
Prof Mahmud Mustain,
Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Perbedaan diantara sesama nanusia itu niscaya adanya, meskipun bersaudara kandung. Tetapi apabila kita bisa merawat maka perbedaan itu menjadi variasi keindahan yang sungguh membuat hidup ini tidak membosankan. Celakanya apabila kita tidak atau kurang bisa merawat perbedaan maka yang terjadi adalah menjadi sumber sengketa yang bisa berujung pada pembunuhan, na’udzu billah min dzalik.
QS. Al-Hujurat: 9 mensinyalir tentang penyelesaian perselisian yang sampai pada pembunuhan, yakni:
وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِن فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَl
Artinya: “Dan jika ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya menganiaya yang lain, maka perangilah golongan yang menganiaya itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
Tafsir ayat ini memerintahkan umat Islam untuk mendamaikan perselisihan antara sesama mukmin dan berlaku adil dalam menyelesaikan konflik.
QS. Al-Baqarah: 204 dan 205 mengingatkan kita bahwa perkataan manis belum tentu baik, yakni:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
Artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang ucapan-ucapannya tentang kehidupan dunia membuat kamu (Muhammad) tertarik, dan dia bersaksi kepada Allah tentang apa yang di dalam hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila ia pergi, ia berbuat kerusakan di muka bumi dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.”
Tafsir ayat ini menjelaskan tentang orang-orang munafik yang berucap manis, tetapi berbuat kerusakan di muka bumi.
Sedangkan di sisi pelestarian lingkungan QS. Al-A’raf: 56 mensinyalir perihal kerusakan, yakni:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Tafsir: Ayat ini melarang manusia untuk membuat kerusakan di bumi, seperti merusak lingkungan, menebangi hutan, dan lain-lain, setelah Allah memperbaikinya. Sebaliknya, kita harus menjaga dan memelihara bumi dengan baik.
Alhasil, sebesar dan sekecil apapun perbedaan itu ada, maka kita harus bisa mengatur dan merawat menjadikan penyebab datangnya rahmat. Jangan sebaliknya menjadi penyebab datangnya kerusakan dan kesengsaraan. Mari kita lebih berhati-hati lagi dalam berinteraksi sesama saudara kita. Sekecil apapun perbuatan kita akan ada perhitungannya, jangan sampai kita menyesal lantaran tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki.
Semoga pinaringan manfaat barokah selamat aamiin.
Surabaya,
09 Sya’ban 1447
atau
28 Januari 2026
m.mustain
