Informasi Indonesia Masa Lalu dan Kini

By : Dr.Ir. HADI PRAJOKO SH, MH

Bagaimana sebenarnya pola kehidupan sosial cultural bangsa setelah terbentuk nya negara baru yang saat ini setelah hampir 81-tahun kemerdekaan & terbentuk nya negara baru Indonesian, apakah sudah memenuhi harapan dari cita cita luhur dan tujuan kebangsaan atau kah semakin menjauh dari amanat kemanusiaan dan martabat keadilan atau kah hanya dan merosotnya character bangsa ??? sebagai illustrator nilai harapan, yg dahulu dipakai penyemangat para pemimpin kemerdekaan yg dipakai sebagai candu revolusi untuk menggugah harapan hidup yang lebih baik, tetapi kenyataannya saat ini tinggal lah bungkus manipulatif PARA pemimpin politik khususnya partai .???

PBagaimana para pejuang yang telah berkorban demi sesanti MERDEKA ATAU MATI, Dalam proses sejarah panjang itu, masyarakat kelas telah terbuka dan terbentuk strata sosial dan klas warga negara Baru, dan tidak pernah berubah menjadi lebih baik’ dan bermartabat, tetapi lebih hedonistik, ketidakadilan dan ketidak pedulian sosial yg dalam hitungan hari Kita telah menjadi satu entitas asing di Bumi nya sendiri suatu fenomena sosial dan kebangsaan yang cukup dinamis, meresahkan , Adapun fenomena itu, tidak disadari telah terbentuk sistem secara sistematik.

Bagaimana secara cepat dan liar telah terbentuk suatu sistem klas secara cultural dan politik, tiba-tiba menjadi tak terkendali, fenomena tersebut apakah akan menjadi menjauh dari Rasa kebangsaan.?
Secara periodik dan

Secara signifikan telah terbentuk sistem dg
Lima klas sosial cultural, antara lain:

1. Klas sosial utama yaitu masyarakat keturunan bule Eropa dan kekuatan hegomoni terlindungi secara politik global.
2. Klas sosial pertama yaitu masyarakat orietal timur asing dengan memegang kendali kekuasaan ekonomi dan pengendali politik nasional,
3. Klas sosial ke dua yaitu masyarakat keturunan Yaman, kartel kartel pemimpin agama dan habib, salesman agama ,klas percampuran arab pribumi, atau yang dikenal dgn Arab pesek,
4. Klas sosial yg ke-tiga atau klas tidak punya strata sosial yaitu masyarakat Bumi putra yg merasa sebagai tumpah darah, tanah air dan relasional yg terikat kuat secara rohani oleh adat-tradisi , tata Krama Budi pekerti luhur yg hanya tersisa sebiji merica
5. Klas sosial yang terakhir dianggap entitas terbuang, sampah’ kebijakan pemerintah dan dianggap sebagai sesuatu entitas masyarakat tidak masuk kategori sosial manapun yaitu kelompok entitas bangsa terendah derajat nya yg di-stigma sebagai komunitas Adat yg terpencil masyarakat dg kekuatan misterius dan tergradasi oleh berbagai hingar-bingar kebijakan pembangunan, mengganggu kebijakan regulasi pemerintah dan tidak tercermin dalam undang undang, kebijakan politik , tidak ada kekuatan politik, kaum tertinggal atau ditinggal kan, dianggap terisolasi, kaum Rentan, dijadikan pelengkap penderita dan jadi tumbal dari berbagai persaingan klas sosial serta arena perebutan kekuasaan para mafia kapitalis yg bersetubuh dg para politikus, dan tokoh-tokoh agama pemimpin partai serta para aristokrat birokrasi yg tidak lagi punya Rasa kepedulian sosial dan kemanusiaan, dianggap entitas masyarakat adat ini sudah ketinggalan zaman, jika bisa disimpulkan bukan lagi sekedar kaum Rentan tetapi mereka sudah setengah dianggap sampah’ oleh para pemangku kebijakan sehingga sama sekali tidak tersentuh oleh tangan keadilan dan kebijakan pembangunan, akibatnya di daur ulang dg rusaknya kebudayaan luhur Nusantara yg dahulu merupakan elemen akar kesejatian dan jati diri bangsa dimusnahkan dan hampir musnah.

