Bapak Ismail Nachu Bicara Tentang Anang Prasetyo Pameran Tunggal

Pengantar oleh Bapak Ismail Nachu @⁨Fpb Ismail Nachu⁩ pada Pameran tunggal 4 Anang Prasetyo 29 Nopember s.d 4 Desember 2025
( Pameran masih berlangsung )

Saya kenal Mas Anang Prasetyo dari jauh. Dan rupanya WA yang kemudian mendekatkan. Kalau tidak salah ingat, awal perkenalan di pertemuan FPB (Forum Peduli Bangsa) yang dimotori oleh guru saya, Allahu Yarham KH. Mahfudz Zaubari, pengasuh Pesantren Riyadul Jannah Pacet – Mojokerto. Dari sini, saya kemudian mengetahui, kalau Mas Anang selain mengabdi sebagai seorang guru di kota kelahirannya Tulungagung, juga seorang pelukis. Yang terakhir bagi saya sangat spesial.

Sebagai seorang yang namanya tercantum di jajaran pengurus Presedium Nasional IKAPETE (Ikatan Alumni Pesantren Tebuireng), saya tentu saja mempunyai cukup banyak teman yang disebut santri. Namun yang istiqomah jejek-madep menekuni bidang melukis, boleh dibilang tidak banyak, misalnya dibanding yang menjadi pembaca al-Quran, bisa qari’ atau qari’ah. Di IKAPETE ada Mas Rozy dan beberapa lagi yang tidak banyak, dan mohon maaf saya tidak ingat nama-namanya. Lantas apa spesialnya santri yang melukis?

Sebagai orang beriman, kita semua mempercayai, bahwa sesungguhnya Tuhan Sang Pemilik Jagat Raya benar adanya. Akan tetapi untuk mengetahui adanya Tuhan, kita sebagai mahluq yang dhoif hanya bisa mengetahui melalui wasilah dari Ayat-ayat-Nya atau Tanda-TandaNya. Terdapat dua Ayat adanya Tuhan, yaitu Ayat Qauliyah, berupa Kitab Suci, dan Ayat Kauniyah, berupa bentangan jagat raya sebagai ciptaanNya.

Nah, apabila seorang qari’ atau qari’ah selalu melantunkan Ayat-Ayat Qauliyah Tuhan, maka sejatinya sang pelukis juga senantiasa melantunkan Ayat-Ayat Kauniyah Tuhan. Demikian pula misalnya dengan, seorang peneliti mikrobiologi atau astronomi dan sebagainya. Semuanya memanifestasikan makna keindahan dan kemuliaan dari kehidupan. Maka apapun bentuk pekerjaan adalah suatu keindahan kemuliaan asalkan dipersembahkan sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Mulia dan Indah.

Di sini Tuhan berkata:
Inna Allaha Jamilun, Yuhibbul Jamal — sesungguhnya Tuhan itu Maha Indah, dan mencintai keindahan.

Pada senin, 24 Nopember 2025, pukul 15.58 yang berarti kurang delapan jam lagi kita semua merayakan satu Hari Guru Nasional (HGN) ke-80, saya membuka WA. Rupanya pada pukul 09.49 tadi pagi ada WA masuk di HP saya dari Mas Anang. Mas Anang mengabarkan insya Allah akan mengadakan Pameran Tunggal Lukisan dengan tema: Tak Sengguh Kemanten Anyar – dari penggalan syair lagu Gundul-Gundul Pacul yang konon karya Sunan Kalijaga. Sungguh saya bersyukur kepada Tuhan dan memberikan apresiasi kepada Mas Anang.

Selanjutnya saya disergap rasa gemerinsing, rupanya kabar dari Mas Anang sekaligus permintaan agar supaya saya bersedia memberi kata sambutan plus membuka Pameran Tunggal Mas Anang kali ini. Saya pun langsung menjawab di WA :

“Subhanallah,…

Sejujurnya Mas Anang, ibarat lukisan, saya ini lukisan sing ora rampung alias belum jadi. Jadinya tidak memiliki standing position untuk memberi sambutan plus membuka pameran lukisan sing wis rampung. Opo mene tema-e jero tenan.

Apa kata dunia nanti:, wong tiwase lukisan sing ora rampung mengomentari lukisan sing wis rampung. Bisa-bisa akan jatuh pada absurditas ala Albert Camus.

Karena itu, monggo Mas Anang mencari orang lain dulu. Namun bila akhirnya tidak ketemu, berarti memang Gusti Allah ingkang ngersa-ake. Bismillah saya sedia.”

Alfakir,
CM