Masih Ada Waktu Saudaraku Aceh dan Sumbar

By Yoyok Sp.

Seperti hari – hari yang lalu
Kuscroll tic toc mencari pangung hiburan memuaskan diri Tuk melumuri penat yang muncak
Dikecamuk beban hidup yang makin tak pasti
Seperti biasanya panggung tic toc menawarkan berbagai rasa
Senyum, getir, kemarahan bahkan moleknya perempuan seksi
Namun pada kepulan cigaret kesekian yg asabnya menjanjikan mimpi diruangan tamu rumahku
Ku dapati banjir bandang di pulau sumatra

Benarkah ?
Sumpah aku tidak percaya
Karena Minggu Minggu ini selalu disuguhi hidangan Aceh merdeka
Dan undat undat Budi lainnya
Mungkin orang lain upload banjir didaerah lain untuk membullymu
Namun semuanya
Adalah benar
Dan…
Ayat ayat tuhanpun
Diturunkan
Begitu terang digelar digunung – gunung
Sungai bahkan kota kota besar
Agar jelas terbacanya
Agar belajar dari
Swaradwipa
Adalah Pulau emas bukankah itu lebih lndah daripada Sumatra
Namun semua lebih memilih Sumatra
Yang diartikan bebas SU dalam bahasa jawa baik
Dan matra, bisa mantra ( doa ), atau matra ( tingkatan derajad )
Yang jelas nama adalah doa
Swaradwipa mengapa justru dikubur hidup – hidup
Dan memilih Sumatra yg lebih disucikan
Lihatlah semuanya
Hanya jadi ritual yg indah di mimbar mimbar agama
Politikpun dibungkus agama
Teriakan merdeka dari Aceh yang dibungkus agama
Keserakahan disumatra tanpa batas
Memenggal batang demi batang hutan raya
Kerakusannya jadi siklus barbar kepada bukit dan gunung
Tontonan orang – orang Jakarta jadi tuntunan daerah
Pengambilan pesugihan masal ini wadalnya tidak lagi satu manusia namun bumi
Aceh
Ada apa denganmu
Belum cukupkah sunami tahun 2004 lalu
Saat para elit politik sibuk merdeka
Diaarrrr
Lautpun murka
Menelan apapun tanpa memilih baik dan buruk
Tangisannya membelah langit
250. 000 nyawa
Tak mampu kau pelajari
Bahkan sampai kini
Hanya sibuk ritual Doa merdekapun Kau bungkus atas nama kemakmuran dan agama
Kemunafikan tak pernah dapat ampun
jahanam terdalam adalah tempatnya
Jangan lagi doa jadi promosi baju surga
Jangan lagi tutur halus terbungkus agama hanya jadi etalase dipublik
Namun jadikan ruh di sanubari keillahian
Sebab tuhan adalah keniscayaan
Tuhan adalah hukum alam
Hukum fisika
Siapa yang menabur pasti panen
Swaradwipa adalah pulau emas
Tanpa doa
Tanpa permintaan
Sudah jadi milik kita
Jangan lagi memilih Sumatra yang masih berkutat pada doa

Aceh
Sumbar
Melihat air matamu tumpah di bumi swaradwipa
Dan tubuhmu yang terseret bandang
Mengapung tanpa daya
Jadi tragedi keduamu

Keluarga yang merintih, gigilan daging tubuhmu di bukit sunyi tanpa makanan
Tanpa sinyal bak berhadapan dengan singa lapar
Tanpa prosesi pemakaman

Ini bukan ujian karena Tuhan sayang kita
Ini bukan lagi peringatan
Tapi hukuman kedua setelah sunami
Aceh
Sumbar
Kalian adalah saudaraku
Lukamu adalah lukaku
Getirmu juga getirku
Hatimu adalah hatiku
Mari kita tulis ulang sejarah Nusantara kita
Sembahlah alam
Disetiap pembangunan tanpa bertanya

Nganjuk,
2 Desember 2025
Yoyok SP