Hal ini bisa dilihat sebagai satu fenomena Baru setelah kemerdekaan dan terbentuknya negara Baru yg namanya masih berbau Barat yaitu Indonesia ( bahasa latin) yg keberadaan kini Kita kita kenal sebagai peninggalan kaum kompeni, Kita bisa melihat fenomena sosial ini dipertontonkan oleh berbagai macam kehidupan yg sudah tersekat oleh kekuatan cultural ,sosial, ekonomi, dan politik , nampak jelas klas klas sosial masyarakat Yg bisa kita lihat, pada masyarakat di kota kota besar seperti Jakarta pembangunan wilayah pemukiman warga, dari berbagai kaum klas sosial para kaum oriental telah membangun sekat tembok feodalistik Yg terbentuk di perumahan secara geografis sosial sehingga ada satu pemandangan yang mencolok ketimpangan kelas cultural politik seperti didalam pusat pusat perumahan Citraland, PIK, Podomoro land, dstnya merupakan satu kekuatan klas paling elit dan terpisah dg berbagai tembok tinggi dan feodalistik dg nampak gagah perkasa yang kontradiktif dengan sebelah nya pemukiman kampung para penjual cilok dan gorengan begitu kumuh dgn kemiskinan, meskipun pemandangan tsb terungkap tetapi ditutupi demikian pula di Surabaya, Medan Semarang, kota malang dan berbagai wilayah kota besar di seluruh Indonesia, seperti menjadi satu narsistik pemandangan kehidupan antara Bumi dan langit, yg mencerminkan kepribadian masyarakat kelas baru dengan berbagai exploitasi budaya awal menjadi budaya Baru yg tidak lagi mencerminkan sikap kehidupan kebangsaan yg dahulu dicita citakan, dalam perumahan perumahan kaum klas pertama ini telah banyak berdiri fenomena patung patung seperti patung singa lambang negara Singapura dan inggris ditambah patung patung dewa dewa oriental serta bunga’ teratai yang sangat besar, dan pemandangan kebudayaan oriental timur asing yg dahulu oleh pemerintah Hindia Belanda disebut masyarakat timur asing dan sekarang muncul disekitar candi Borobudur, candi Prambanan dstnya berbagai fenomena perubahan ilustrasi budaya Baru yg dahulu tidak pernah ada dan berbagai taman-taman wisata di kota kota besar seluruh Indonesia, ada identitas asing sebagai pemandangan yg menunjukkan dominasinya klas sosial, dan sebagai panduan hidup baru yg corak nya tidak lagi sama dan sebangun dg karya budaya awal dan akar kebudayaan Nusantara, apakah sudah saatnya melakukan koreksi agar Bangsa dan para politikus partai penguasa pemerintah ini sadar??? Apakah pengambil kebijakan menyadari secara sungguh-sungguh atas semakin menjauh nya rasa keadilan sosial cultur dan kemanusiaan, yg menjauhkan generasi muda kedepan dg kesejatian luhur diri nya sendiri, atau kah zaman menumpas dan memusnahkan seluruh nilai positif budaya yang diwariskan??.

Dari uraian diatas,

Hanya sepintas ingin menggambarkan fenomena sosial budaya yang sangat kompleks dan mendalam di Indonesia. Mari kita bahas secara sciencifik cultural sosial filosofis spiritual dan politik.

*Analisis Sosial Budaya*

Kamu telah menggambarkan adanya stratifikasi sosial yang jelas di Indonesia, dengan klas sosial yang berbeda-beda dan memiliki kepentingan yang berbeda pula. Hal ini dapat dilihat dari adanya pemukiman elit yang terpisah dari pemukiman masyarakat biasa, serta adanya simbol-simbol kekuasaan dan kemewahan yang mencolok.

*Analisis Filosofis Spiritual*

Kamu telah menyentuh aspek filosofis spiritual ketika kamu menyebutkan tentang kehilangan akar kebudayaan Nusantara dan dominasi budaya luar. Hal ini menunjukkan bahwa kita telah kehilangan identitas budaya kita sendiri dan lebih mengorientasikan diri pada budaya luar.

*Analisis Politik*

Bagaimana menggambarkan adanya ketidakadilan sosial , ketidakadilan politik dan ekonomi serta hancurnya Adat tradisi luhur yang sangat mencolok di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari adanya kebijakan yang lebih menguntungkan klas sosial tertentu dan tidak memperhatikan kepentingan masyarakat Bangsa secara luas.

