
Prof Mahmud Mustain,
Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Tingkat kelancaran membaca al-qur’an sangat bergantung pada kemampuan makhorijul huruf dan sering dibaca. Apabila sudah belajar ilmu tajwid dengan baik maka untuk kelancaran membaca tinggal meningkatkan sering membaca. Secara umum kenapa Al-fatihah begitu lancar dan sudah mengalir di lisan. Hal ini karena praktek ajaran tajwid sudah dari kecil dibina ibu (mungkin), kemudian dibaca minimal 17 kali dalam sholat.
Tingkat kelancaran selain itu juga ada unsur ketergantungan terhadap surat dan ayat yang dibaca. Artinya memang ada ayat-ayat yang relatif mudah dibaca dan ada yang relatif susah dibaca. Tetapi betapapun susahnya dibaca, tetap bisa dilancarkan dengan cara sering dibaca. Sehingga ketika ada perintah membaca ayat yang mudah, ini akan juga relatif sulit membedakan mana ayat yang mudah dan mana yang tidak mudah. Hal ini khususnya bagi kita-kita yang sudah betul-betul lancar semua seperti hafidzin hafidzoh yang sudah puluhan tahun hafal Al-qur’an.
Perintah membaca Al-qur’an yang mudah adalah ada pada Surah Al-Muzzammil (73:20), yakni:
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْءَانِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ وَءَاخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَءَاخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ
Artinya: “Sesungguhnya Tuhanmu tahu bahwa kamu berdiri (untuk shalat malam) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiga malam, dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menghitungnya, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an. Allah mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah, dan orang-orang yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.”
Tafsir (Modified Meta AI, 2026):
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT mengetahui bahwa hamba-Nya tidak dapat menghitung waktu malam dengan tepat, sehingga Allah SWT memberi keringanan kepada mereka untuk shalat malam dengan cara yang mudah. Allah SWT juga mengetahui bahwa ada di antara hamba-Nya yang sakit, bepergian, atau berperang, sehingga Allah SWT membolehkan mereka untuk membaca Al-Qur’an sesuai dengan kemampuan mereka.
Tafsir Ringkas (Imam Ibnu Katsir & Al-Qurtubi):
1. Kontekstual:
– Ayat ini turun setelah perintah shalat malam (Qiyamul Lail) yang berat di awal Islam. Allah SWT memberi keringanan karena umat belum kuat.
– “Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an”, tidak diwajibkan jumlah rakaat tertentu, tapi fokus pada tilawah (membaca) Al-Qur’an sesuai kemampuan.
2. Pesan Utama:
– Kemudahan dalam Ibadah: AllahSWT tidak membebani hamba melebihi kemampuannya.
– Fleksibilitas:
– Sakit, maka membaca Al-Qur’an sambil berbaring.
– Bepergian, maka membaca saat istirahat.
– Berperang, maka tetap mengingat Allah SWT meski dalam kondisi genting.
3. Hikmah:
– Tilawah Al-Qur’an adalah ruh ibadah.
– Prioritas: Yang terpenting adalah niat, kehadiran hati, dan usaha maksimal sesuai kondisi.
4. Penerapan dalam Kehidupan
-Jika sibuk: Baca 1-2 ayat dengan tartil.
-Jika sakit: Membaca sambil duduk/berbaring, atau mendengarkan murottal.
-Jika dalam perjalanan: Membaca di sela-sela istirahat.
Ayat ini sering dijadikan dalil bahwa ibadah tidak harus berat, yang penting keikhlasan dan kemampuan. Dengan demikian mari kita selalu berusaha meningkatkan ibadah kita, dalam hal khusus sholat dan membaca Al-Qur’an. Semoga bisa demikian aamiin.
Semoga pinaringan manfaat barokah selamat aamiin.
Surabaya,
26 Rojab 1447
atau
15 Januari 2026
m.mustain
