
Oleh: Dr Ir Hadi PRAJOKO SH MH
Intan dan berlian walaupun terkubur dalam kotoran sapi tetapi mereka tetap lah memancarkan kilau terang sebagai mutu Manikam yang indah, demikian pula dengan jiwa’ murni adalah keabadian yg tidak pernah berubah menjadi kering karena tekanan dan gempuran oleh sugesti, dokma, doktrin serta kultus yg menerpanya terus menerus, karena dia adalah *kesadaran semesta*….. hidup dalam diri sejati nya.
Emas tetap akan memancarkan cahaya walaupun ia menghindari badai, benturan apapun tidak akan menghilangkan warna kemilau kuning nya,
melainkan karena ia bersedia tinggal lama di bawah palu waktu, sepanjang zaman.
Kilauannya mutu Manikam lahir dari ketekunan materi yang menerima proses panjang dari evolusi
bukan dari kilatan singkat yang mencari tepuk tangan sesaat.
Demikian pula investasi kesadaran berfikir yang bijak, dewasa’ dan Waskita, karena
ia adalah praktik rasional yang berpihak pada kesabaran, panduan kehidupan
sebuah disiplin berfikir kritis, ilmiah, menghidupkan Nalar untuk memahami bahwa nilai tumbuh
melalui proses belajar akumulasi, ketahanan, ujian jiwa’, menuju ketentraman dan ketenangan rohani menghadapi volatilitas.
Dalam filsafat waktu, yang bertahan bukanlah yang paling cepat berlari, bukan lah yg Bhatin nya mati, bukannya yg Nalar nya tersesat dalam ruang hampa, karena tekanan sosial dan budaya asing
melainkan yang paling, tekun , sadar dan setia pada proses perubahan.
Investasi yang matang tidak terpikat oleh kilat keuntungan instan, ataupun karena kilau tumpukan harta tetapi
ia memilih cahaya terang,stabil, lahir dari keputusan untuk sadar, iling lan waspada, untuk
pengelolaan risiko, dan kepercayaan diri pada hukum pertumbuhan jangka panjang serta revolusi menuju ketentraman abadi.
Di sanalah kebijaksanaan berdiam,
tenang di tengah guncangan,
setia pada logika, nalar Waras, kesadaran tumbuh, intuitif lahir
Ulet dan sabar membiarkan waktu menyelesaikan pekerjaannya membangun ke-wasakitaan jiwa’
Teruslah berkarya, berfikir kritis, terhadap dinamika kehidupan, jangan dipermainkan oleh jiwa’ dokma dan doktrin rohani asing, temukan jati diri bangsa MU yg murni, untuk membuat sebuah kekuatan keyakinan sendiri, bukan menjadi budak rohani yg bukan dari kesejatian luhur
Dari perspektif ilmiah, konsep “permainan jiwa” dapat dipahami sebagai proses evolusi kesadaran yang kompleks (Cavalli-Sforza & Feldman, 1981). Kesadaran adalah hasil dari interaksi antara genetik, lingkungan, dan budaya (Geertz, 1973)
Dari perspektif budaya, konsep “permainan jiwa” dapat dipahami sebagai proses pembentukan identitas budaya yang unik (Koentjaraningrat, 1985). Budaya adalah hasil dari proses sosial dan sejarah yang panjang (Bourdieu, 1986).
Dari perspektif sosial, konsep “permainan jiwa” dapat dipahami sebagai proses interaksi sosial yang kompleks (Giddens, 1984). Interaksi sosial adalah hasil dari proses komunikasi dan pertukaran simbol (Habermas, 1992).
Dari perspektif filosofis, konsep “permainan jiwa” dapat dipahami sebagai proses pencarian kebijaksanaan dan kesadaran (Platon, 380 SM). Kebijaksanaan adalah hasil dari proses refleksi dan introspeksi (Aristoteles, 350 SM).
Dari perspektif spiritual, konsep “permainan jiwa” dapat dipahami sebagai proses pencarian kesadaran spiritual yang lebih tinggi (Wilber, 2000). Kesadaran spiritual adalah hasil dari proses meditasi dan kontemplasi (Trungpa, 1973)
Dari perspektif antropologi budaya, konsep “permainan jiwa” dapat dipahami sebagai proses pembentukan identitas budaya yang unik (Geertz, 1973). Budaya adalah hasil dari proses sosial dan sejarah yang panjang (Koentjaraningrat, 1985).
Riset ilmiah modern telah menunjukkan bahwa kesadaran adalah hasil dari proses kompleks yang melibatkan genetik, lingkungan, dan budaya (Cavalli-Sforza & Feldman, 1981). Kesadaran juga dapat dipengaruhi oleh proses sosial dan budaya (Bourdieu, 1986).
Referensi:
– Aristoteles (350 SM). Nicomachean Ethics.
– Bourdieu, P. (1986). The Forms of Capital. In J. G. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education (pp. 241-258). New York: Greenwood Press.
– Cavalli-Sforza, L. L., & Feldman, M. W. (1981). Cultural Transmission and Evolution: A Quantitative Approach. Princeton: Princeton University Press.
– Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures: Selected Essays. New York: Basic Books.
– Giddens, A. (1984). The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration. Berkeley: University of California Press.
– Habermas, J. (1992). The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society. Cambridge: Polity Press.
– Koentjaraningrat. (1985). Javanese Culture. Singapore: Oxford University Press.
– Platon (380 SM). The Republic.
– Trungpa, C. (1973). Cutting Through Spiritual Materialism. Berkeley: Shambhala Publications.
– Wilber, K. (2000). Integral Psychology: Consciousness, Spirit, Psychology, Therapy. Boston: Shambhala Publications.