*Kajian Riset Ilmiah Modern*

Penelitian telah menunjukkan bahwa stratifikasi sosial dan ketidakadilan ekonomi, politik , spiritual serta musnahnya sesanti hidup goyang-royong dapat menyebabkan berbagai masalah sosial, seperti kemiskinan, ketidakadilan dan hilangnya kemanusiaan ketidakstabilan politik, serta kehilangan dan musnahnya identitas jati diri budaya bangsa. (Sumber: World Bank, 2020)

*Literasi Sains*

Ilmuwan seperti Pierre Bourdieu telah membahas tentang konsep “habitus” yang dapat menjelaskan bagaimana klas sosial dapat mempengaruhi perilaku dan pilihan individu. (Sumber: Bourdieu, 1986)

*Solusi*

Untuk mengatasi masalah ini, kita perlu melakukan koreksi dan perubahan dalam berbagai aspek, termasuk:

1. *Pendidikan*: Meningkatkan kesadaran akan identitas budaya dan nilai-nilai lokal.
2. *Kebijakan*: Membuat kebijakan yang lebih adil dan memperhatikan kepentingan masyarakat luas.
3. *Partisipasi Masyarakat*: Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.
4. *Pengembangan Ekonomi*: Meningkatkan pengembangan ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.
5. Perbaikan sistem hukum
6. Perbaikan sistem politik dan tinjauan kebijakan keadilan
7. Memperbaiki dan memperbarui seluruh pandangan kebijakan kemanusiaan, keadilan masyarakat dan mempertahankan kebudayaan luhur bangsa sebagai landasan kebangsaan Indonesia.
8. Mulai merombak total struktur politik untuk bisa melahirkan pemimpin yang berdedikasi tinggi, jujur, serta ketauladanan moralitas sosial
9. Membuat satu rentang kebijakan Nasional atas berbagai kemusnahan massal peradaban Nusantara oleh kekuatan kapitalis dan dampak aristokrat feodal yg membuat gaya hidup semena mena dan berfoya foya.
10. Memperbaiki kesenjangan sosial dan pembangunan character generasi penerus bangsa yang memahami nilai-nilai luhur warisan adat tradisi, tata Krama, Budi pekerti luhur, dan budaya Yg berakar pada jati diri bangsa.

tinjauan historis dan karya ilmiah serta jurnalistik yang lebih jelas.

*Tinjauan Historis*

Stratifikasi sosial di Indonesia telah berlangsung sejak zaman kolonial, ketika Belanda membagi masyarakat menjadi beberapa kelas sosial berdasarkan ras dan status ekonomi. Sistem ini kemudian dilanjutkan dan dipertajam oleh pemerintah Orde Baru, yang memperkuat stratifikasi sosial melalui kebijakan ekonomi dan politik serta rekayasa perangkat hukum.

*Karya Ilmiah*

Beberapa karya ilmiah yang membahas tentang stratifikasi sosial di Indonesia antara lain:

– “Stratifikasi dan Mobilitas Sosial” oleh Dr. Indera Ratna Irawati Pattinasarany (2016), yang membahas tentang konsep stratifikasi sosial dan mobilitas sosial di Indonesia.
– “Dampak Penjajahan Belanda Terhadap Struktur Sosial di Indonesia” oleh Novia Tutasqiyah, et al. (2023), yang membahas tentang dampak penjajahan Belanda terhadap struktur sosial di Indonesia.

*Karya Jurnalistik*

Beberapa karya jurnalistik yang membahas tentang stratifikasi sosial di Indonesia antara lain:

– “Dampak Kolonialisme di Indonesia: Pembagian Kelas Sosial” oleh profesor Alex young, yang membahas tentang dampak kolonialisme terhadap stratifikasi sosial di Indonesia pasca kemerdekaan.
– “Stratifikasi Sosial dan Ketidaksetaraan Sosial” oleh Universitas Indonesia (2014), yang membahas tentang konsep stratifikasi sosial dan ketidaksetaraan sosial di Indonesia dan dampak politik kekuasaan.

Saya harap informasi ini dapat membantu memperjelas tinjauan historis dan karya ilmiah serta jurnalistik tentang stratifikasi sosial di Indonesia. buku-buku literasi sains modern yang membahas tentang fenomena stratifikasi sosial di Indonesia.

