بسم الله *Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam*

 

Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)

InsyaAllah lafal hamdalah berupa Alhamdulillah sudah sangat sering kita lafalkan. Bagi orang Islam setidaknya sehari melafalkan 17 kali dalam seharinya, yakni dalam fatihah pada tiap roka’at sholat. Tetapi mungkin ada diantara kita yang masih belum bisa meresapi makna kalimat hamdalah tersebut. Sehingga ketika melafalkan masih terasa datar dan belum merasakan betapa dahsyatnya makna kalimat tersebut.

Hamdalah tersebut berada pada QS Al-Fatihah: 2, yakni:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Tafsir ayat ini menunjukkan bahwa segala puji dan syukur hanya milik Allah, karena Dia adalah Pencipta dan Pengatur seluruh alam semesta. Kata “Rabb” (Tuhan) menunjukkan bahwa Allah adalah Pemelihara dan Pengurus semua makhluk. “Al-‘Alamin” (semesta alam) mencakup semua ciptaan Allah, baik di langit, bumi, maupun di antara keduanya.

Tafsir lain dari ayat ini adalah (Midified AI, 2026):
1. Tafsir Ibnu Katsir: Ayat ini menunjukkan bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak dipuji, karena Dia adalah Pencipta segala sesuatu dan Pemberi nikmat kepada semua makhluk.
2. Tafsir Al-Qurtubi: “Alhamdulillah” mencakup puji dengan lisan, hati, dan perbuatan, sebagai pengakuan atas kebesaran Allah dan nikmat-Nya.
3. Tafsir As-Sa’di: Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu memuji Allah, karena pujian adalah fitrah manusia dan tanda kesyukuran atas nikmat-Nya.

Ketiga tafsir tersebut menyoroti dari sudut pandang yang berbeda yakni dari kata segala puji. Hal ini meliputi: Dzat yang dipuji, Sarana yang memuji, dan Fitroh makhluq sebagai tanda bersyukur. Di sini lebih tertarik dengan “segala puji” pada wilayah entitas apa saja yang memuji tersebut. Yakni setiap puji yang dilantunkan oleh semua ciptaan Allah SWT kepadaNya sebagai pencipta.

Seperti lengkapnya bacaan i’tidal dalam sholat, yakni

ربنا ولك الحمد ملء السموات وملء الارض وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Artinya: “Ya Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu.”

Syai’un, entitas, atau sesuatu yang memuji itu adalah diwadahi di dalam dimensi (alam) ruang dan ada dalam dimensi waktu. Syai’un sekecil apapun dalam dimensi ruang itu dan berupa apapun itu memuji Allah SWT. Demikian juga durasi waktu sesingkat apapun itu juga diisi aktifitas memuji pada Allah SWT. Jadi, tidak ada waktu sedetikpun dan ruang sekecil apapun tanpa memuji kepada Allah SWT.

Sungguh akan sangat berbeda rasanya apabila baca’an i’tidal itu kita mampu meresapi seperti demikian, insyaAllah semakin terasa nikmat sholat kita. Jadi kita memuji kepada Allah SWT itu hakekatnya membersamai semua ciptaanNya, di sudut manapun berada dan kapanpun waktunya. Alhamdulillah, semoga kita bisa demikian aamiin.

Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.

Surabaya,
15 Sya’ban 1447
atau
02 Februari 2026
m.mustain