bahagia.Aamiin. *Wallahul A’lam Bisawabi*