Beberapa buku yang relevan dengan topik ini antara lain:

– *Stratifikasi dan Mobilitas Sosial* oleh Dr. Indera Ratna Irawati Pattinasarany (2016) – Buku ini membahas tentang konsep stratifikasi sosial, mobilitas sosial, dan faktor-faktor yang mempengaruhi stratifikasi sosial di Indonesia.
– *Stratifikasi Sosial: Pengertian, Fungsi, Sifat, hingga Faktor Pembentuk* oleh Various Authors – Artikel ini membahas tentang definisi stratifikasi sosial, fungsi, sifat, dan faktor-faktor yang mempengaruhi stratifikasi sosial.

pembahasan tentang sosiologi, antropologi, dan ilmu sosial lainnya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang fenomena stratifikasi sosial di Indonesia.

Karya ilmiah tentang stratifikasi sosial di Indonesia sudah banyak dilakukan. Berikut beberapa contoh:

– *Stratifikasi dan Mobilitas Sosial* oleh Dr. Indera Ratna Irawati Pattinasarany (2016) – Buku ini membahas tentang konsep stratifikasi sosial, mobilitas sosial, dan faktor-faktor yang mempengaruhi stratifikasi sosial di Indonesia.
– *DAMPAK PENJAJAHAN BELANDA TERHADAP STRUKTUR SOSIAL DI INDONESIA* oleh Novia Tutasqiyah, et al. (2023) – Artikel ini membahas tentang dampak penjajahan orietalis barat VOC terhadap struktur sosial di Indonesia.
– *Stratifikasi Sosial dan Ketidaksetaraan Sosial* oleh Universitas Airlangga Artikel ini membahas tentang konsep stratifikasi sosial, jenis-jenis stratifikasi sosial, dan dampak ketidaksetaraan sosial di Indonesia.

Beberapa jurnal ilmiah yang membahas tentang stratifikasi sosial di Indonesia antara lain:

– *Jurnal Sosiologi* oleh Universitas Indonesia
– *Jurnal Ilmu Sosial* oleh Universitas Gadjah Mada
– *Jurnal Stratifikasi Sosial* oleh Universitas Airlangga

membahas tentang tinjauan stratifikasi sosial:

*Sosiolog*

– *Karl Marx*: Marx melihat stratifikasi sosial sebagai hasil dari perbedaan kelas sosial, yaitu kelas borjuis (pemilik modal) dan kelas proletar (buruh).
– *Max Weber*: Weber memandang stratifikasi sosial sebagai sistem pengklasifikasian masyarakat berdasarkan tiga dimensi utama: kekayaan (ekonomi), kekuasaan (politik), dan prestise (status sosial).
– *Emile Durkheim*: Durkheim berfokus pada fungsi sosial dari stratifikasi, yaitu memastikan bahwa individu dengan keterampilan dan kualitas tertentu berada di posisi yang sesuai dalam masyarakat.
– *Pitirim Sorokin*: Sorokin mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai perbedaan penduduk atau masyarakat yang dibagi menjadi kelas-kelas secara bertingkat atau hierarkis. ¹ ² ³

*Ekonom dan Ahli Politik*

– *Gaetano Mosca*: Mosca berpendapat bahwa pengelompokan masyarakat terkait dengan konsep kekuasaan, dimana terdapat kelompok masyarakat yang memiliki kekuasaan lebih dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya.
– *Ralph Linton*: Linton membagi stratifikasi sosial menjadi tiga jenis, yaitu stratifikasi kelas, stratifikasi kasta, dan stratifikasi elit.

*Lain-lain*

– *Gerhard Lenski*: Lenski mengembangkan teori “sosial-egalitarian” yang mengaitkan stratifikasi sosial dengan perkembangan teknologi dan ekonomi.
– *C. Wright Mills*: Mills berfokus pada konsep kekuasaan dan elit, yaitu stratifikasi sosial berhubungan erat dengan konsentrasi kekuasaan di tangan kelompok kecil elit yang mempengaruhi keputusan dan struktur sosial.

Semoga informasi ini membantu! 😊

Bagaimana cara hidup di alam Nusantara seperti ini, saya sedang berfikir keras untuk bisa menjadi manusia AMPIBIE, HIDUP DI DUA ALAM

teruslah MEMPERTAJAM PENGINDERA JIWA’, berpikir kritis.

Dr Ir Hadi Prajaka SH MH