
Dr.Ir. HADI PRAJOKO SH, MH
Sejarah menorehkan karya besar yg dicatat sampai sekarang dan tidak ada yang kemudian mengkritik tulisan tulisan nya.
Karya dua raja Jawa yang menularkan nilai-nilai panduan luhur asketisme Jawa, para raja Jawa yang akan selalu dikenang dengan hormat oleh orang Nusantara dan siapapun yang menyukai dunia olah rohani dan spiritualitas yaitu
1. Pakubuwana IV yg telah mewariskan Serat Wulangreh,
2. Mangkunegara IV mewariskan Serat Wedhatama.
Dua karya sastra serat yang dituliskan oleh dua raja Jawa yang berjiwa Brahmana atau MPU abab ke 19 (pertapa) itu, selalu menjadi referensi dan “standar” bagi sebagian masyarakat untuk mencari guru atau menilik sebuah ajaran Rohani dan spiritual sampai saat ini.
Di jaman konten kreator hari ini , banyak sekali konten medsos orang-orang dari antah berantah (dalam arti tidak jelas silsilah keilmuan dan riwayat bergurunya) yang bermunculkan dan banyak yg bertengkar nasab nasaban dari Bangsa asing khususnya eropa, timur asing dan tengah, mereka lupa bahwasanya leluhurnya telah mampu mewariskan banyak bekal panduan hidup, mereka mengaku dirinya sebagai guru spiritual, mengaku sebagai kepanjangan lidah Tuhan atau wakil Tuhan dari dunia liar, seolah olah dengan ngibul dapat memudahkan menundukkan orang lain menjadi guru spiritual, bahkan presiden saja tunduk untuk mendengarkan fatwa-fatwa nya, layaknya orang mau berjualan es teler dan busa sabun yg mensugesti orang
Akan tetapi mereka-mereka itu, selalu ketika melakukan DOKTRIN lupa bahwasanya (sisi pribadi maupun isi ajarannya) kurang akurat dan akurasi tidak melalui Nalar nurani waras.
Baik lah kita coba standar berfikir dari Serat serat warisan raja trsb seperti karya sastra serat Wulangreh , maupun Serat Wedhatama, serat kasedan jati, Sotasoma, Sapta parwa
Bila dibaca dan dipahami mereka Yg bernasab dari dunia liar Asing tsb sama sekali “belum pantas”, “belum layak”, dan “belum bermutu”, bila disepadankan dg para brahmana dan pujangga Bumi Pertiwi
Marilah orang Nusantara, dan terutama generasi muda-nya, mulai sadar mempelajari kembali karya sastra-spiritual dan rohani tinggalan para pujangga Nusantara, bila ingin jati diri dan martabat bangsa *pulih* agar kita menjadi tahu, bahwa di ratusan tahun silam pun, leluhur Jawa & Nusantara sudah memiliki standar yang tinggi dalam mencari guru rohani panduan hidup dan menilik sebuah pesan luhur ajaran warisan kita sendiri.
Para pujangga Jawa itu tentu saja bukan untuk bermaksud congkak tinggi hati nan sombong, tetapi mereka memang orang yang punya pengandel spiritual yg tajam dan waskita, yang batinnya awas, jiwa’ nya penuh NGLARAS, weruh sak durunge winarah sangat Landep intuitif nya dan jeli untuk memilah guru/ajaran mana yang bermutu dan guru/ajaran mana yang tidak bermutu, mana yang milik kita mana yang itu import dari bangsa liar,
Orang Nusantara saat ini boleh saja merasa lebih intelek oleh metode ilmu barat, dg berbagai sertifikat daripada pendahulunya, tetapi ya mohon maaf, dalam standar berguru spiritual dan menekuni ajaran spiritual serta rohani mereka generasi khususnya Jawa , Sunda, Minang dst saat ini malah sangat jeblok kecerdasannya dalam memilih dan memilah, mati Nalar spiritualitas.
Sebodoh-bodohnya orang Jawa, Sunda, Batak dan Bali serta kaum generasi Nusantara di masa lalu, tidak ada yang sedogmatik dan gampang di KULTUS Nalar Asing, orang Nusantara hari ini dalam mempercayai dogma-dogma halu atau mudah kepincut berguru pada orang dan komunitas Habib yang sangat tidak ber-mutu kualitasnya masih seperti budak belian apakah demikian???, rohani nya musnah dan mati, ….
Semestinya bukan demikian.
Orang Nusantara dahulu tidak sepandir itu!
Termasuk dua generasi ke atas atau mbah-mbah kita saja, mereka juga tidak sebodoh itu. Mereka selalu lebih cerdas dalam berspiritual serta rohani nya WARAS daripada generasi orang Nusantara saat ini….
Dan perlu diketahui Masih banyak berserakan panduan dimana-mana karya sastra lontaran Brahmana dan pujangga agung negeri ini yang dilupakan oleh generasi muda bangsa, seperti Bugis punya (La Lego, beberapa karya Bangsa) Minang yang ditulis moh . Yamin, sabta Parwa Sanghyang, karya Sunda seperti siksakanda Ng Karesyian, dll
Semoga bermanfaat , hidup kan kesadaran INTUITIF
Nuwun
Maju terus pantang mundur
Dr.,Ir Hadi Prajoko SH MH
