
Oleh : Dr.Ir. HADI PRAJOKO SH, MH
membahas tentang kebahagiaan sejati dan bagaimana, jiwa’ mewarnai dan mencapainya??? Dan bagaimana hidup menyelaraskan micro cosmic dan macro cosmic. (Jagat alit dan jagat Ageng)
Seorang filsuf Yunani
Aristoteles mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati (eudaimonia) adalah tujuan akhir dari kehidupan manusia. Menurutnya, kebahagiaan sejati dapat dicapai ketika seseorang hidup dengan kebajikan, akal sehat, moralitas dan tujuan yang jelas, dgn kesadaran murni bahkan Aristoteles menyatakan untuk membedakan antara kebahagiaan yang bersifat hedonis (berkaitan dengan kesenangan) dan kebahagiaan yang bersifat eudaimonik (berkaitan dengan moralitas , kebajikan dan tujuan hidup).
Dari perspektif sosiologis, kebahagiaan sejati dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, budaya, dan ekonomi, dan politik Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki hubungan sosial yang kuat, memiliki pekerjaan yang memuaskan, dan memiliki akses ke sumber daya yang memadai cenderung lebih bahagia daripada mereka yang tidak, berupaya untuk membekali semua itu.
Dalam konteks budaya, nilai-nilai kebahagiaan hidup sejati itu dari prilaku moral yang dibangun dg intuisi kesadaran, bahkan ada narasi luhur *URIP SAKJRONING MATI, MATI SAKJRONING URIP*
Dalam konteks budaya, kebahagiaan sejati dapat dipahami sebagai konsep yang relatif dan dapat berbeda-beda antara budaya yang satu dengan yang lain, Tergantung kondisi wilayah tradisi dimana dia lahir,Misalnya, dalam budaya Barat, eropa kebahagiaan sejati seringkali dikaitkan dengan kebebasan mutlak Dari individu dan pencapaian pribadi, sedangkan dalam budaya Timur, kebahagiaan sejati seringkali dikaitkan dengan rohani, nglaras, harmoni dengan alam dan masyarakat, menyatukan diri dengan sang maha pencipta.
Penelitian ilmiah modern telah menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti:
– *Neurotransmitter*: Dopamin, serotonin, dan endorfin adalah neurotransmitter yang terkait dengan perasaan bahagia.
– *Genetik*: Penelitian menunjukkan bahwa genetik dapat mempengaruhi tingkat kebahagiaan seseorang.
– *Lingkungan*: Lingkungan sosial, budaya, dan fisik dapat mempengaruhi kebahagiaan seseorang.
*Kesimpulan*
Kebahagiaan sejati bukanlah hadiah dari nasib baik, atau Hadiah dari rohaniawan yg suci atau dari mereka yg menyatakan diri nya kepanjangan lidah Tuhan melainkan hasil dari cara hidup yang sadar dan bernilai, serta tuntunan moralitas jiwa Aristoteles mengajarkan bahwa manusia harus berusaha menemukan kebahagiaan ketika hidupnya diarahkan oleh ketauladanan kebajikan, akal sehat, dan tujuan yang jelas. Faktor-faktor pola pikir waras, kesadaran jiwa’ literasi sosiologis, budaya, bahkan dunia ilmiah modern juga dapat mempengaruhi realitas kebahagiaan sejati.
Terima kasih, semoga bermanfaat dan kreatif
Jangan terpasung KULTUS DOKMA dan doktrin yg membunuh akal’ Waras.
Hidup kan NALAR WARAS mu dg KESADARAN
Salam hormat, salam santun.
Merdeka berfikir
NALAR INTUITIF
Hadi Prajaka
