Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim: Pendidikan Moderasi Sebagai Kunci Transformasi Bangsa.

Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH Wartawan Senior dan Aktif di PW ISNU Jawa Timur.

Sosok Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim bukan hanya dikenal sebagai tokoh pendidikan Islam terkemuka, tetapi juga sebagai pelopor gerakan transformasi pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai moderasi dengan kebutuhan zaman. Sebagai Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Pusat, pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, dan pendiri perguruan tinggi, beliau telah menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi alat utama untuk membangun sumber daya manusia unggul dan memperkuat persatuan bangsa.

Penganugerahan Bintang Mahaputera Nararya oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2025 di Istana Negara menjadi bukti resmi atas kontribusi luar biasa beliau dalam memajukan sektor pendidikan dan pengembangan peran pesantren dalam pembangunan nasional.

*Latar Belakang Perjuangan*

Lahir di Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat, pada 16 Juli 1955, Prof. KH. Asep Saifuddin Chalim adalah putra dari KH. Abdul Chalim, salah satu pendiri besar Nahdlatul Ulama (NU). Beliau menempuh pendidikan formal dan non-formal dengan penuh dedikasi, mulai dari menimba ilmu di berbagai pesantren ternama seperti Pondok Pesantren Cipasung, Sono, Siwalanpanji, Gempeng, hingga Darul Hadits. Pada jenjang pendidikan tinggi, beliau menyelesaikan studi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya, IKIP Malang, Universitas Islam Malang, dan Universitas Merdeka Malang, sebelum meraih gelar doktor dan kemudian diangkat sebagai Guru Besar Bidang Sosiologi di UIN Sunan Ampel pada 29 Februari 2020.

Dalam acara pengukuhan tersebut, Presiden Joko Widodo pada masa itu menyampaikan apresiasi atas kontribusi beliau dalam mengembangkan studi Islam dan model pendidikan inovatif. “Guru besar adalah bentuk pengakuan akademik tertinggi atas kontribusi beliau dalam membangun manusia unggul dan berakhlakul karimah,” ujar Jokowi saat itu.

*Kiprah Pendidikan Dan Kelembagaan*

Prof. KH. Asep Saifuddin Chalim mendirikan Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang kini berkembang menjadi lembaga pendidikan besar dengan dua lokasi utama di Surabaya dan Pacet, Mojokerto. Saat ini, pesantren tersebut memiliki lebih dari 10 ribu santri dan mencakup jenjang pendidikan dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga perguruan tinggi, termasuk Universitas KH. Abdul Chalim (UKHAC) yang menyelenggarakan program Sarjana (S1), Pascasarjana (S2), dan akan membuka program Doktor (S3) pada tahun akademik 2026/2027.

Selain itu, beliau juga mendirikan Sekolah Gratis Hikmatul Amanah yang telah memberikan akses pendidikan bagi sekitar 1.000 anak dari keluarga kurang mampu. Beliau pernah menjabat dalam berbagai posisi strategis, antara lain sebagai Ketua Umum PERGUNU Jawa Timur, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surabaya, serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya sebelum akhirnya mundur untuk fokus pada pengembangan pendidikan.

*Peran Pergunu Dalam Transformasi Pendidikan*

Sebagai pemimpin PERGUNU, Prof. KH. Asep Saifuddin Chalim membawa organisasi ini menjadi kekuatan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Indonesia. Pada Kongres II PERGUNU yang diselenggarakan di Pesantren Amanatul Ummah Pacet pada 29 Oktober 2016, beliau secara musyawarah mufakat dipercaya melanjutkan kepemimpinannya untuk masa khidmat 2016-2021, kemudian diperpanjang hingga saat ini.

Di bawah kepemimpinannya, PERGUNU melaksanakan berbagai program strategis, antara lain:

– Pengembangan metode pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi digital dan kearifan lokal
– Program Teacher-Preneur untuk memberdayakan guru menjadi wirausahawan berbasis ekonomi kerakyatan
– Transformasi pesantren dengan fokus pada pelayanan aman, peningkatan mutu keilmuan, dan responsivitas terhadap perkembangan zaman
– Program beasiswa yang meliputi jenjang pendidikan dari tingkat menengah hingga pascasarjana

Pada perayaan Hari Santri Nasional tahun ini yang diadakan di Lapangan Besar Pahlawan Nasional KH. Abdul Chalim, Pacet, Mojokerto, beliau menyampaikan visi untuk melibatkan santri dalam misi perdamaian internasional, khususnya di Palestina. “Kami mengapresiasi upaya Presiden Prabowo dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina dengan mengirimkan 20.000 pasukan penjaga perdamaian dan berharap santri dapat berkontribusi dalam upaya kemanusiaan tersebut,” jelasnya.

*Program Beasiswa*

PERGUNU telah membuka pendaftaran program beasiswa tahun 2026 yang akan diselenggarakan bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi ternama, antara lain Universitas KH. Abdul Chalim Pacet, Universitas Wahid Hasyim Jakarta, dan UIN Sunan Ampel Surabaya. Program beasiswa tersebut mencakup:

– Beasiswa S1-S3: Dengan kuota 500 kursi, fokus pada jurusan pendidikan, ekonomi syariah, teknologi informasi, dan kedokteran gigi
– Beasiswa Pelatihan Profesi Guru: Khusus untuk anggota PERGUNU dengan materi sertifikasi guru dan pengembangan metode pembelajaran digital
– Beasiswa Santri Berprestasi: Diberikan kepada santri berprestasi dengan kesempatan studi banding ke negara-negara seperti Malaysia, Turki, dan Mesir

Pendaftaran dapat dilakukan secara daring melalui situs resmi PERGUNU di www.pergunu.or.id mulai bulan Januari 2026.

*Inovasi Dan Nilai Moderasi*

Pesantren Amanatul Ummah terus mengembangkan inovasi pendidikan, antara lain dengan menghadirkan Kampus Digital Pesantren yang memungkinkan santri mengakses materi pembelajaran secara daring, serta Koperasi Santri yang mendidik kemampuan kewirausahaan. Beberapa produk inovasi dari santri, seperti bio-baterai dari buah pinus, sabun anti-bakteri dari limbah kulit pisang, dan minuman soda alami dari daun pinus, telah meraih penghargaan di tingkat nasional dan internasional.

Beliau senantiasa menekankan pentingnya nilai-nilai moderasi Islam yang dianut NU: tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang), i’tidal (adil), dan tasamuh (toleran). “Nilai-nilai ini menjadi kekuatan utama dalam menjaga Pancasila dan persatuan bangsa di tengah tantangan zaman,” ujarnya.

Kontribusi Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim dalam dunia pendidikan tidak hanya terbatas pada pengembangan kelembagaan, tetapi juga pada pembentukan generasi muda yang memiliki integritas, kompetensi global, dan komitmen terhadap keutuhan negara. Melalui kerja keras dan dedikasi beliau, pendidikan Islam di Indonesia semakin menunjukkan peran pentingnya sebagai motor penggerak pembangunan nasional yang berkelanjutan.

“Dengan pendidikan yang berkualitas dan berlandaskan nilai-nilai kebangsaan, kita yakin Indonesia akan mampu menghadapi tantangan global dan menjadi negara yang adil, makmur, dan sejahtera,” tutupnya.****